Connect with us

OLAHRAGA

Kenapa Perlu Jihad Total Melawan Corona?

Published

on

Oleh: H Arsul Sani, SH., MSI., PrM, Wakil Ketua MPR RI. Sekjen DPP PPP ini duduk di Komisi III DPR RI dari 2014 sampai sekarang.

Dari hari ke hari, pandemi corona virus deseas 2019 alias Covid-19 atau SARS-CoV-2 kian meluas. Virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, Cina, pada akhir 2019 itu telah menyerang lebih dari 200 negara. Pada pertengahan April ini jumlah yang terkena infeksi Covid-19 hampir dua juta orang.

Dari jumlah ini 467.074 pasien dinyatakan sembuh, sedangkan korban meninggal tercatat 125.951. Di Indonesia jumlah orang yang terkena virus ini pun terus bertambah. Pada 15 April lalu tercatat 5.136 yang positif terkena Covid-19, atau bertambah 297 hari sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, 446 orang sembuh dan 469 lainnya meninggal. Angka-angka ini memngisyaratkan bahwa kita masih harus terus berujuang untuk melawan virus yang powerful ini. Kita belum tahu kapan peperangan ini akan berakhir. Yang pasti virus ini harus diperangi secara habis-habisan. Saya ingin menyebutnya dengan istilah jihad total melawan corona. Mengapa disebut jihad total?

Jihad, dari bahasa Arab, artinya berjuang, bersunggu-sungguh, bekerja keras, tanpa kenal lelah, tak peduli berapa sulit yang harus dihadapi. Selanjutnya jihad digambarkan sebagai perlawanan atau perang, baik yang bersifat fisik maupun yang nonfisik. Yang pertama disebut berupa perang fisik seperti yang dilakukan Nabi Muhammad melawan musyrikin pada peristiwa Badar atau Uhud.

Di negara kita, jihad seperti ini pernah dikobarkan pada awal kemerdekaan, dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad pada 22 Oktober oleh KH Hasyim Asy’ari. Resolusi jihad ini mampu membakar semangat jihad para santri untuk melawan tentara Sekutu, serta mendorong para santri dari berbagai daerah datang ke Surabaya dan terlibat dalam pertempuran 10 November.

Tak heran jika dalam peristiwa ini bergema takbir di mana-mana. Resolusi Jihad berisi: Setiap muslim tua muda dan miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia; pejuang yang mati dalam membela kemerdeakaan Indonesia layak dianggap syuhada; warga yang memihak kepada Belanda dianggap memecah belah persatuan dan oleh karena itu harus dihukum mati.

Adapun jihad dalam bentuk perlawanan nonfisik adalah perang melawam diri sendiri atau perang melawan hawa nafsu, yang disebut oleh Rasulullah sebagai jihad akbar. Yakni, sebagaimana dikatakan Buya Hamka, mengekang dan menahan hawa nafsu agar kita tidak tergelincir dari jalan Allah ke jalan setan, Bisa lantaran tergoda harta, tahta atau wanita. Dalam kategori ini juga ermasuk jihad melawan setan, yang berupaya memelencengkan diri kita dari akidah mauupun syariah.

Namun, jhad tidak melulu digambarkan sebagai upaya perlawanan, apalagi disalahartikan hanya hanya sebagai perang fisik atau holy war sebagaimana yang dipersepsikan kaum penjajah dulu dan umumnya orang-orang Barat sekarang, termasuk sebagian kalangan muslimin sendiri. Orang-orang yang berdakwah, melalui lisan, tulisan, maupun usaha-usaha kemanusian, mengajarkan agama, bersiyasah untuk menegakkan ajaran agama, menuntut ilmu, termasuk orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Untuk yang disebut terakhir, Allah berfirman, “ Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalampengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya (At-Taubah:122). Sebuah hadis juga menyatakan, “Barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.”

Karena itu, tidak sedikit ulama yang menyatakan, bahwa jihad dalam menuntut ilmu lebih utama dariada jihad di jalan pedang.

Lalu bagaimana dengan jihad melawan corona? Siapa musuh yang kita hadapi?

Perang melawan corona tentu bukan jihad di medan pertempuran seperti di Uhud atau Surabaya. Juga bukan perang melawan setan, sebab virus bukanlah makhluk gaib, Tapi perang melawan makhlus superhalus ini tak kalah sengitnya, dan telah memakan banyak korban jiwa dan harta benda. Selain ratusan pasien yang meninggal, puluhan dokter dan perawat telah pula gugur.

Belum lagi dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi berskala global ini. Termasuk para pelajar, santri, dan mahasiswa yang terpaksa tidak bisa keluar dari rumah mereka untuk menuntut ilmu, yang juga merupakan bagian dari jihad itu.

Meskipun lawannya bukan manusia, perang melawan corona adalah jihad yang bersifat fisik, karena untuk melawannya kita perlu mengerahkan tenaga selain pengetahuan dam harta. Namun dalam perang melawan Covid-19, kita juga melakukan perang nonfisik. Yakni perang melawan diri sendiri. Orang-orang yang berperang melawan diri sendiri saat wabah corona ini tak lain adalah sebagian besar kita yang kini sedang mengekang hawa nafsu atau mengendalkan berbagai keinginan, dengan melakukan physical distancing, stay at home, work from home alias bekerja di rumah.

Termasuk untk tidak menyebarluaskan kabar kibul alias hoaks yang tidak jelas juntrungnya, Menurut Ikatan Dokter ndonesia (IDI) sebagian besar kita inilah yang sesunggunya berada di garis depan dalam melawan corona. Adapun para petugas medis mereka berada di garis belakang, karena mereka hanya dperlukan ketika ada panggilan. Tanpa jihad nonfisik berupa pengendalian dan pengekangan hawa nafsu ini, laju penyebaran pandemi corona akan sulit dibendung. Jihad melawan corona hakikatnya adalah perjuangan keras untuk menyelamatkan manusia. Karena itu, hemat saya, pelang melawan corona adalah sebuah jihad total.

Akhirul kalam, sebuah hadis menyatakan, orang yang wafat karena terkena wabah tha’un, maka dia mati syahid. Berdasarkan hadis ini, tidak diragukan petugas kesehatan yang wafat saat menjalankan tugas menangani corona merupakan syuhada, yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Wallahu a’lam.

Catatan: Tulisan ini sudah pernah dipublish di Lintas Parlemen

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OLAHRAGA

Di Rapat Formatur IMI, Bamsoet Harap Indonesia Menjadi Kiblat Otomotif Kendaraan Listrik Dunia

Published

on

By

JAKARTA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang juga dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) memimpin rapat Final Tim Formatur penyusunan kepengurusan IMI periode 2021-2024. Rapat formatur memutuskan Ketua Dewan Pembina Letjen TNI AD AM Putranto dengan anggota antara lain Hutomo Mandala Putra, Nanan Soekarna, Sambudi Gustian, Tinton Soeprapto, Ricardo Gelael, Rommy Winata, Iwan Bule, Prasetyo Edi Marsudi dan lain-lain. Sementara Sekretaris Jenderal dipegang Ahmad Sahroni, Bendahara Umum dipegang Effendi Gunawan. Para Wakil Ketua Umum antara lain Sadikin Aksa, Boy Haryanto Joedo, Rifat Sungkar, M Riyanto, Judiarto (Event Internasional), Tengku Irvan Bahran (Motorsport Digital) dan Muhamad Setiawan (Pengembangan Kendaraan Listrik).

Pengurus di bidang balap roda empat dan roda didominasi oleh anak-anak muda milenial pembalap prestasi.

Pelantikan pengurus rencananya dilakukan oleh Ketua KONI pada awal Februari 2021, dihadiri Menteri Perhubungan, Menteri Pemuda dan Olahraga, Menteri Perindustrian, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hingga Kapolri. 

“Para tokoh balap dan otomotif nasional juga terlibat dalam kepengurusan IMI 2021-2024. Antara lain Moreno Soeprapto di Badan Penasehat. Rifat Sungkar sebagai Wakil Ketua Umum Mobilitas dan Ananda Mikola sebagai Ketua Komisi Balap Mobil. Para milenial dan selebritis pecinta otomotif juga ambil bagian. Antara lain Rudy Salim sebagai Wakil Bendahara. Di Bidang Komunikasi dan Media Sosial ada Raffi Ahmad, Atta Halilintar, Andre Taulany, Gading Marten hingga Jolene Marie,” ujar Bamsoet di Jakarta, Jumat (15/1/21). 

Mantan Ketua Komisi III DPR RI dan Ketua DPR RI ke-20 ini mengungkapkan, beberapa nama senior di dunia balap dan otomotif juga akan terlibat di kepengurusan IMI 2021-2024. Antara lain Letjen TNI A.M Putranto, Tinton Soeprapto, Hutomo Mandala Putra (Tomy Soeharto), Ricardo Gelael, Rosan Roeslani, Komjen Pol (purn) Nanan Soekarna, Romy Winata, hingga Yapto Sumarmo yang berada di Badan Pembina. 

“Kombinasi senior-junior akan menguatkan semangat gotong royong di kepengurusan IMI 2021-2024. Karena memajukan industri dan olahraga otomotif perlu melibatkan banyak pihak, baik dari unsur pemerintahan hingga berbagai kalangan masyarakat,” ungkap Bamsoet. 

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menambahkan, dalam kepengurusan IMI 2021-2024 akan ada posisi baru, yakni Direktur Pengembangan Kendaraan Listrik yang akan dipegang oleh Setiawan. 

“Salah satu misi IMI adalah mempercepat migrasi kendaraan konvensional berbahan bakar fosil ke kendaraan bermotor listrik. Bersama pemerintah, IMI ingin mewujudkan Indonesia sebagai kiblat otomotif kendaraan bermotor listrik dunia. Karena kita punya sumber daya nikel yang luar biasa, market yang besar dengan 260 juta penduduk, serta infrastruktur jalan hingga pelabuhan yang sangat layak sebagai penunjang ekspor,” pungkas Bamsoet. (Dwi)

Continue Reading

HIBURAN

Ini Penyebab Pasien Covid-19 Betah Dirawat RSD Wisma Atlet

Published

on

By

JAKARTA – Sebelum masuk ke Wisma Atlet banyak pasien Covid-19 beranggapan bahwa diisolasi di Wisma Atlet itu serem tak bisa apa-apa, tak bisa bebas keluar dari kamar. Namun, setelah masuk dan dirawat beberapa hari di RSD Wisma Atlet anggaran itu sirna.

Hal ini diakui oleh Iman Darmawan seorang pasien Covid-19 yang hari ini sudah dinyatakan negatif atau sudah sembuh dari virus itu oleh tim dokter. Iman tinggal menunggu berkas-berkas dari RSD Wisma Atlet kemudian bisa pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga.

“Awalnya sebelum masuk sini saya pikir serem. Tinggal istirahat di kamar dan kita dibatasi kegiatannya. Tapi setelah masuk ke sini malah asik, saya jadi betah. Mana semua fasilitas gratis, termasuk makanan, obat-obatan dan banyak lagi seperti buah dan makanan lainnya semua kita peroleh dengan gratis. Mirip liburan gratis,” kata Iman yang mengaku senang dirawat di Wisma Atlet pada wartawan Bela Rakyat, Sabtu (5/12/2820).

“Saya senangnya saya, diajak gabung grup Whatsapp yang dihuni para pasien yang masih perawatan hingga kawan-kawan yang sudah sembuh (alumni) pasien Covid-19 Wisma Atlet yang sudah beraktivitas diluar sana. Mereka yang sudah sembuh biasanya memberikan tips atau motivasi untuk sembuh. Dan asiknya lagi, ada dokter yang positif Covid-19 yang menjalani perawatan juga tergabung di grup itu ngasi tips kesehatan agar segera sembuh. Dan alhamdulillah saya sudah negatif,” lanjut Iman.

Yang membuat Iman merasa makin senang di Wisma Atlet, ia tergabung dalam tim bola voli sebagai olahraga yang disukainya. Apalagi para anggota tim voli sangat ramah dan saling memotivasi untuk sembuh.

“Saya biasanya abis jalan kaki sambil berjemur, saya istirahat melihat permainan voli. Eh, ternyata saya diajak gabung main voli. Paling seru lagi ada turnamen voli ternyata di sini. Tidak nyangka bisa seru itu turnamennya,” cerita Iman menyampaikan cikal bakal dirinya menemukan banyak teman di Wisma Atlet.

Iman menceritakan, awalnya, panitia hanya ingin membuka 3 tim bola voli. Namun, antusias peserta terus bertambahk membuat panitia membuka 6 tim buat peserta.

“Peminat banyak bahkan lebih tapi kita batasi hingga 6 tim saja. Jika tidak bisa sampai 8 tim,” ujar Iman alumni IPB ini.

Ia menjelaskan, pada turnamen itu dimenangkan oleh Tim 3. Di mana Tim 3 berhak atas piala bergilir yang bisa diperebutkan kembali oleh pasien-pasien selanjutnya.

“Turnamen ini sudah ditutup hari ini dengan ditandai Event Special dengan Super Big Match. Di mana 26 orang terpilih dimasukan dalam Tim All Star yang dibagi 2 tim, tim A dan Tim B, yang dimenangkan oleh Tim A yang dipimpin oleh Pak Iqbal dan Dokter Ferdinan,” ujar Iman.

Sementara itu, peserta Turnamen Voli Rio mengatakan, dirinya senang bisa ikut lomba voli. Ia menyakini, olahraga rutin yang dijalaninya selama di Wisma Atlet membuatnya hari ini sudah dinyatakan negatif dari virus Covid-19 itu.

“Terimakasih sudah menggelar pertandingan voli. Saya rasa semua peserta berbahagia, ketawa semuanya dan gembira semua selama pertandingan. Dan salah satu membuat imun saya normal karena olahraga yang cukup. Istirahat yang cukup. Tentunya karena displin juga tidak begadang,” aku Rio yang sudah siap-siap kembali ke rumah berkumpul bersama keluarga.

Untuk diketahui, RSD Wisma Atlet sebelumnya adalah Apartemen untuk atlet Asian Games 2018. Di awal tahun 2020 Pandemi Covid-19 ini menyerang dunia pemerintah memutuskan tempat tersebut sebagai rumah sakit darurat. (HMS)

Continue Reading

OLAHRAGA

Bamsoet: Prestasi Aero Raih Gelar Juara Dunia Harus Diikuti Semua Atlet Indonesia

Published

on

By

JAKARTA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo bangga terhadap berbagai capaian yang diraih kakak adik atlet Jetski nasional, Aero Sutan Aswar (25 tahun) dan Aqsa Sutan Aswar (22 tahun). Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, Aero berhasil meraih gelar juara dunia di kelas Pro Runabout Stock pada ajang kompetisi jetski internasional World Finals yang digelar pada tanggal 12 Oktober 2014 di Lake Havasu, Arizona, Amerika Serikat.

Sementara Aqsa, di usianya yang baru menanjak 14 tahun, berhasil meraih posisi juara pertama di kategori Pro Runabout Limited dan Expert Runabout Limited dalam kejuaraan jetski Canadian Watercross Nationals di Belle River, Ontario, Kanada yang diselenggarakan pada tanggal 17 Juli 2011.

“Berkat berbagai prestasi yang ditorehkan dua bersaudara inilah, pada saat menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia berani mengajukan pertandingan cabang olahraga Jetski untuk dipertandingkan dalam Asian Games. Bangsa Indonesia patut bangga, karena dengan usulan Indonesia tersebut, olahraga Jetski untuk pertama kalinya bisa dipertandingkan dalam ajang Asian Games. Lebih membanggakan lagi, Aqsa Sutan Aswar berhasil mempersembahkan medali emas dari nomor endurance runabout open,” ujar Bamsoet usai Podcast Ngobras sampai Ngompol (Ngobrol Asyik sampai Ngomong Politik) bersama Aero Sutan Aswar, di kanal youtube Bamsoet Channel, di Jakarta, Kamis (26/11/20).

Calon Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini mengungkapkan, tidak banyak yang tahu bahwa dua bersaudara ini merupakan cucu dari Sutan Aswar, salah satu pendiri Angkatan Udara Republik Indonesia. Sutan Aswar juga seorang ilmuwan yang turut menemukan bahan bakar untuk pesawat (AVTUR).

“Lahir dari garis keturunan orang besar, bukan berarti membuat hidup Aero dan Aqsa menjadi mudah. Semua hal yang didapatkan saat ini, tak lain berkat kedisiplinan, kerja keras, dan ketekunan. Tak heran jika di usianya yang baru menanjak 16 tahun, Aero sudah mencatatkan dirinya sebagai pembalap Jetski termuda dunia di kelas Pro dan Grand Prix. Aero juga tiga kali menjuarai Kejuaraan Dunia Jetski, yakni pada tahun 2014, 2016 dan 2019. Prestasi ini harus memotivasi atlet lain untuk memenangkan kompetisi di tingkat dunia,” ungkap Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 juga bangga, ditengah berbagai prestasi yang telah ditorehkan Aero maupun Aqsa, keduanya masih peduli terhadap pendidikan. Menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya, bahwa terlepas dari berbagai karya yang telah diperbuat, pendidikan tetap harus diperhatikan. Tidak boleh ditinggalkan begitu saja.

“Pendidikan bukan hanya di bangku sekolah formal saja, melainkan juga bisa diakses melalui berbagai institusi non-formal. Menjadi atlet memang sebuah hal yang membanggakan, apalagi jika bisa mengharumkan nama Indonesia. Namun perlu diingat, tak selamanya atlet bisa berjaya. entah karena usia maupun tuntutan regenerasi. Karenanya, selain berlatih dan menempa diri, menempuh pendidikan juga hal yang tak boleh dilupakan,” pungkas Bamsoet. 

Seperti apa keseruan obrolan Bamsoet bersama Aero Sutan Aswar, bisa disaksikan selengkapnya di Podcast Ngobras sampai Ngompol di akun Youtube Bamsoet Channel. (dwi)

Continue Reading














Kategori

Topik Terkini

Trending