Connect with us

INTERNASIONAL

AS Bangun Pangkalan di Papua Nugini, Jerry Sambuaga: Itu Bisa Ganggu Stabilitas Politik Indonesia

Published

on

Istanbul – Anggota Komisi I DPR Jerry Sambuaga angkat suara terkait dengan rencana kerjasama Amerika Serikan (AS) dan Australia membangun pangkalan Angkatan Laut baru di Papua Nugini. Jerry meminta pemerintah mewaspadai militerisasi di kawasan Asia Pasifik seperti direncanakan AS tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya melalui Wakil Presiden AS Mike Pence saat kunjungannya ke Papua Nugini, Sabtu (17/11/2018) lalu.

“Kami pikir, ini aksi yang bisa dibilang (akan) mempengaruhi dan mengganggu stabilitas politik kawasan Pasifik dan di Asia Tenggara,” kata Jerry di sela-sela pertemuan Asian Parliamentary Assembly (APA) di Istanbul, Turki, Jumat (30/11/2018).

“Papua Nugini ini kan perbatasan dengan Indonesia, apapun itu secara geopolitik politik banyak mempengaruhi Indonesia,” sambung Jerry.

Meski Mike Pence menyebut pembangunan pangkalan angkatan laut itu untuk melindungi kedaulatan dan hak-hak maritim negara di wilayah Pasifik. Namun, upaya AS itu perlu dikaji secara mendalam.

“Hemat saya, tidak boleh dilakukan apapun di kawasan itu, termasuk dimiliterisasi kawasan tersebut. Karena menurut saya, kawasan itu menjadi kawasan netral. Apalagi itu bisa dilakukan, akan sesuai sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas dari tekanan dan intervensi dari negara pun,” jelas Jerry.

Menurut politisi muda Golkar ini, jika ada negara yang ingin membangun pangkalan udara di negara militer di  wilayah berdaulat. Maka itu bisa mengganggu negara di kawasan itu.

“Itu sedikit banyak mempengaruhi stabilitis politik di sekitar kawasan tersebut, termasuk Indonesia. Bagi saya, sebaiknya itu dikaji kembali agar itu tak dijadikan komoditas politis,” ungkap Jerry.

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah perlu lihat secara komprehensif untuk mengkaji seberapa penting dan urgennya Amerika melakukan itu. Dan kita ketahui, Amerika banyak fokusnya di kawasan Timur Tengah. (H3)

 

 

 

INTERNASIONAL

Kerja Sama Indonesia-Kuwait, Zainuddin Amali: Potensi Minyak Bumi Berpeluang Dikembangkan Bersama untuk Rakyat

Published

on

By

Jakarta – Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI Zainudin Amali menyambut baik rencana kedatangan Parlemen Kuwait ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Menurutnya, kedatangan parlemen Kuwait dapat dijadikan momentum untuk  meningkatkan hubungan kerja sama kedua negara.

“Kami menyambut gembira rencana kunjungan Parlemen Kuwait ke Indonesia. Saya kira banyak potensi yang bisa kita jajaki untuk peningkatan hubungan kerja sama bilateral,” kata Zainudin usai menerima kunjungan Charge d’affaires Duta Besar Kuwait untuk Republik Indonesia Abdullah Alfadhli di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (10/12/2018).

Zainudin menuturkan, hubungan antara Indonesia dan Kuwait sudah berlangsung sejak lama. Kendati demikian, hubungan kerja sama kedua negara dalam beberapa tahun terakhir belum mengalami peningkatan yang signifikan.

Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan, neraca perdagangan RI-Kuwait selama 5 tahun terakhir cenderung fluktuatif. Pada tahun 2013 sebesar 45,5 juta dolar Amerika Serikat (AS), tahun 2014 sebesar 72,6 juta dolar AS, tahun 2015 sebesar 95,3 juta dolar AS, tahun 2016 sebesar 91,2 juta dolar AS, dan di tahun 2017 sebesar 426,8 juta dolar AS.

Legislator Partai Golkar ini menambahkan, kerja sama yang sudah terjalin selama 50 tahun terakhir ini harus terus ditingkatkan. Sama halnya dengan Indonesia, Kuwait juga kaya akan minyak bumi sehingga peluang kerja sama di sektor ekonomi sangat potensial untuk dikembangkan.

Di akhir pertemuan, Zainudin menyampaikan apresiasi atas uluran tangan Pemerintah Kuwait kepada korban tsunami dan gempa di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah beberapa saat lalu.

Menurutnya, bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat yang terdampak musibah. (dpr/kabarakyat)

Continue Reading

INTERNASIONAL

Din Syamsuddin Kembali Jadi Pembicara di Konperensi Alliance of Virtues, An Opportunity for Peace di Abu Dhabi

Published

on

By

Abu Dhabi – Ketua-Pendiri CDCC (Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations) Prof. Din Syamsuddin kembali menjadi pembicara pada Konperensi Alliance of Virtues, An Opportunity for Peace, di Abu Dhabi, Jumat (7/12/18) kemarin.

Pada sesi bertajuk Religious Pluralisme, Example of National Integration Practices, Din Syamsuddin menyampaikan beberapa poin penting. Di antaranya, pluralisme keagamaan tidak berarti sintesisme atau sinkretisme agama-agama yang membawa kepada keyakinan agama bersifat relatif.

“Pluralisme atau tepatnya pluralitas keagamaan mengandung arti pengakuan akan keragaman agama, dan kemungkinan adanya,” kata Din seperti keterangan tertulisnya.

“Nilai etika berbagi” (shared ethical values) tentang sesuatu masalah kemanusiaan,” sambungnya.

Dengan demikian, tegas Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN-PIM) itu, pluralitas keagamaan mengedepankan koeksistensi damai, toleransi, dan bahkan koperasi (kerja sama). (Yah)

Continue Reading

INTERNASIONAL

Dinilai Ikut Campur Urusan Dalam Negeri, DPR Desak Pemerintah Pulangkan Dubes Arab Saudi

Published

on

By

Jakarta- Anggota Komisi I DPR RI Syaiful Bahri Anshori memprotes keras memprotes keras cuitan Duta Besar Arab Saudi untuk Republik Indonesia, Osamah Muhammad Al-Suaibi.

Menurut Syaiful, Pernyataan Osamah Dubes Arab Saudi yang mengatakan Reuni 212 Ahad 2 Desember yang lalu sebagai respon dari pembakaran bendera tauhid telah mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia.

“Tentu hal tersebut sangat tidak patut disampaikan oleh Dubes Arab Saudi. Karena Ini adalah urusan politik dalam negeri Indonesia,” ungkap Syaiful dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/12/2018).

Syaiful menuntut kepada Dubes Arab Saudi untuk meminfa maaf kepada PBNU dan GP Ansor.

“Saya meminta Osamah untuk segera tabayun dan meminta maaf kepada PBNU dan GP Ansor,” katanya.
Sekjend Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut juga mendesak kepada pemerintah untuk memulangkan Osamah ke Arab Saudi.

“Tidak boleh terjadi lagi. Pemerintah harus segera mengambil sikap untuk memulangkan Osamah ke Arab dan menggantinya dengan Dubes yang baru,” tandasnya.

Seperti yang telah diketahui Osamah Muhammad Al-Suaibi, Duta Besar Arab Saudi membuat cuitan yang menyatakan Dia menyatakan aksi 212 yang berlangsung Ahad, 2 Desember 2018 terjadi lantaran dipicu pembakaran bendera Tauhid oleh organisasi yang sesat. (b3)

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending