Connect with us

POLITIK

FREDDY LATUMAHINA: Tidak Komunilatif, Ada Ruang Kosong antara Pimpinan Golkar dengan Kader

Published

on

*FREDDY LATUMAHINA: Tidak Komunilatif, Ada Ruang Kosong antara Pimpinan Golkar dengan Kader*

Ada gap atau ruang kosong antara kader dengan elit Partai Golongan Karya (Golkar) karena keengganan pimpinan partai berlambang pohon beringin ini menyapa, bertemu, atau  berdialog dengan para kadernya sendiri. Gap itu terbentuk lebih karena ketidakmampuan elit Golkar merespons dan mengelola tuntutan dinamika demokratis di tubuh partai.

Banyak kader Golkar di daerah merasakan dan mengeluh karena pimpinan Golkar tidak komunikatif, bahkan tidak menyediakan ruang dan waktu untuk dialog dengan para kader di sela-sela kunjungan pimpinan Golkar ke daerah sekali pun.

Beberapa Ketua DPD Golkar mengaku malu dan kecewa karena gagal mempertemukan anggota partai di daerahnya dengan elit DPP Golkar yang sedang berkunjung. Puluhan anggota sudah berkumpul di sebuah ruang menunggu sapaan dan arahan dari pimpinan Golkar.

Namun, pimpinan Partai Golkar hanya melintas tanpa sedikit pun menunjukan kepedulian kepada para kader yang sudah menunggu. Tak ada sapaan, apalagi sekadar jabat tangan.

Kekosongan komunikasi antara DPP dengan semua DPD itu bahkan pernah berakibat fatal. DPP Golkar nyaris tak pernah tahu masalah yang dihadapi DPD, dan sebaliknya hampir semua DPD tak tahu kebijakan dan strategi partai menghadapi Pemilu.

Pada Pileg 2019, alat peraga kampanye yang dikirimkan oleh DPP Golkar ke daerah tidak sesuai dengan kebutuhan. Sebagian besar alat peraga bahkan tidak bisa digunakan saat kampanye.

Muncul kesan di benak banyak kader bahwa pucuk pimpinan Golkar seperti hidup di rumah kaca. Ingin mengelola partai politik tapi tak mau atau alergi menginjak tanah. Mengelola partai bukan dengan kerja-kerja politik, tetapi sekadar menuntut ketaatan mutlak dari semua kader.

Karena awam berorganisasi, apalagi untuk organisasi sebesar Partai Golkar, pimpinan DPP Golkar tak mau dikritik, bahkan menolak perbedaan pendapat. Maka, ketika menghadapi beda pendapat dengan kader, instrumen kewenangan yang digunakan untuk menyelesaikan perbedaan itu adalah pecat sana-pecat sini.

Alih-alih memberi contoh tentang perilaku demokratis, pimpinan Golkar malah menunjukan kecenderungan otoriter dalam mengelola partai. Akibatnya, soliditas kader partai tidak maksimal ketika menghadapi agenda Pileg baru-baru ini.

Freddy Latumahina
Senior Partai Golkar, Mantan Anggota DPR RI

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POLITIK

Senior Golkar DKI: Jangan Berjalan Depan Jokowi, karena Jokowi Belum Tentu Mengikutimu

Published

on

By

JAKARTA – Senior Partai Golkar DKI Jakarta Andi Rukman menyampaikan para kandidat dan tim sukses Ketua Umum Golkar tidak saling sikut dan saling menjegal. Andi berpesan seluruh kader Golkar harus saling bergandengan tangan untuk kemajuan Golkar di masa akan datang.

“Menyoroti mengenai masalah perebutan ketum, ini demokrasi siapapun yang berhak maju tidak boleh ada saling membunuh harus saling merangkul, silahkan berkompetisi dengan sehat,” kata Andi pada diskusi yang digelar Forum Komunikasi Putra Putri Golongan Karya bertema “MISI GOLKAR UNTUK INDONESIA MAJU, ADIL & MAKMUR”, di Winners Cafe, Jalan Cikini Raya, Nomor 77, Jakarta Pusat, Rabu (7/8/2019) kemarin.

“Terakhir, kita tersumbat komunikasi kali ini, kali ini bagus karena di forum-forum resmi sehingga gagasan bisa keluar. Komunikasi yang tersumbat melahirkan grup-grup baru di antara kita yang saling menyerang yang mana hal tersebut mengkerdilkan partai kita,” jelas Andi.

Andi menceritakan kondisi Golkar saat ini, di struktur partai itu jelas, semua bidang lengkap. Tinggal bagaimana mengoptimalkan potensi yang ada.

“Rapat plenopun saya pikir, menurut saya kenapa kita berperang lewat media, padahal seluruh informasi, kemampuan anak muda di luar vokal sedikit dianggap kubu ini kubu itu dan tidak diberikan ruang dan kesempatan,” terangnya.

“Saya tahun 1998, hampir seluruh pengurus partai semua dari asosiasi pengusaha pasti ada kader Golkar namun sekarang pada kabur karena dianggap sebagai sapi perah,” tegas Andi.

“Jangan berjalan di depan Jokowi karena Jokowi belum tentu mengikutimu, jangan berjalan dengan belakang Jokowi karena belum tentu Jokowi menuntun mu, tapi berjalannya disamping Jokowi sehingga dapat berjalan beriringan,” pesan Andi.

Pada kesempatan itu, Andi juga berpesan sejumlah persoalan. Pertama, pesannya, untuk menuju Indonesia adil dan makmur, yaitu membangun infrastruktur tidak boleh terhenti. Jika dilihat dan kita saksikan saat ini mungkin kecelakaan berkurang dan minimalis adalah tahun ini karena pembangunan infrastruktur.

“Kedua, sumber daya manusia. Maka, sekolah harus bagus kalau ini tidak ada akan repot. Siapapun ketua umumnya dalam munas maka ketua umum harus memperjuangkan hal ini,” ujar Andi.

Ketiga, berbicara UMKM, Indonesia sangat rendah sekali. Masyarakat lebih banyak belanja di minimarket.

“Kita sebagai kader Golkar, harus mendorong pembelian di masyarakat dan Golkar harus mendorong karena infrastuktur Golkar tidak ada yang bisa kalahkan,” pungkasnya. (Az)

 

Continue Reading

POLITIK

“Bergabung ke Golkar, karena Golkar Partai Paling Indonesia”

Published

on

By

JAKARTA – Politisi Senior Partai Golkar Yorrys Raweyai mengungkapkan Golkar ke depannya perlu figur pemimpin yang tahu persis kebutuhan Golkar untuk jadi partai pemenang pemilu kembali.

“Kita (di Golkar) perlu figur yang memahami, merakyat dan yang mampu merangkul semua untuk bersama-sama,” kata pada diskusi yang digelar Forum Komunikasi Putra Putri Golongan Karya bertema “MISI GOLKAR UNTUK INDONESIA MAJU, ADIL & MAKMUR”, di Winners Cafe, Jalan Cikini Raya, Nomor 77, Jakarta Pusat, Rabu (7/8/2019) kemarin.

Menurut Yorrys, berbicara misi Golkar ke depan sesuai dengan visi Golkar, perlu melibatkan lintas generasi. Khusus kader muda Golkar, lanjutnya, sebagai generasi baru menjadi harapan Golkar ke depan.

“Generasi ini merupakan harapan partai golkar kedepan yang akan membawa ke depan, kalau bicara tentang Gklkar saat ini, maka perlu dipertanyakan apakah Golkar akan dikenal kembali atau di kenal sebagai dinosaurus yang pada eranya dia menjadi suatu kekuatan tetapi ia tidak mampu mengikuti zaman sehingga ia hilang,” jelas Yorrys.

Yorrys menyampaikan, Golkar dibentuk pada saat dinamika bangsa dari berbagai kekuatan sampai akhirnya Golkar tumbuh. Semangat yang dibangun oleh TNai dan sipil pada kala itu membentuk suatu kekuatan dari semua unsur untuk bersatu, berkaya untuk membangun bangsa dengan pancasila sebagai ideologi.

“Golkar ke depan siapapun (memimpin) harus berhasil merajut kembali di dalam satu wadah rumah besar terutama TNI Polri,” terangnya.

“Dinamika dalam 5 tahun terakhir, kita perlu figur yang memahami, merakyat dan yang mampu merangkul semua untuk bersama-sama. Golkar ke depan siapapun harus maju, semua yang pernah membesarkan atau mendirikan golkar harus kembali dalam satu wadah,” sambungnya.

“Tolong samakan persepsi dan barisan sehingga Golkar kita bisa menjadi lebih baik, rajut kembali kekuatan golkar ke depan. Reformasi bergulir, keluar UU parpol, semua parpol harus berubah menjadi parpol sehingga Golkar berubah menjadi parpol, dirumuskan menjadi publi partai yang menjadi wadah rakyat, sehingga semua rakyat yang mau berjuang dapat platform partai golkar. Golkar menjadi partai yang terbuka,” jelas Yorrys.

Baginya, Golkar itu bukan milik seseorang ataupun kelompok. Golkar milik rakyat sehingga harus mampu merangsang rakyat apabila mau berjuang bersama rakyat.

“Maka masuk ke Golkar karena Golkar merupakan partai yang paling Indonesia,” pungkas Yorrys. (hms)

Continue Reading

POLITIK

Pengamat: Sejatinya Golkar sebagai Partai Termapan Bekerja Lebih Efekit

Published

on

By

JAKARTA – Pengamat Politik  Indo Barometer M Qodari mengatakan Partai Polkar sesuai sejarah adalah partai yang infrastrukturnya paling kuat dan lengkap di seluruh Indonesia. Bagaimana tidak, Golkar ini dulu seperti TVRI kantornya menaranya dibangun oleh pemerintah dan itu belum tersaingi.

“Dan betapa sayangnya infrastruktur yang begitu lengkapnya tidak dimaksimalkan (pada pemilu 2019) oleh partai Golkar untuk menjadi partai yang paling menjadi penentu, kalau dalam agama namanya khufur nikmat,” kata M Qodari pada diskusi yang digelar Forum Komunikasi Putra Putri Golongan Karya bertema “MISI GOLKAR UNTUK INDONESIA MAJU, ADIL & MAKMUR”, di Winners Cafe, Jalan Cikini Raya, Nomor 77, Jakarta Pusat, Rabu (7/8/2019) kemarin.

“Kalau Golkar menjadi bagian dari pemerintah maka kemudian kita patokannya adalah visi pak Jokowi yang disampaikan di sentul sehari setelah bertemu dengan pak Prabowo,” sambung Qodari.

Pada kesempatan itu, Qodari juga menyampaikan 5 visi Jokowi, yakni meneruskan pembangunan infrastruktur, membangun SDM, memperluas atau membuka investasi, reformasi birokrasi dan APBN yang efektif dan efisien.

“Saya kira partai golkar apabila concernnya betul-betul bicara visi Indonesia dan saat ini presidennya adalah Jokowi maka Golkar merumuskan dan mendukung visi tersebut,” terang Qodari.

Menurut Qodari, sejatinya Golkar sebagai partai termapan perlu bekerja lebih efekit dalam mendukung Jokowi. Sehingga sukses Jokowi memimpin Indonesia karena ditopang oleh Golkar.

“Bagaimana caranya pak Jokowi bisa sukses adalah apabila jokowi punya pertama, memiliki menteri-menteri yang kompeten, sesuai kriteria pak Jokowi, kriteria yaitu pertama eksekutor, kedua berani dan berintergritas,” ungkapnya.

Bagi Qodar, Golkar harus mampu menyediakan menteri yang sesuai kriteria tersebut, yaitu eksekutor berani dan berintergiras. Jika ada parpol yang mampu memberikan calon dalam jumlah yang banyak dengan kriteria yang memenuh syarat maka itu adalah partai Golkar.

Tak hanya itu, Qodari juga menyampaikan, Partai Golkar adalah partai yang harusnya jadi partai paling depan sebagai penyedia menteri yang sesuai dengan keinginan Jokowi, karena ini partai lama, sangat terdidik dan SDM-nya paling maju dia ntara partai-partai lainnya.

“Kalau bicara SDM harusnya partai Golkar tetap menjadi partai paling siap dalam segi kriteria  SDM karena dulu zamannya Pak Harto semua orang pintar, bagus dan berkualitas masuk ke partai golkar. Meskipun ada yang pergi ke sana ke sini. Jadi partai Golkar harus menjadi partai terdepan dalam menyiapkan menteri yang sesuai visi misi pak Jokowi yaitu eksekutor, berani dan berintegritas,” jelas Qodari.

Baginya, Partai golkar harus menjadi yang terdepan dalam menjawab tantangan ideologis tersebut. Golkar sebelumnya menjadi partai yang nyaman dalam menjawab tantangan ideologis-ideologis tersebut karena partai Golkar mempunyai 3 elemen yang bisa bertemu dengan semua kalangan.

“Yaitu TNI. Birokrasi dan Islam/modernis. Apabila partai lain warnanya cuma merah atau hijau sedangkan golkar lengkap. Artinya Golkar menjadi partai yang mudah berdialog ke kiri ataupun kanan. Golkar menjadi penentu ke depannya, bukan hanya mendukung pak Jokowi tetapi juga sebagai penentu,” ujarnya. (HMS)

 

 

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending