Connect with us

RAKYAT

DPR Sebut Akibat Kebakaran Hutan Capai Kerugian Rp221 Triliun

Published

on

JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR RI Junaidi Auly menyoroti dampak kerugian ekonomi dari kebakaran hutan di wilayah yang terkena dampak. Apa saja kerugian rakyat itu?

“Terjadinya kebakaran hutan dan lahan ini sangat berdampak pada aktivitas dan aksesibilitas ekonomi masyarakat. Sebagian masyarakat terganggu baik dalam operasional produksi barang ataupun dalam hal perdagangannya,” ujar Junaidi pada Lintas Parlemen, Selasa, Jakarta (17/9/2019).

Data dari Bank Dunia memperkirakan kerugian akibat dari bencana kebakaran hutan dan kabut asap pada tahun 2015 yang dampaknya ke sektor kesehatan, pendidikan, penghidupan masyarakat di wilayah terdampak dan beberapa sektor lainnya yang kerugiannya mencapai senilai Rp 221 triliun.

Anggota DPR yang biasa disapa Bang Jun ini menegaskan persoalan kebakaran hutan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan saja, tapi kompleks termasuk didalamnya terkait ekonomi masyarakat yang perlu menjadi perhatian bersama.

Legislator PKS asal Lampung ini berharap pemerintah segera melakukan langkah kongkrit dalam menyelesaikan dampak ekonomi yang timbul dari kebakaran hutan dan lahan ini.

“Jika pemerintah tidak responsif dalam menyelesaikan masalah ini, maka dikhawatirkan dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat sekitar,” tutup Bang Jun. (Hadi)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RAKYAT

Anggota DPD Mendesak agar Dana Bantuan Gempa Sulteng Segera Disalurkan

Published

on

JAKARTA, Anggota DPD RI, Abdul Rachman Thaha mendesak empat pemerintah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah (Sulteng) agar segera menyalurkan dana hibah dari Kementerian Keuangan sebesar Rp 1,9 triliun untuk korban gempa.

“Saya mendesak kepada pemerintah Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong dan Kota Palu agar segera menyalurkan dana bantuan sebesar Rp1,9 Triliun itu,” tegas Pria yang akrab disapa ART tersebut dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (15/2/2020).

Seperti diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyalurkan dana hibah sebesar Rp 1,9 triliun untuk korban gempa Sulteng dan dana tersebut berasal dari Kementerian Keuangan.

ART mengaku mendengar informasi bahwa alasan belum disalurkannya bantuan tersebut karena adanya ketakutan dari dari pemerintah kabupaten dan kota tersebut terkait mekanisme penyaluran bantuan. Menurut ART, alasan tersebut tidak jelas dan mengada-ada.

“Jika alasannya seperti itu, sangatlah tidak masuk akal,” ujar Senator asal Sulteng tersebut.

ART pun mengingatkan, jika ada upaya penyelewengan dari oknum atau kelompok terkait dana bantuan tersebut, akan segera berhadapan dengan aparat penegak hukum.

“Jika ada kesengajaan atau penyelewengan, saya akan kejar dan siap-siap berhadapan dengan aparat kepolisian, kejaksaan dan KPK,” tegas ART.[]

Continue Reading

RAKYAT

China Maju Karena Terapkan Model GBHN yang Kini Pro-Kontra di Indonesia

Published

on

By

JAKARTA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai jika di Indonesia saat ini tengah ramai pro kontra rencana MPR RI menghadirkan Pokok-Pokok Haluan Negara, di China justru sudah menerapkan model serupa sejak 1953.

China merumuskan pembangunan nasional jangka pendek, menengah, dan panjangnya melalui lembaga National Development and Reform Commision/NDRC (Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional). Perencanaan program kerja kementerian serta pemerintah daerah di China juga harus mengacu pada perencanaan yang telah dibuat NDRC. Sehingga menjamin terwujudnya harmoni pembangunan.

“Tak heran jika dalam Kongres Partai Komunis China ke-19 pada Oktober 2017 lalu, sebagai forum yang menentukan kepemimpinan China serta arah pembangunan China, Presiden China Xi Jinping selama 3 jam lebih berbicara jauh mengenai Visi China hingga tahun 2050. Tak hanya membahas rencana sosial dan ekonomi, visi China 2050 juga bertekad menjadi super power di sepakbola, ditandai dengan rencana pembentukan 20.000 pusat pelatihan sepakbola dan 70.000 lapangan baru, sehingga bisa melahirkan 50 juta pemain sepak bola profesional. Sebuah rencana kerja yang konkret dan terukur, tak mengawang-awang,” jelas Bamsoet usai menerima Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (MAHUTAMA), di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Senin (20/1/20).

Turut hadir dari MAHUTAMA antara lain Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari, Prof. Zaenal Arifin Hoessein, dan Zulhidayat, MH.

Melihat berbagai keberhasilan pembangunan di berbagai sektor yang telah dilakukan China melalui model pembangunan semacam Pokok-Pokok Haluan Negara, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menyambut hangat dukungan Pengurus Pusat Muhammadiyah dan juga Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (MAHUTAMA) atas rencana kerja MPR RI melakukan perubahan terbatas UUD NRI 1945 untuk menghadirkan Haluan Negara. MPR RI akan memanfaatkan waktu golden time hingga 2023 untuk menyerap aspirasi dari berbagai kalangan lainnya.

“Selain dukungan menghadirkan Pokok-Pokok Haluan Negara, PP Muhammadiyah dan MAHUTAMA juga mengusulkan penguatan kedudukan MPR RI dan menghidupkan kembali Utusan Golongan sebagai Anggota MPR RI. Seperti apa penerapannya, apakah bisa dilakukan atau tidak, biarkan mewarnai ruang dialektika publik terlebih dahulu. Sehingga nanti kita bisa menarik benang merah dan mengambil kesimpulan,” tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang & Industri (KADIN Indonesia) ini menambahkan, MAHUTAMA juga mengusulkan usulan menarik yang patut dielaoborasi lebih jauh. Usulan tersebut adalah perlunya memberlakukan doktrin Struktur Dasar (basic structure doctrine) dalam konstitusi negara, sebagaimana telah dilakukan di berbagai negara seperti India, Malaysia, dan Singapura.

“Doktrin Struktur Dasar menyangkut ketentuan yang tak dapat diubah, baik oleh MPR RI sendiri maupun oleh Mahkamah Konstitusi. Di UUD NRI 1945, kita hanya mempunyai satu ketentuan yang tak bisa diubah, yakni bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana terdapat dalam Pasal 37 ayat 5. Sedangkan negara seperti India, memiliki 17 doktrin Struktur Dasar seperti Supremasi Konstitusi, Negara Hukum, Prinsip Pemisahan Kekuasaan, Perlindungan HAM, hingga Sistem pemerintahan parlementer,” pungkas Bamsoet. (Dwi)

Continue Reading

RAKYAT

ART Akan Sampaikan Langsung Aduan Masyarakat Sulteng ke Kapolri dan Jaksa Agung

Published

on

SULTENG – Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kapolri dan Jaksa Agung, pada bulan Januari 2020 mendatang.

Melalui moment tersebut, Anggota Komite I DPD RI, Abdul Rachman Thaha (ART) bakal menyampaikan secara langsung keluhan dan aduan masyarakat di dapilnya yakni Sulawesi Tengah (Sulteng) saat penjaringan aspirasi atau reses di dapilnya, kepada Kapolri dan Jaksa Agung.

“Saya sendiri telah melakukan rangkaian berbagai reses ke beberapa daerah pemilihan saya, begitu banyak aspirasi masyarakat yang dititipkan untuk ditindaklanjuti nantinya,” ujar ART beberapa waktu lalu.

ART pun menyebutkan beberapa persoalan yang menjadi aduan masyarakat Sulteng tersebut, seperti persoalan pendidikan, kesehatan, dana pasca bencana masyarakat. Kemudian juga ada dibidang hukum dan masalahkesehahteraan para pendidik agama yang ada di daerah-daerah pelosok Sulteng.

Namun menurut Senator Dapil Sulteng tersebut, masalah yang paling menonjol dan banyak diadukan oleh masyarakat adalah masalah korupsi dan narkoba yang mestinya menjadi prioritas aparat penegak hukum.

“Tapi yang paling menonjol persoalan yang ada di daerah ini adalah persoalan narkoba dan korupsi yang belum di tindaklanjuti serius oleh aparat,” kata dia.

ART juga mengaku mendapatkan kenyataan di lapangan bahwa ada orang yang dianggap tak tersentuh hukum, bahkan bisa mempermainkan hukum.

“Dan bahkan ada juga warga sampai saat ini sedang mencari keadilan dan meminta kepastian hukum dalam proses hukum yang dialaminya,” katanya.

Untuk itu, Ia menegaskan, pada awal tahun depan pihaknya telah mengagendakan RDP dengan Kapolri dan Jaksa Agung, agar masalah seperti yang diterangngkan di atas bisa diselesaikan, dan masyarakat di daerah mendapat kepastian hukum dan merasakan kehadiran negara dalam setiap persoalan yang menimpa mereka.

“InshaAllah bulan januari nantinya kami akan mengundang Kapolri dan Jaksa Agung, untuk rapat dengar pendapat dengan kedua institusi tersebut sehingga semua permasalahan hukum yang ada di daerah bisa di selesaikan dengan cara profesional dan proporsional menempatkan masalah hukum itu sendiri,” jelas ART.

“Tidak boleh ada tebang pilih dalam masalah hukum karena kita semua sama di mata hukum. Jika ada terjadi sesuatu hukum yang tidak menempatkan masalah hukum itu secara proporsional, itu adalah oknum yang bermain bukan institusi, oknum-oknum inilah yang mau diberantas, jangan karena kewenangan dia mau seenaknya saja perlakukan orang,” pungkasnya.[]

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending