Connect with us

RAGAM

Catatan Kecil Perjalanan MRD Dampingi SBY Tour de Toba

Published

on

Suritauladan, bukan Pencitraan

“Rakyat Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki humanisme tinggi sebagai bentuk suritauladan kepada rakyat yang bersifat alami dan bukan niat pencitraan”.

Kata itu disampaikan Putra Terbaik Papua yang juga Ketua Umum DPP KNPI 2015-2018 Muhammad Rifai Darus selama mendampingi Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Tour de Toba.

Berikut Cerita MRD seperti disampaikan pada lintasparlemen.com, Medan (22/1/2019):

Saya punya dedikasikan kepada pak SBY atas sebuah kejadian yang tak terduga tatkala perjalanan Tour de Toba memasuki kabupaten Asahan – Sumatera Utara.

Selasa, 22-1-2019
Pukul 08.30 WIB

Ketika Sekjend DPP Partai Demokarat Bung Hinca Pandjaitan membisikkan ketelingaku. “Ayo Fai, sebelum pak SBY bergerak menuju lokasi kegiatan, kita bergerak duluan agar kau bisa jumpa mamakku ( ibu ),” kata Bung Hinca mengajakku.

Maka bergegaslah kami menuju rumah Sekjen Demokrat (Bung Hinca) didampingi istri beliau dan beberapa sahabat pengurus DPP Partai Demokrat (PD) dengan menggunakan 3 kendaraan.

Pagi itu, perjalanan dari tempat kami menginap menuju rumah Mamak (Ibu Bung Hinca) sekitar 10 menit, dan aparat kepolisian dan aparat lainnya sudah bersiap di sepanjang jalan untuk mengatur kelancara perjalanan dari Presiden RI ke 6 bapak SBY.

Pukul 08.40 WIB

Kami tiba di rumah sekjen DPP PD itu, lalu berjumpa dengan Mamak yang sudah sepuh yang sedang duduk di kursi.

Adalah Bung Hinca, seorang anak dengan posisi Sekjen PD bahkan pernah memimpin Ketua Umum PSSI dan posisi tertinggi di negeri ini.

Namun saat balik ke rumah dan bertemu Mamaknya tetap santun dan berbicara dengan bahasa yang lemah lembut penuh rasa kasih sayang.

“Aku sejak kecil dilarang merokok sama Mamakku, dengan alasan akan menghabiskan uang dan datangkan penyakit,” kata bang Hinca menjelaskan dan diamini oleh Mamaknya dengan senyuman manis dan melirik anaknya.

“Ibu-ibu sekalian, nanti Bapak SBY akan lewat jalan depan rumah kita ini menuju lokasi kegiatan. Pak SBY akan perlahan-lahan mobilnya dan kita semua berdiri di pinggiran aja yah, sambil melambaikan tangan saja yah,” penjelasan Sekjen Hinca kepada yang hadir mayoritas ibu-ibu alias emak-emak.

(Banyak kehidupan Sekjen Hinca yang diceritakan kepada kami tentang masa kecilnya bersama kawan-kawannya yang hadir sebagai saksi dan sangat menarik dan mengharukan).

Tak lama kemudian,

tepat pukul 09.00 WIB

Pak SBY beserta Ibu Ani dan mas Ibas sudah bergerak (Kita tahu betul Pak SBY sangat on time dalam segala kegiatan) dan akan melewati jalan yang sedang kami berdiri dan siap melambaikan tangan sesuai arahan Sekjen Hinca tadi.

Namun apa yang terjadi, tepat kendaraan Pak SBY dan Ibu Ani di depan rumah Mamak Sekjen Hinca, Pak SBY menghentikan kendaraanya dan langsung turun.

Sontak masyarakat histeris dan bergerak mengerumini pak SBY dan Ibu Ani serta mas Ibas.

Kejadian ini di luar agenda, karena Pak SBY berhenti dan turun menemui masyarakat. Termasuk kami menanti rombongan, beriring-iringan.

Melihat kejadian ini tak sedikit ibu-ibu yang hadir meneteskan air mata antara kaget, senang, bahagia dan sebagainya bercampur menjadi satu.

Dengan sikap Ta’zim Pak SBY dan Ibu Ani bersalaman dan berpelukan dengan Mamak Sekjen (bahkan mata Sekjen Hinca pun berkaca-kaca karena tidak menduga kejadian ini).

Masyarakatpun meminta salaman dan bersuka cita.

Sebuah sikap yang merupakan suritauladan telah diberikan oleh Pak SBY dan Ibu Ani terhadap bangsa ini.

Di saat kita kehilangan sosok pemimpin yang selalu berikan contoh kehidupannya.

Sikap Ta’zim pak SBY inilah yang disebut suritauladan yang harus dimulai dari para tokoh dan elit bangsa ini.

Semoga generasi muda dapat memetik hikmah dan mengambil pelajaran yang baik dari semua sikap yang SBY kerjakan.

Tidak sampai 7 menit, akhirnya rombongan bergerak menuju sebuah klinik untuk meresmikan program rehabilitasi bagi bahaya narkoba yang menjadi musih kita generasi muda indonesia saat ini.

Mari bangun Indonesia dan jangan rusak masa Depan dengan. Mendekati apalagi mengkonsumsi Narkoba.

”Hormati dan hargai orang tuamu, karena tanpa do’anya maka tidak ada masa depanmu”

MRD

RAGAM

Lomba Macing Sampah, Ide Kreatif di Era Digital

Published

on

By

JEMBER – Membersihkan sungai dengan kegiatan mancing sampah dilaksanakan oleh Keris West (Women, Ecology and Sustainability) Fisip Univesitas Jember (6/10) di Sungai Kotok Desa Karangrejo Jember.

Hal ini dilakukan karena Sungai yang ada difungsikan sebagai tempat membuang sampah dan septic tank. Oleh karenanya, Keris West Unej bersama ibu-ibu dusun Kali Kotok Karangrejo Jember menginisiasi pembentukan bank sampah sahabat alam.

Dimana kegiatannya menabung sampah, donasi atau sedekah sampah, dan lomba memancing sampah. Selain itu juga saat launching bank sampah dilaksanakan lomba menggambar, mewarnai dan lomba poster tentang sampah dan sungai.

Ditemui di lokasi lomba mancing sampah, ketua Keris West Prodi Sosiologi Universitas Jember, Raudlatul Jannah mengatakan bahwa lomba ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan semangat warga sekitar sungai untuk mau menjaga lingkungan sekitarnya.

“Ini luar biasa, kami tidak menyangka begitu besar semangat dari ibu-ibu dan bapak-bapak dalam membersihkan sungai. Semoga kedepannya tetap semangat dan menjadi motor penggerak dalam menjaga lingkungan,” kata Raudlatul pada Lintas Parlemen, Ahad (6/10/2019).

Bank sampah sahabat alam, memang masih sangat baru. Bahkan baru terbentuk September 2019. Namun, Nur Hayati sebagai ketua bank sampah mengaku optimis terhadap program bank sampah ini bagi lingkungan mereka. Karena pengurus mereka cukup semangat dalam mensosialisasikan bank sampah.

“Kami juga mengisiasi pembentukan karang taruna, jadi pemuda pemuda sangat berpotensial dalam menembangkan dusun kami. Semoga apa yang kami mulai ini bisa menginspirasi semua warga dan membangun kesadaran terhadap lingkungan,” ujar Nur.

Salah satu dosen pendamping Baiq Lily Handayani berharap sungai yang ada bisa kembali fungsinya seperti zaman dahulu.

“Sebenarnya dahulu sungai dijadikan sebagai pusat peradaban yakni sebagai tempat perdagangan, sumber mata air, tempat mandi, jalur transportasi, dan tempat untuk ruang sosial”, terang Baiq yang juga dosen sosiologi lingkungan tersebut.

Lily menyayangkan bergantinya fungsi sungai saat ini. “Namun saat ini sungai lebih banyak dijadikan sebagai tempat membuang sampah. Hampir semua jenis sampah dibuang ke sungai, seperti sampah rumah tangga, sampah popok sekali pakai, sampah pasar, sampah hasil pertanian, dan limbah dari kamar mandi,” paparnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan kan membangun kesadaran masyarakat dan mengembalikan fungsi sungai seperti sebelumnya.

Dalam kegiatan lomba mancing sampah warga terlihat sangat antusias bahkan mereka masuk ke dalam sungai yang sangat kotor. Banyak sampah yang didapatkan, seperti pampers, baju-baju, pakaian dalam, sampah rumah tangga, plastik, pepohonan dan batang pisang.
Sampah-sampah dikumpulkan secara berkelompok, perkelompok terdiri dari 5 orang ibu-ibu. Pemenang ditentukan atas jumlah sampah yang didapat dan kesulitan lokasi pemancingan.

Hadiah lomba bervariasi ada sarung, baju koko, jilbab, kopiah dan snack bagi anak-anak. Hadiah lomba didukung oleh yayasan kaji Rozaq dan Komunitas Perempuan Tangguh. (Razak)

Continue Reading

RAGAM

Wajar dan Etiskah Najwa Shihab Undang Ketua DPR via Medsos?

Published

on

By

JAKARTA – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengungkapkan dirinya tak pernah diajak langsung dan diundang secara langsung oleh Najwa Shihab untuk menjadi narasumber di acara yang dipandunya, Mata Najwa. Dirinya pun saat acara berlangsung juga sedang ada kegiatan lain yang sudah terjadwal jauh-jauh hari.

“Tidak ada komunikasi langsung dari Najwa Shihab ke saya. Saya baru mengetahui setelah ramai di media sosial. Dan, saya memang tidak bisa hadir karena ada kegiatan lain yang telah dijadwalkan sebelumnya. Pun, dari DPR RI sudah ada Fahri Hamzah yang mewakili pimpinan dewan,” ujar Bamsoet menanggapi pernyataan Najwa Shihab atas ketidakhadiran dirinya di acara Mata Najwa, di Jakarta, Kamis (26/9/19).

Sebagai orang yang pernah menggeluti dunia jurnalistik, Bendahara Umum DPP Partai Golkar 2014-2016 ini paham betul bagaimana etika mengundang seseorang untuk menjadi narasumber. Tidak bisa dadakan karena setiap orang pasti punya agenda yang sudah terjadwal sejak jauh hari. Karenanya, saat dulu menjadi wartawan, dirinya menyiapkan planning yang rapi dan jelas.

“Akun twitter saya yang di mention Najwa, sudah tidak aktif sejak tahun 2010. Saya hanya punya IG dan facebook yang adminnya dipegang staff saya. Lagipula tidak setiap detik saya melototi media sosial. Karena kantor saya di DPR RI, bukan di media sosial. Mencari saya sangat mudah, setiap hari dari pagi hingga sore selalu ngantor ke DPR RI. Jadi tidak perlu mempermalukan narasumber hanya untuk menaikan rating dan keuntungan pribadi. Banyak cara yang lebih etis dan sikap yang saling menghargai,” tandas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, saat demonstrasi mahasiswa di depan DPR RI pada 24 September 2019 kemarin, dirinya berada di DPR hingga Pukul 02.00 WIB. Menunggu situasi kondusif agar bisa berdialog secara langsung dengan mahasiswa.

“Seusai Rapat Paripurna dan konferensi pers sekitar Pukul 16.00 WIB, saya sudah jalan ke depan gerbang depan DPR RI untuk berdialog dengan mahasiswa. Tapi karena situasi yang tidak kondusif, bahkan saya juga kena gas air mata, dialog tidak bisa dilakukan. Saya standby bersama petugas keamanan sampai Pukul 02.00 WIB di DPR,” jelas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, dirinya siap kapan pun menerima mahasiswa maupun organisasi masyarakat. Dialog yang jernih dan saling mencerahkan bisa terjadi apalagi hati dan kepala dalam kondisi sejuk.

“Hampir setiap hari saya selalu menerima audiensi dari berbagai kalangan masyarakat. Jangankan BEM, mahasiswa pribadi/perseorangan saja saya terima. Kapanpun kawan-kawan mahasiswa mau berdialog, pintu ruang kerja saya di DPR RI selalu terbuka lebar,” pungkas Bamsoet.  (dwi)

Continue Reading

RAGAM

Ini Alasan DPP Geomatrim Nobatkan Jokowi sebagai Bapak Maritim Indonesia

Published

on

By

JAKARTA – Ketua Umum DPP Geomaritim Baharuddin Farawowan, SH, MH menjelaskan Pemerintahan Baru Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-KH Ma’ruf Amin akan tetap melanjutkan visi maritim. Baharuddin mendukung pemindahan ibukota ke Kalimantan Timur.

“Mendukung Pemindahan Ibu Kota Negara sebagai wujud dari poros maritim Indonesia,” kata Baharuddin sebelum digelar diskusi untuk memperingati 56 Tahun Hari Maritim Nasional, Jakarta, Ahad (22/9/2019) kemarin.

Sebagai informasi, tepat tanggal 23 September 1963, Presiden RI I Bung Karno selaku Pemimpin Besar Revolusi menggelar Musyawarah Nasional Maritim pertama di sekitar Tugu Tani, Jakarta. Seluruh stakeholder maritim nasional hadir dalam acara tersebut guna memberikan kontribusinya dalam arah pembangunan kemaritiman Indonesia.

Dalam acara itu pula, Bung Karno disematkan menjadi Nahkoda Agung NKRI yang bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara maritim besar layaknya pada kejayaan Sriwijaya dan Majapahit di masa lampau. Berdasarkan hal tersebut kemudian tanggal 23 september kemudian diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Maritim Nasional.

“Kami mendorong terwujudnya UU Kemaritiman. Juga mendukung percepatan UU Provinsi Kepulauan sebagai daerah otonomi khusus. Kami Mendukung Pembentukan UU Keamanan Laut dan menetapkan Presiden Jokowi sebagai Bapak Maritim Indonesia,” ujar Baharuddin.

Menurutnya, seiring dengan semangat Bung Karno tersebut, Presiden Joko Widodo kini pun menginisiasi gagasan besar pembangunan kemaritiman dengan sebuah visi yakni mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dengan mencanangkan lima pilar utama pembagunan kemaritiman.

“Pertama, pembangunan kembali budaya maritim. Kedua, berkomitmen dalam menjaga dan mengelola sumber daya laut dengan fokus membangun kedaulatan pangan laut melalui pengembangan industri perikanan dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama. Ketiga, komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, pelabuhan laut, logistik, dan industri perkapalam serta pengembangan pariwisata maritime. Keempat, diplomasi maritime yang mengajak semua mitra Indonesia untuk bekerjasama pada bidang kelautan. Dan kelima, membangun kekuatan pertahanan dan keamanan maritime,” jelas Baharuddin.

Oleh karenanya dalam momentum HUT Maritim Nasional ke-56 ini, DPP Geomaritim menggelar Peringatan yang bertajuk “Refleksi 5 Tahun Gerakan Maritim Presiden Jokowi, Mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia”.

Sementara itu, Alfian Akbar Balyanan selaku Ketua Panitia menyampaikan, seri kegiatan ini digelar dengan maksud untuk merefleksikan kembali pembangunan kemaritiman oleh Presiden Jokowi pada periode 2014-2019, serta menjadi upaya untuk mendorong agar semangat untuk menjadikan Indonesia menuju poros maritim dunia terus ditingkatkan oleh Presiden Jokowi dalam kepemimpinan berikutnya periode 2019-2024.

“Dalam kegiatan ini kami mengundang sejumlah pejabat pusat dan daerah, diantaranya yang telah dijadwalkan hadir yaitu Menteri Kelautan dan Perikanan, Kepala Bakamla, Kakor Polairud Baharkam Polri, Wakil Gubernur Provinsi Banten, Staf Khusus Presiden Bidang Maritim, Direktur KPLP Kemenhub, Kadis Perhubungan Provinsi Banten, Kadis Perikanan dan Kelautan Provinsi Banten, Kadis Pariwisata Provinsi NTB, Kadis Kelautan dan Perikanan Kabupaten Fak-Fak dan sejumlah pejabat lainnya,” papar Alfian.

Alfian berharap dengan hadirnya sejumlah pejabat pusat dan daerah ini dapat menjadi momentum untuk melahirkan gagasan yang strategis guna mendorong terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia pada kepemimpinan Presiden Jokowi di lima tahun mendatang. (HMS)

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending