Connect with us

PENDIDIKAN

Ini Alasan MUI Dukung RUU Pesantren

Published

on

JAKARTA – majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung RUU Pesantren untuk segera disahkan. Mui berharap dengan disahkan RUU Pesantren itu dapat memberikan pengakuan kesetaraan dan keadilan terhadap lembaga pendidikan pesantren sehingga menjadi satu kesatuan dari sebuah Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

“Selama ini lembaga pendidikan pondok pesantren seakan menjadi bagian yang terpisah dari Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sehingga tidak mendapatkan perlakuan yang adil dari negara. Baik dari aspek pengembangan kurikulum, tenaga guru dan kependidikan, ijazah kelulusannya maupun aspek anggaran negara baik melalui APBN maupun APBD,” kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi pada Lintas Parlemen, Ahad (22/9/2019).

Padahal, lanjutnya, pondok pesantren memiliki peran kesejarahan yang sangat besar dalam merebut dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Juga dalam mengawal, dan mempertahankan NKRI.

“Sehingga tidak pada tempatnya memperlakukan pesantren menjadi anak tiri di negerinya sendiri,” ujar Zainut.

“Untuk hal tersebut perlakuan diskriminatif terhadap pesantren harus segera diakhiri dengan memberikan payung hukum dalam bentuk Undang-undang agar kedudukan pondok pesantren lebih setara dan sederajat dengan lembaga pendidikan lainnya,” sambung Zainut.

Sebagai informasi, jumlah Pondok Pesantren tersebar di seluruh wilayah di Indonesia sebanyak 28.984 Pondok Pesantren dan 4.290.626 santri. (Data EMIS 2015/2016)). Hal tersebut merupakan jumlah yang sangat besar dan harus mendapat perhatian dan perlindungan serius dari Pemerintah. Pondok pesantren tersebut hampir semuanya dikelola secara mandiri oleh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, baik Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), Tarbiyah Islamiyah (PERTI), Dewan Dakwah Islamiyah dan yang lainnya.

“Hadirnya UU tentang Pesantren harus dapat memperkuat fungsi pesantren baik sebagai fungsi pendidikan, fungsi dakwah maupun fungsi pemberdayaan ekonomi umat,” ujarnya.

Zainut mengusulkan, bersatu dalam UU Pesantren itu harus tetap mempertahankan ciri khas pesantren dan kemandirian pesantren. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan tradisi dan nilai-nilai yang hidup dan tumbuh di pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki ciri khas yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan menanamkan nilai-nilai cinta tanah air dan kebhinnekaan Indonesia. (HMS)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NASIONAL

Anggota MPR RI Abdul Rachman Thaha Gelar Sosialisasi Empat Pilar di Palu

Published

on

PALU – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Abdul Rachman Thaha (ART) menggelar Sosialisasi Empat Pilar di SMA Negeri 4 Palu, Kamis (22/11/2019).

Dalam kegiatan tersebut, ART menegaskan bahwa Empat Pilar tersebut merupakan payung kebangsaan yang menjadi kiblat berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tungal Ika.

“Keempat pilar inilah yang harus kita tanamkan dalam hati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya dilafalkan dan dijadikan simbol saja,” ujar ART di hadapan peserta sosialisasi.

ART dalam kegiatan itu juga menjelaskan secara rinci keempat pilar berbangsa dan bernegara tersebut. Pertama, Pancasila sebagai idiologi negara Indonesia menyatukan perbendaan ras, suku dan agama dalam bingkai nusantara.

“Ia menegaskan, Pansila adalah roh negara Indonesia yang telah digali oleh founding fathers kita demi menyatukan bangsan indonesia,” kata ART.

Kemudian, ART memaparkan bahwa UUD 1945 adalah wujud dari konsensus dan kesepakatan sebagai landasan bernegara, sehingga menjadi hukum tertiggi di negara ini.

“UUD 1945 menjadi dasar hukum yang mengatur dan membatasi warga negara, lembaga negara dan segala aktivitasnya agar tetap dalam koridor kebaikan dan moralitas dan dijauhkan dari segala bentuk pelanggaran,” jelas dia.

Sementara itu lanjut ART, NKRI adalah simbol kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Kesadaran akan NKRI inilah yang akan mencegah terjadinya perpecahan dan disintegrasi.

“Jika tidak terjadi perpecahan, maka tujuan berbangsa dan bernegara akan tercapai,” beber ART.

Terakhir, ART pun menguraikan tentang Bhineka Tunggal Ika, yang merupakan bentuk terakhir penyatuan bangsa dalam teori negara paripurna dalam perspektif keindonesiaan.

ART menjelaskan, Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

“Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan,” pungkas ART.[]

Continue Reading

PENDIDIKAN

‘Ikrar Sumpah Pemuda Itu Dialektika yang Wujudkan Manifestasi Nasionalisme Pemuda Indonesia’

Published

on

By

JAKARTA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak para pelajar Indonesia merenungkan kembali makna Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober. Tepat 91 tahun lalu, pemuda dan pemudi bangsa Indonesia dari berbagai latar belakang pemikiran, budaya, agama dan suku bangsa, bersatu untuk mengikrarkan persatuan dalam ikatan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yakni Indonesia.

“Ikrar sumpah pemuda merupakan dialektika dan wujud manifestasi nasionalisme pemuda Indonesia untuk menggalang persatuan bangsa dalam perjuangan melawan kolonialisme. Kini setelah kemerdekaan, perjuangan yang utama untuk adik-adik sekalian adalah gigih melawan kebodohan dan berani melawan segala bentuk ketertinggalan,” ujar Bamsoet saat menerima peserta putaran final Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Tahun 2019, di Gedung Nusantara V MPR RI, Jakarta, Selasa (29/10/19).

Turut hadir antara lain Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan Wakil Ketua MPR RI Asrul Sani.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mengingatkan para pelajar agar tak terjerumus dalam efek negatif modernitas globalisasi yang bisa menghilangkan identitas dan jati diri sebagai manusia Indonesia. Manusia yang memiliki Pancasila sebagai ideologi, memiliki kebudayaan yang adi luhung, serta memiliki kepribadian yang beradab dan beretika.

“Masa depan Indonesia tergantung bagaimana tindak tanduk para pelajarnya di masa kini. Derasnya arus informasi teknologi dan gegap gempitanya media sosial, di satu sisi membawa keuntungan, namun di sisi lainnya juga mendatangkan malapetaka. Karenanya, sangat ironis jika kini banyak pelajar yang lebih menyukai budaya K-Pop, Harajuku, dan lainnya, ketimbang mengusung budaya Nusantara. Kita seperti kehilangan daya cipta, rasa, dan karsa sebagai manusia Indonesia. Hal ini tak boleh dibiarkan berlarut terus menerus,” tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menjelaskan, melalui perenungan kembali terhadap nilai-nilai Sumpah Pemuda, akan meneguhkan tekad kita semua, utamanya para pelajar untuk berjuang mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan karya. Hingga dapat membawa Indonesia berlari dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju dunia, ditengah modernitas dan derasnya persaingan globalisasi, tanpa harus menanggalkan karakter dan jatidiri sebagai bangsa Indonesia.

“Sumber daya manusia yang berkualitas dan sistem pendidikan yang bermutu merupakan sebuah keniscayaan dalam memajukan sebuah bangsa. Keduanya saling berkaitan erat. Atas dasar itulah para pendiri bangsa kemudian merumuskannya dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 agar semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa senantiasa melekat dan selanjutnya dapat digulirkan dari generasi ke generasi,” jelas Bamsoet.

Oleh karena itulah, Legislator Partai Golkar Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini menerangkan, Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI yang sudah berjalan sebelas tahun, dimulai sejak tahun 2008, merupakan salah satu bagian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.  Putaran final yang dilangsungkan di MPR RI diikuti 34 SMA/sederajat yang telah lolos seleksi dan mewakili masing-masing provinsi. Setiap SMA/sederajat diwakili 10 siswa, sehingga ada 340 siswa yang akan mengikuti putaran final, untuk kemudian disaring kembali menghadapi Grand Final.

“Sebagai Rumah Kebangsaan, melalui kegiatan LCC ini MPR RI berusaha menanamkan pemahaman tentang Pancasila sebagai ideologi negara, konstitusi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Melalui pemahaman nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara ini, tujuan akhir yang hendak kita capai adalah terbentuknya mental dan karakter bangsa yang berani, berdikari, berdaya saing, berintegritas, serta berkepribadian Indonesia, utamanya di kalangan generasi muda Indonesia,” pungkas Bamsoet. (dwi)

Continue Reading

PENDIDIKAN

SMAN Unggulan MH. Thamrin Gelar Khatamul Quran di Lapangan Sekolah

Published

on

Keluarga besar SMA Negeri Unggulan Muhammad Husni Thamrin, Jakarta saat menggelar Tasyukuran Khatamul Quran pada Jumat, (4/10/2019) pagi

JAKARTA – Keluarga besar SMA Negeri Unggulan Muhammad Husni Thamrin, Jakarta menggelar Tasyukuran Khatamul Quran pada Jumat, (4/10/2019) pagi. Acara Khatamul Quran yang diikuti oleh seluruh civitas akademika SMAN Unggulan MH. Thamrin ini di lapangan sekolah.

Selain Khatamul Quran acara ini juga dirangkaikan dengan pemberian santunan kepada panti asuhan. Dalam kesempatan ini yang menerima santunan yakni Panti Asuhan Tunas Bangsa dan Panti Asuhan Tuna Grahita.

Dalam sambutanya Kepala SMAN Unggulan MH. Thamrin Warnoto mengatakan, tradisi membaca Al Quran awalnya dilaksanakan setiap hari jumat, tetapi sejak bulan Juli 2017 tradisi membaca Al Quran dilaksanakan setiap pagi oleh seluruh warga MH. Thamrin.

“Sejak itu juga sudah beberapa kali khatamul Quran,” kata Warnoto.

Warnoto juga mengungkapkan, kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial lainnya selain menumbuhkan kecerdasan intelegensi juga yang penting menumbuhkan sosial kompetensi siswa. “Kegiatan keagamaan membangun attitude kita kepada sesama,” tegas dia.

Sementara itu, menurut siswa kelas XII-2, Farel Al Izzah, kegiatan tadarus pagi sangat baik karena kesibukan siswa harus ada waktu khusus baca Quran setiap pagi.

“Sebagimana bagi seorang muslim kebiasaan yang baik yakni membaca, memahami dan mengamalkan Al. Quran,” ujar Farel.

SMA Negeri Unggulan MH. Thamrin adalah sekolah unggulan DKI Jakarta dengan konsep boarding school fokusnya ke mata pelajaran sains Ilmu Pengetahuan Alam.

Sejauh ini siswa SMA N. Unggulan MH. Thamrin banyak meraih medali olimpiade sains baik tingkat nasional bahkan internasional. Pada Ujian Nasional tahun 2018 dan 2019, sekolah SMA Negeri Unggulan MH. Thamrin mendapat nilai tertinggi nasional.[]

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending