Connect with us

OPINI

Kekuasaan Negara dan Monopoli Kebertuhanan

Published

on

Ponorogo – Sebelum masuknya agama-agama ‘impor’ ke Indonesia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu), masyarakat Indonesia sudah ber-Tuhan dan menjunjung tinggi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa di atas segala-galanya. Karena itu, tuduhan para penganjur “negara agama”, justru sangat ahistoris, sangat bertentangan dengan kenyataan sejarah.

Sebaliknya, sejarah membuktikan bahwa Dasar Negara Pancasila berakar pada kepribadian bangsa dalam rentangan perjalanan sejarahnya selama ribuan tahun yaitu sebagai bangsa yang luwes, toleran dan terbuka. Sejak awal sejarahnya yang paling dini, pengaruh agama-agama luar diterima dengan ramah, tetapi direfleksikan kembali dalam prinsip Ketuhanan yang lebih universal, mengatasi “agama-agama terorganisasi” (organized religions) yang cenderung sektarian dengan sikap monopoli Kebertuhanan atau dalam bahasa ilmiahnya: “imperialisme doktriner”- yang membahayakan keutuhan bangsa, bahkan peradaban manusia.

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa, sebetulnya merupakan pengakuan (rekognisi) terhadap kehidupan dan kemerdekaan beragama rakyat Indonesia. Sayang, rumusan kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”, seperti dipakai dalam UUD Proklamasi 1945, UUD RIS, dan UUDS 1950, membuka peluang penyangkalan (misrekognisi) terhadap penganut aliran kepercayaan atau agama-agama lokal nusantara yang lebih dulu hidup di Nusantara.

Dan itu terjadi di zaman Orde Baru. Dimulai dari Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 1/PNPS/1965 junto Undang-undang Nomor 5/1969, yang menyebut enam agama yang dianut oleh rakyat Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Namun, Konghucu dipinggirkan di masa Orde Baru. Berdasar Surat Keputusan (SK) Menteri Dalam Negeri tahun 1974, kolom agama di KTP harus diisi dengan pilihan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu ,dan Budha. 

Lalu perlahan-lahan muncul istilah agama resmi dan tidak resmi. Di luar lima agama itu, hanya dianggap aliran kepercayaan saja, termasuk agama lokal. Padahal, menurut Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003, pernah ada 245 agama lokal di Indonesia. Karena tidak diakuinya agama lokal, muncul anggapan bahwa orang Indonesia tidak beragama sebelum abad pertama.

Menurut Parsudi Suparlan dalam buku ‘Agama Dalam Analisis dan Interpretasi Sosiologis’ (1988), agama sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhan, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. 

Mengacu pada definisi Parsudi Suparlan, jika agama itu seperangkat peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, maka tak hanya keenam agama yang diakui pemerintah yang layak disebut agama. Aliran kepercayaan pun layak disebut agama, bukan?

Sayang sekali, praktik misrekognisi warisan Orba itu masih terwariskan hingga sekarang. Jelaslah bahwa pembatasan terhadap hanya 6 agama yang diakui pemerintah,(dan ini semestinya di luar kewenangan pemerintah untuk mengu-rusinya) − jelas-jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tampak sekali “definisi agama” yang melatarbelakangi munculnya berbagai kebijakan diskriminatif terhadap agama nusantara adalah jelas-jelas definisi agama menurut agama tertentu. Misalnya, syarat-syarat bahwa agama harus mempunyai konsep Tuhan, Kitab Suci, dan Nabi adalah jelas-jelas definisi Islam. Diantara agama-agama semitik saja (Yahudi, Islam dan Kristen), konsep Nabi, Kitab Suci dan pe-wahyuan saja sudah berbeda, lebih-lebih lagi agama-agama non-Semitik, seperti Hindu dan Buddha.

Kondisi ini berangkat dari persinggungan antara kekuasaan negara dan keyakinan agama. Jika kekuasaan negara menjadi alat mayoritas untuk menguasai dan menancapkan legitimasi agama tertentu, maka hal ini akan menjadikan agama sebagai sesuatu yang menakutkan. Sebagaimana ditulis Charles Kimball dalam ‘When Religion Becomes Evil’ (2002): “Alih-alih mengharapkan kedamaian dan keadilan yang menjadi muatan utama agama, malah sebaliknya, sakralitas agama pun dinodai oleh umatnya demi menuruti ambisi sesaatnya. Agama pun, menjadi semacam ‘makhluk’ menakutkan yang hanya menebar kejahatan (evil).”

Otoritas kekuasaan yang bersandar pada agama, atau sebaliknya, agama yang bersandar pada kekuasaan negara, hanya menjadikan negara berkuasa mutlak. Memutuskan sesuatu hal seenaknya, mengabaikan “yang lain” yang berbeda, serta menjadikan agama sebagai legitimasi kekuasaan belaka tanpa menciptakan keadilan bagi semua masyarakat.

Oleh : Wanda I. Ramadhan

  • Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo
  • Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fitrah

OPINI

KNPI Satu, yang Terus Bertahan di Tengah Badai Pemuda Indonesia

Published

on

By

Oleh: Habibie Mahabbah, Wakil Bendahara Umum DPP KNPI

“Ada 2 kubu ya sama sama kongres???” tanya kawan mengomentari foto-foto 26 hari lagi menjelang Kongres DPP KNPI Aceh (6-9/11/2018) melakui akun facebook pribadi saya. Nama kawan saya itu sebut saja Tulus.

“Yang sah hanya satu, yang dipimpin oleh Muhammad Rifai Darus didampingi Sekjen Sirajudin Abdul Wahab. Sementara yang disebelah sudah kalah di pengadilan. Tidak sah lagi…,” jawabku saat saya menghubunginya langsung untuk menjelaskan sedikit persoalan KNPI kini.

Berapa menit kemudian, ada komentar masuk di halaman facebook-ku. Dari sahabat lama yang sama-sama yang pernah jadi pengurus DPD II KNPI Jakarta Timur. Sebut saja namanya Bintang.

“Ente klo ngomong ga di ayak,” komentar Bintang.

Sebagai informasi, Bintang adalah salah satu pengurus KNPI sebelah yang dipimpin Fahd Arafiq. Dia juga salah satu kader  Golkar Jakarta Timur yang saya kenal sangat militan. Dedikasinya pada partai beringin  tersebut sangat tinggi.

Kami sama-sama pernah ber-KNPI dari Jakarta Timur hingga KNPI Provinsi DKI Jakarta. Tapi sayang, kami dua dipisahkan di Pengurusan KNPI di Tingkat Pusat. Dipisahkan oleh ‘Tukang belah’.

Saya berhenti sejenak. Dan memutar kembali memori persahabatan kami. Hanya gegar beda pilihan membuat persahabatan kami sedikit bermasalah.

Mungkin cerita kami di atas berlaku juga bagi pengurus KNPI lainnya yang telah mengorbankan persahabatannya dengan konflik. Padahal, persahabatan bagi pemuda itu penting untuk menyatukan enerji untuk membangun bangsa. Mengingat tugas pemuda untuk mengontrol pemerintahan yang sedang berjalan.

Pemuda Kini Dipecah, Darah Persatuan Diuji!

Cerita pendek di atas tak begitu penting. Namun, di balik cerita itu ada pertanyaan besar yang lahir. Apakah energi pemuda Indonesia kini akan habis di tengah konflik? Terus kapan kita ikut membantu pemerintah membangun negeri ini jika kita terus berkonflik dan tak mau mengalah jika sudah kalah di ranah hukum?

Sejatinya, pemuda Indonesia harus belajar dari pemain sepak bola atau cabang olah raga lainnya. Yang siap menerima kalahan, sangat sportif. Saat wasit memutuskan pemenang dalam satu pertandingan, maka para pemain menerima keputusan inkrah itu.

Meski persoalan pemuda tak seperti permainan olahraga yang dipimpin oleh seorang wasit itu. Bukan. Namun, persoalan bangsa harus diemban oleh pemuda yang memiliki era keemasannya untuk berkontribusi bagi bangsa seperti para pahlawan menorehkan ‘Prestasi Emas’ di negeri ini. Sebab masa muda hanya datang sekali. Dan, sayang jika dihabiskan dengan konflik yang dipelihara.

Masih ingatkah kita bahwa persoalan pemuda hanya bisa diselesaikan oleh pemuda itu sendiri? Jika masih ingat, ayo mulai menerima kekalahan atas keputusan pengadilan tersebut. Kita yang mulai memberi pelajaran pada politisi atau elit politik untuk menerima kekalahan dalam setiap pertarungan politik yang ada. Kita pemuda yang ambil peran sebagai teladan persatuan bangsa ini.

Artinya, persoalan pemuda perlu diselesaikan oleh pemuda itu sendiri tanpa adanya intervensi dari pihak luar. Karena pemuda itu masih independen dan masih punya pola pikir yang kuat untuk kemajuan bangsa ini.

Saya masih teringat dengan respon Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang cukup prihatin dengan apa yang dialami KNPI. Bamsoet punya cita-cita suci nan besar, ingin KNPI tetap solid dan berkontribusi untuk bangsa ini.

Menurut Bamsoet kala itu, KNPI harus memberikan tauladan kepada kaum muda lainnya. Perbedaan pandangan atau cara kerja adalah hal yang biasa. Sehingga dialog terbuka dari hati ke hati, perlu dilakukan dengan menhilangkan egoisme dan sikap ingin menang sendiri.

Pesan Bamsoet itu bagus. Namun, ada yang terlupakan oleh politisi Golkar itu. Ia lupa menyampaikan ke publik bahwa dari dua kepengurusan KNPI yang sah dinakhodai Muhammad Rifai Darus. Karena hanya hasil kongres Papua yang diakui negara, sah dihadapan hukum Indonesia.

Bagi saya, Bamsoet yang pernah ber-KNPI tentu tahu kultur KNPI. Tak perlu diajari lagi soal KNPI yang mana kepengurusan secara legal formal yang inkrah diakui negara. Pasti Bamseot sudah tahu. Tinggal bagaimana Bamsoet memfasilitas agar pemuda yang ada disebelah ‘kembali ke jalan yang benar’.  Dan mengakui kepengurusan Muhammad Rifai Darus sebagai KNPI yang sah. Dan, meminta ‘kepengurusan sebelah’ yang kalah, menerima kenyataan, layaknya pemain sepak bola tadi. Seperti Real Madri menerima kenyataan dirinya kalah oleh Barcelona di laga El Clasico terakhir dengan skor 1-4. Itu baru tak ada perpecahanan.

Artinya, Bamsoet sebagai alumni KNPI, tinggal mengajak pengurus yang ‘ilegal’ yang tidak sah sesuai undang-undang berlaku di Indonesia, legowo menerima kepengurusan yang sah. Sikapnya harus tegas. Siapa lagi yang bisa terlibat selesaikan rumah tangga KNPI kalau bukan dari bagian anggota keluarga itu sendiri?

Sejatinya, Bamsoet melihat kedua kepengurusan dengan kacamata konstitusi, dari kedua kekuatan hukum yang dipunyai kedua pengurus itu. Masing-masing kepengurusan membuka lembaran hukum dipunyai. Dengan cara ini, sangat tegas dan tak bertele-tele dalam menyelesaikan persoalan internal KNPI.

Apa hasilnya sekarang? Sekolompok pemuda yang membawa nama besar KNPI, juga akan menggelar kongres tandingan. Sehingga kejadian ini menjadi preseden buruk bagi generasi muda ke depannya. Itu karena kita sebagai bangsa tak mampu mengelola konflik dengan baik.

Sikap Bamsoet, berbanding terbalik dengan Ketua DPR RI sebelumnya Ade Komarudin (Akom). Akom secara tegas mendukungan  DPP KNPI yang dipimpin Ketua Umum Muhammad Rifai Darus dan Sekretaris Jenderal Sirajuddin Abdul Wahab. Itu sebagai respon Akom atas dualisme kepengurusan yang melanda organisasi kepemudaan tersebut.‎

Ada Apa dengan KNPI Kita Semua?

Untuk diketahui, Rifai merupakan Ketua Umum DPP KNPI periode 2015-2018 hasil Kongres XIV di Kota Jayapura, Papua. Kala itu, kongres dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kepemimpinan Rivai kemudian diganjal dengan  Kongres Luar Biasa (KLB)‎ yang melahirkan kepemimpinan Fahd Arafiq. ‎

Kala itu, Akom menginggung kepengurusan Fahd. Sebagai aktivis pemuda, Akom ingin agar kader-kader KNPI harus siap menang dan siap kalah dalam menghadapi setiap pertarungan politik. Pihak yang tidak siap kalah, dan hanya siap menang sebagai pihak yang justru menggerogoti organisasi kepemudaan itu. ‎ Tapi sayang beribu sayang. Semua tinggal pesan moril yang dahsyat.

Kepengurusan Rifai memiliki badan hukum yang sah, Tammi Menkumham mengeluarkan SK NOMOR: AHU-0001403.AH.01.07.TAHUN 2015 tentang pengesahan pendirian badan hukun perkumpulan tertanggal 2 Juni 2015.

Singkat cerita, hasil Kongres Papua itu mulai menuai konflik dengan ‘ceritanya’. Di mana Rifai Darus memilih Ahmad Dolli Kurnia sebagai Ketua MPI ketimbang Taufan EN Rotorasiko. Bermula dari cerita itu konflik berlanjut.

Kemudian dinisiasi Fahd A Rafiq untuk KLB Pemuda/KNPI dihelat di Hotel Kartika Chandra, 1 Juni 2015 lalu. Naming Fahd, tidak memenuhi ketentuan AD/ART KNPI. Syarat sah KLB seperti harus ada pelanggaran AD ART, tertulis oleh setengah lebih dari jumlah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang berhimpun, permintaan tertulis dari lebih setengah DPD KNPI Provinsi, serta dilaksanakan oleh Ketua Umum DPP,  tidak ada yang terpenuhi. Dengan kata lain, tidak sah kepengurusan Fahd itu alias bodong.

Fahd tak tinggal diam. Kemudian mengusulkan pendirian badan hukum untuk kelompoknya. Tanpa banyak kendala, Fahd berhasil membentuk organisasi baru. Mirip KNPI, termasuk logo sebagai merek KNPI yang sah. Namanya Perkumpulan KNPI Pemuda Indonesia, tanpa singkatan atau kepanjangan. SK bernomor AHU-0010877.AH.01.07. bertanggal 23 Oktober 2015.

Banyak yang perlu diapresiasi dari kepengurusan DPP KNPI di bawah Muhammad Rifai Darus. Meski banyak mendapatkan badai melanda, banyak yang telah dilakukan untuk pemuda Indonesia.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan pesan Ketua Umum Rifai Darus usai sertifikat merek dipegang oleh KNPI hasil Kongres Papua:

Rasa syukur yang tiada hentinya kami panjatkan kepada Tuhan YME, serta ucapan terima kasih yang tiada terhingga kepada Ketua Bidang Hukum DPP KNPI, serta seluruh pengurus DPP KNPI, DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan serta OKP Tingkat Nasional Yang Berhimpun dalam KNPI, atas konsistensinya dalam mengawal, menjaga, memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dalam berorganisasi yang baik dan benar.

Sertifikat merek ini merupakan bukti autentik (kuat/sah), atas kepemilikan LOGO & NAMA KNPI – KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA, sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2016, Tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang menjamin kepemilikan atas MEREK/LOGO, NAMA KNPI-KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA, yang tidak boleh dipergunakan oleh pihak manapun yang bukan struktural ataupun tanpa seizin dari pemilik MEREK. (baca : UU No. 20 Thn 2016).

Pada hari ini Senin tanggal 7 Mei 2018, kami atas nama DPP KNPI Periode 2015 – 2018 (MRD & SAW), telah menerima SERTIFIKAT MEREK, yang disahkan oleh KEMENTERIAN HUKUM & HAM RI, dan telah dilakukan penyerahan melalui Ketua Bidang Hukum & Konsultan HKI Bung Adheri Z Sitompul, SH. MH. MIP. CLA, yang diajukan oleh DPP KNPI 2015-2018 (MRD & SAW) yang beralamat di GEDUNG PEMUDA Jl. HR. RASUNA SAID, KOMPLEK GEMA KUNINGAN, JAKARTA SELATAN 12950, pengajuan atas SERTIFIKAT MEREK pada tanggal 10 Januari 2017 dan disahkan pada tanggal 4 Mei 2018,” papar Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat ini.

Insya Allah kami tinggalkan legacy yang baik dan benar agar tidak ada lagi kelompok yang mengatasnamakan KNPI bisa secara tdk terkontrol gunakan Logo dan nama KNPI hanya untuk kepentingan kelompok atau golongan. []

Continue Reading

OPINI

Berharap Hadirnya Rakhmat Allah Pada Diri Sang Hamba

Published

on

Jakarta – Hampir dapat dipastikan, bahwa bagi seorang hamba yang telah sampai pada puncak pengalaman spritual-religiusnya, sungguh meyakini bahwa : semua aktivitas fisik dan psikis seorang manusia yang totalitasnya  dikatagorekan sebagai perbuatan baik ,mulia, terpuji, dan selalu menyesuaikan dengan ridha dan kehendak  Allah, itu adalah akibat rakhmat Allah yang memasuki dan mengilhami seluruh gerak totalitas aktivitas seorang individu hamba Allah.

Atas dasar pemikiran ini, maka seluruh jaringan kerja yang organis pada individu seorang  manusia sebagai hamba Allah, meliputi : kognisi (aspek rasional, pemikiran, keyakinan), afeksi (aspek kejiwaan, rasa dan perasaan), dan psikomotorik (aspek tindakan atau gerak fisik yang terarah), dan  kemudian satu sama lain  terkoneksi secara sadar dan terkoordinasi secara sinergis untuk suatu aktivitas dan perbuatan mulia dan terpuji. Itu bisa terjadi karena rakhmatNya atau Rakhmat Allah SWT.

Seorang hamba yang dengan pengalaman mistis-spritualnya, merasakan dan menyaksikan, betapa manusia sebagai hamba Allah, jika ada dorongan atau getaran hati yang membimbingnya dan memperkuat keyakinannya untuk melakukan tindakan mulia dan terpuji yang diridhai Allah, meskipun dilakukan  tampak luarnya  sangat sulit dan berat, tapi baginya ringan, mudah dan sangat nyaman, semua itu  akibat adanya suatu energi dan dorongan yang meliputi totalitas diri sang hamba. Dorongan itulah yang mengkoordinasikan aspek kognisi, afeksi dan psikomotorik sang hamba. Kemudian dorongan  itu dikenal sebagai  Rakhmat Allah telah mengalir dan memenuhi hati seorang  hamba Allah.

Bahkan dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al  Mankadir, dari Jabir RA : suatu ketika Rasulullah didatangi malaikat Jibril dan sang malaikat bercerita kepada Baginda Rasul. Kata Jibril : “Wahai Muhammad, dahulu kala ada seorang hamba Allah yang beribadah kepada Allah  selama 500 tahun siang dan malam, dia memuja dan memuji Allah dia berzikir dan memuliakan Allah, dia shalat serta menjalankan perintah Allah dan meninggalkan semua hal yang dilarang Allah.”

Dia tinggal di sebuah pulau kecil dan pada pulau itu ada sebuah bukit dan di bukit itu ada satu sumber mata air yang sangat jernih dan segar lalu didekat mata air itu berdiri tegak sebuah pohon delima dan setiap malam pohon delima itu berbuah satu buah delima. Disitulah akhli ibadah itu tinggal, dengan mata air dan pohon delima itu sudah cukup untuk menghidupinya untuk terus beribadah kepada Allah selama 500 tahun.

Suatu hari, ahli ibadah itu meninggal dunia dan datanglah malaikat kepadanya, lalu menyampaikan bahwa dia akan dimasukkan kedalam sorga Allah karena disebabkan Rakhmat Allah. Maka sang akhli ibadah meminta disampaikan kepada Allah, agar malaikat yang akan memasukkannya kedalam sorga itu, menyampaikan permintaannya kepada Allah, agar dia dimasukkan kedalam surga Allah karena ibadahnya yang maksimal selama 500 tahun itu. Karena sang akhli ibadah merasa selama 500 tahun dia beribadah yang luar biasa itu menurutnya, adalah wajar dan layak menyebabkannya mendapatkan sorga Allah. 

Permohonan ahli ibadah itupun disampaikan oleh malaikat kepada Allah dan Allah tetap kepada ketetapanNya, bahwa akhli ibadah itu dimasukkan kedalam sorga adalah semata karena rakhmatNya bukan karena ibadahnya yang luar biasa maksimal dan ikhlas serta istiqamah atau terus menerus. Sampai tiga kali permohonan akhli ibadah dan tiga kali juga ditolak oleh Allah SWT, bahwa Allah berketetapan bahwa hamba Nya itu, masuk kedalam sorgaNya itu adalah karena RakhmatNya, bukan karena ibadahnya yang sangat maksimal itu.

Tetapi karena akhli ibadah memohon berkali kali, dia masuk sorga karena ibadahnya bukan karena rakhmat Allah: maka dihitunglah besarnya pahala ibadahnya dibanding Rakhmat Allah. Maka jika ibadahnya melebihi rakhmat Allah, maka dia akan masuk sorga dan sebaliknya jika Rakhmat Allah melebihi hasil ibadahnya, maka sang akhli ibadah akan masuk neraka.

Maka kemudian dihitunglah amal ibadah sang hamba dibanding rakhmatNya dan hasil akhir nya sang akhli ibadah di haruskan masuk neraka. Maka seketika itu juga sang akhli ibadah memohon ampun kepada Allah dan menyetujui bahwa dia sesungguhnya dapat mencapai dan masuk sorga Allah adalah karena Rakhmat Allah SWT.

Karena pesan yang disampaikan melalui cerita tentang seorang akhli ibadah yang istiqamah itu, yaitu cerita Jibril  kepada Baginda Rasul itu : bahwa kita hidup dalam kuasa dan genggamanNya, maka Rakhmat dari Allah SWT itulah yang mendorong dan menggerakkan kita untuk  beribadah kepadaNya dan untuk berbuat kebajikan dan kemaslahatan, kemuliaan serta segala hal yang terpuji di sisi Allah SWT.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Syech Ibnu Atha’illah Al Iskandariah, sufi dari kota Iskandariah, Mesir, betapa karunia dari Allah berupa rakhmat-Nya itulah yang menolong dan menyelamatkan totalitas  nasib dan keselamatan kita.

Artinya hasrat, niat dan kemauan untuk tunduk dan ta’at kepada Allah SWT  saja kemudian  melakukan segala sesuatu yang : baik, terpuji, terhormat, mulia  dan bermartabat lalu bermanfaat bagi lingkungan dan sesama manusia, tidak akan mungkin dilakukan oleh manusia tanpa karunia dari Allah, yaitu datangnya Rakhmat Allah yang menyelinap dan memasuki dan memenuhi  hati nurani kita. 

Baginda yang mulia dan berbudi pekerti sangat agung : Muhammad Bin Abdullah Bin  Abdul Muthalib, Beliau Rasullullah bersabda :

*La yud khilu ahadan minkum amaluhul jannata. Wa la yuzhiy ruhu minannar Wa la anaa , illa bi rakhmatin minallah.*HR Bukhari*.

Tidak ada amalan seseorang pun yang bisa memasukkannya kedalam sorga dan menyelamatkannya dari api neraka, tidak juga denganku (Muhammad SAW), kecuali dengan/ karena Rakhmat dari Allah SWT.

Bayangkan, kita tidak akan mungkin dan tidak akan mampu berbuat kebaikan dan kebajikan, kalau bukan karunia Allah berupa rakhmatNya.

Adalah paling bijaksana dalam hidup ini, jika kita selalu fokus dan berharap agar hadirnya Rakhmat Allah dalam seluruh totalitas hidup kita. 

Karena itu, agar Rakhmat Allah selalu hadir dalam hidup kita, sebagai mana Surah Al-Baqarah (2), ayat 218 : “Innallaziina aamanuu wallaziina haajaruu wa jaahaduu fii sabiilillaahi ulaaa`ika yarjuuna rohmatalloh, wallohu ghofuurur rohiim” atau Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Seorang manusia  akan mendapatkan Rakhmat Allah, jika dalam aktivitas hidupnya ,dalam setiap saat dan tarikan nafasnya selalu dalam posisi dan berorientasi :(1) Iman, (2) Hijrah dan (3) Jihad.

Iman, adalah setiap detik kehidupan di dunia ini didasari atas dasar keyakinan yang kokoh dan kuat akan adanya Allah SWT, sang pencipta , pemelihara alam semesta dengan segala isinya, keyakinan akan adanya rasul Allah, para malaikat, akan datangnya hari kiamat, kebenaran kitab kitab yang di turunkan dari Allah serta takdir yang ditetapkan untuk manusia.

Iman/keyakinan sebagai fondasi hidup itu, di ekspresikan melalui  kesadaran untuk selalu melakukan hijrah atau selalu bermigrasi dan bertransformasi dari semua perbuatan yang tidak sesuai petunjuk, perintah dan Ridha Allah menuju hamba yang beradaptasi dan menyesuaikan segala aktifitas hidupnya sesuai dengan perintah dan Ridha Allah.

Kemudian Iman dan hijrah itu dilakukan dengan sangat serius dan sungguh sungguh atau disebut Jihad. Maka sang hamba Allah yang melakukan dalam satu kesatuan yang solid : antara iman, hijrah dan jihad, maka itulah yang mengundang datangnya Rakhmat Allah SWT. Wallahu alam bis sawab. 

Oleh : Effendi Ishak (Bidang Kebijakan Publik Pengurus Pusat Muhammadiyah)

 

Continue Reading

OPINI

KPK Jangan Masuk Angin dalam Kasus Meikarta

Published

on

By

Oleh: Muslim Arbi, Koordinator Gerakkan Aliansi Laskar Anti Korupsi (GALAK)

KPK jangan perlihatkan diri bela James Riyadi dalam kasus Suap Meikarta.

Pernyataan Komisioner Alexander Marwata soal James Riyadi yang terkesan membela bisa di artikan ada pembelaan terhadap James Ceo Lippo.

Jika KPK bersikap mendua dalam arti mengusut dan membela dapat di pastikan KPK mainkan dua peran sekaligus dalam menangani Meikarta dan Bos nya ini.

KPK menyidik sekaligus membela (mengadvokasi) seperti statemen Alexander Marwata itu.

Jangan sampe para Aktifis dan Para Pejuang Anti Korupsi yang siang malam ingin kan Korupsi dapat lenyap di negeri ini anggap KPK Banci Kaleng dan Ayam Sayur ketika berhadapan dengan kejahatan korupsi yang di lakukan oleh Korpotasi dan Tokoh bisnis yang dekat dan penopang rezim.

Para Aktifis dan Publik tidak mau tahu ada sikap mendua komisioner dan pimpinan KPK yang berakting di depan publik seolah serius usut dan tangani korupsi tapi ber main2. Ini sangat menyakitkan rasa keadilan Publik dan Penegakkan Hukum dalam pemberantasan Korupsi.

Rasa kepercayaan Publik terhadap KPK mulai terbangun belakangan ini. Karena kerja keras dan serius tangani korupsi dengan OTT dan lainnya. Meski dalam sejumlah kasus E-KTP KPK masih pilih buluh.

Trust publik jangan dirusak lagi oleh KPK dalam penanganan Kasus Suap Meikarta yang libatkan Bos nya itu.

Oleh karena nya terkait kasus Suap Meikarta ini. Segera saja tersangkakan Bos nya. Karena tidak mungkin James tidak tahu. Apalagi Neneng Hasanah Yasin mantan Bupati Bekasi yang sekarang sudah di tahan KPK akui rapat dengan James Riyadi bahas soal Meikarta.

Jadi tidak mungkin James tidak terlibat dalam hal ini.

Dan lagi Suap itu terjadi setelah ketemu dengan James Riyadi. Apa mungkin James tidak tahu atau pura2 tidak tahu? Jangan-jangan James yang atur itu?

Jakarta, 4 Nopember 2018

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending