Connect with us

OLAHRAGA

Ketahanan Keluarga, Strategi Penguatan Ideologi Bangsa

Published

on

SOLOK – Anggota MPR RI Hermanto menilai, sudah saatnya negara membuat strategi penguatan ideologi dan konstitusi melalui ketahanan keluarga.

“Negara harus sudah fokus memberikan pemahaman Pancasila dan konstitusi pada unit keluarga sehingga keluarga menjadi unit terkecil dalam mencegah masuknya paham-paham yang bertentangan dengan budaya bangsa,” ujar Hermanto dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR Kepada Aparatur Pemerintah di Aula Kantor Camat Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Kabupaten Solok Selatan belum lama ini.

Menurutnya, arus informasi yang tidak sesuai dengan Pancasila meluncur deras melalui teknologi informasi.

“Sulit dibendung masuk ke alam pikir masyarakat. Akibatnya, pemahaman masyarakat terhadap Pancasila semakin lemah,” ujar legislator dari FPKS ini.

Setiap individu, lanjutnya, saat ini sangat mudah mengakses informasi melalui media elektronik tanpa instrumen penyaring.

“Tidak sedikit informasi yang didapat itu kemudian membentuk pola pikir dan gaya hidup masyarakat yang bertentangan dengan budaya bangsa,” paparnya.

Paham liberalisme, komunisme, vandalisme, dan lain-lain berserakan di media elektronik internet.

“Patut menjadi perhatian bagi negara untuk mengantisipasinya. Agar bangsa Indonesia tetap berada pada nilai budaya bangsa yang memiliki ciri keindonesiaan, namun tetap dapat menerima budaya modern yang tidak merusak,” tuturnya.

Penguatan ketahanan keluarga menjadi salahsatu solusi efektif dalam menyaring maraknya informasi tersebut. Keluarga yang kuat akan mampu memilah dan memilih informasi.

“Keluarga yang kuat hanya akan mengambil informasi yang sesuai dengan ideologi bangsa dan membuang jauh-jauh informasi yang tidak sesuai apalagi yang merusak,” ucap Hermanto.

“Kita berharap setiap keluarga Indonesia menjadi cermin budaya bangsa yang kokoh menjalankan nilai Pancasila,” pungkas legislator dari Dapil Sumatera Barat I ini. (JOKO)

OLAHRAGA

Kenapa Perlu Jihad Total Melawan Corona?

Published

on

By

Oleh: H Arsul Sani, SH., MSI., PrM, Wakil Ketua MPR RI. Sekjen DPP PPP ini duduk di Komisi III DPR RI dari 2014 sampai sekarang.

Dari hari ke hari, pandemi corona virus deseas 2019 alias Covid-19 atau SARS-CoV-2 kian meluas. Virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, Cina, pada akhir 2019 itu telah menyerang lebih dari 200 negara. Pada pertengahan April ini jumlah yang terkena infeksi Covid-19 hampir dua juta orang.

Dari jumlah ini 467.074 pasien dinyatakan sembuh, sedangkan korban meninggal tercatat 125.951. Di Indonesia jumlah orang yang terkena virus ini pun terus bertambah. Pada 15 April lalu tercatat 5.136 yang positif terkena Covid-19, atau bertambah 297 hari sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, 446 orang sembuh dan 469 lainnya meninggal. Angka-angka ini memngisyaratkan bahwa kita masih harus terus berujuang untuk melawan virus yang powerful ini. Kita belum tahu kapan peperangan ini akan berakhir. Yang pasti virus ini harus diperangi secara habis-habisan. Saya ingin menyebutnya dengan istilah jihad total melawan corona. Mengapa disebut jihad total?

Jihad, dari bahasa Arab, artinya berjuang, bersunggu-sungguh, bekerja keras, tanpa kenal lelah, tak peduli berapa sulit yang harus dihadapi. Selanjutnya jihad digambarkan sebagai perlawanan atau perang, baik yang bersifat fisik maupun yang nonfisik. Yang pertama disebut berupa perang fisik seperti yang dilakukan Nabi Muhammad melawan musyrikin pada peristiwa Badar atau Uhud.

Di negara kita, jihad seperti ini pernah dikobarkan pada awal kemerdekaan, dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad pada 22 Oktober oleh KH Hasyim Asy’ari. Resolusi jihad ini mampu membakar semangat jihad para santri untuk melawan tentara Sekutu, serta mendorong para santri dari berbagai daerah datang ke Surabaya dan terlibat dalam pertempuran 10 November.

Tak heran jika dalam peristiwa ini bergema takbir di mana-mana. Resolusi Jihad berisi: Setiap muslim tua muda dan miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia; pejuang yang mati dalam membela kemerdeakaan Indonesia layak dianggap syuhada; warga yang memihak kepada Belanda dianggap memecah belah persatuan dan oleh karena itu harus dihukum mati.

Adapun jihad dalam bentuk perlawanan nonfisik adalah perang melawam diri sendiri atau perang melawan hawa nafsu, yang disebut oleh Rasulullah sebagai jihad akbar. Yakni, sebagaimana dikatakan Buya Hamka, mengekang dan menahan hawa nafsu agar kita tidak tergelincir dari jalan Allah ke jalan setan, Bisa lantaran tergoda harta, tahta atau wanita. Dalam kategori ini juga ermasuk jihad melawan setan, yang berupaya memelencengkan diri kita dari akidah mauupun syariah.

Namun, jhad tidak melulu digambarkan sebagai upaya perlawanan, apalagi disalahartikan hanya hanya sebagai perang fisik atau holy war sebagaimana yang dipersepsikan kaum penjajah dulu dan umumnya orang-orang Barat sekarang, termasuk sebagian kalangan muslimin sendiri. Orang-orang yang berdakwah, melalui lisan, tulisan, maupun usaha-usaha kemanusian, mengajarkan agama, bersiyasah untuk menegakkan ajaran agama, menuntut ilmu, termasuk orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Untuk yang disebut terakhir, Allah berfirman, “ Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalampengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya (At-Taubah:122). Sebuah hadis juga menyatakan, “Barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.”

Karena itu, tidak sedikit ulama yang menyatakan, bahwa jihad dalam menuntut ilmu lebih utama dariada jihad di jalan pedang.

Lalu bagaimana dengan jihad melawan corona? Siapa musuh yang kita hadapi?

Perang melawan corona tentu bukan jihad di medan pertempuran seperti di Uhud atau Surabaya. Juga bukan perang melawan setan, sebab virus bukanlah makhluk gaib, Tapi perang melawan makhlus superhalus ini tak kalah sengitnya, dan telah memakan banyak korban jiwa dan harta benda. Selain ratusan pasien yang meninggal, puluhan dokter dan perawat telah pula gugur.

Belum lagi dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi berskala global ini. Termasuk para pelajar, santri, dan mahasiswa yang terpaksa tidak bisa keluar dari rumah mereka untuk menuntut ilmu, yang juga merupakan bagian dari jihad itu.

Meskipun lawannya bukan manusia, perang melawan corona adalah jihad yang bersifat fisik, karena untuk melawannya kita perlu mengerahkan tenaga selain pengetahuan dam harta. Namun dalam perang melawan Covid-19, kita juga melakukan perang nonfisik. Yakni perang melawan diri sendiri. Orang-orang yang berperang melawan diri sendiri saat wabah corona ini tak lain adalah sebagian besar kita yang kini sedang mengekang hawa nafsu atau mengendalkan berbagai keinginan, dengan melakukan physical distancing, stay at home, work from home alias bekerja di rumah.

Termasuk untk tidak menyebarluaskan kabar kibul alias hoaks yang tidak jelas juntrungnya, Menurut Ikatan Dokter ndonesia (IDI) sebagian besar kita inilah yang sesunggunya berada di garis depan dalam melawan corona. Adapun para petugas medis mereka berada di garis belakang, karena mereka hanya dperlukan ketika ada panggilan. Tanpa jihad nonfisik berupa pengendalian dan pengekangan hawa nafsu ini, laju penyebaran pandemi corona akan sulit dibendung. Jihad melawan corona hakikatnya adalah perjuangan keras untuk menyelamatkan manusia. Karena itu, hemat saya, pelang melawan corona adalah sebuah jihad total.

Akhirul kalam, sebuah hadis menyatakan, orang yang wafat karena terkena wabah tha’un, maka dia mati syahid. Berdasarkan hadis ini, tidak diragukan petugas kesehatan yang wafat saat menjalankan tugas menangani corona merupakan syuhada, yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Wallahu a’lam.

Catatan: Tulisan ini sudah pernah dipublish di Lintas Parlemen

Continue Reading

OLAHRAGA

Bamsoet: Indonesia Harus Terus Lahirkan  Pebulutangkis Juara Dunia

Published

on

By

JAKARTA – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan usaha memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat harus terus digalakan. Dimulai dari berbagai lembaga negara sebagai leading sectornya, selanjutnya diikuti berbagai kalangan masyarakat.

Selain hidup sehat dan jiwa kuat, menurut Bamsoet, bersatu olahraga juga bisa merilekskan pikiran dari kesuntukan, serta menghindari tubuh dari berbagai penyakit. Dengan gemar berolahraga, interaksi sosial bisa semakin harmonis, sehingga potensi konflik dalam masyarakat juga bisa diminimalisir.

“Semangat itulah yang diimplementasikan DPR RI dalam rangkaian acara peringatan HUT Republik Indonesia ke-74 sekaligus HUT DPR RI ke-74. Dimulai dengan ‘Gowes Sehat’ pada 31 Agustus 2019, ditutup hari ini dengan pertandingan bulutangkis, memperebutkan Piala Ketua DPR RI. Selain perwujudan semangat fairplay dan sportivitas dalam hidup, juga mencerminkan semangat ‘Men Sana in Corpore Sano’, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat,” ujar Bamsoet saat membuka Pertandingan Bulutangkis, di Sport Center DPR RI, Jakarta, Selasa (17/09/19).

Turut hadir Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo, Anggota Komisi III DPR RI Aria Bima, Anggota Komisi V DPR RI Andi Iwan Aras, dan Ketua BNP2TKI Nusron Wahid. Pertandingan yang diikuti 90 lebih peserta ini terbagi dalam dua kelas pertandingan. Para karyawan, staf ahli, anggota DPR RI, wartawan, mitra kerja DPR, dan masyarakat umum, semua berbaur menjadi satu.

Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini menambahkan, selain menjadi salah satu cabang olahraga berprestasi yang membanggakan, di mata Bangsa Indonesia, bulutangkis merupakan cabang olahraga ‘sejuta umat’, berdampingan dengan sepak bola yang telah menjadi urat nadi kehidupan olahraga masyarakat. Tak heran jika bermain bulutangkis juga dapat dijadikan ajang mempererat hubungan persaudaraan sesama anak bangsa.

“Karenanya, dalam pertandingan bulutangkis ini, hal yang lebih penting untuk dikedepankan adalah kebersamaan, bukan menang atau kalah. Dengan demikian target utamanya bukanlah menjadi juara, melainkan meningkatkan rasa persaudaraan,” tutur Bamsoet.

Lebih jauh Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, sejarah bulutangkis di Indonesia telah dimulai sekitar tahun 1930-an. Pada masa itu, cabang olahraga ini bernaung dalam Ikatan Sport Indonesia (ISI). Bulutangkis kemudian sempat dilupakan karena Indonesia menghadapi masa perang.

“Setelah Indonesia merdeka, bulutangkis kembali berkembang pada tahun 1947. Bahkan pada tahun 1948, dalam kampanye nation building yang digelorakan Presiden Soekarno, didalamnya turut menyertakan olahraga. Bulutangkis menjadi salah satu cabang olahraga yang diperkenalkan dalam kampanye tersebut. Pada saat itu Presiden Soekarno berjanji akan menjadikan Indonesia sukses berprestasi tingkat dunia,” jelas Bamsoet.

Melalui Keppres No. 263 Tahun 1953, Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menerangkan, Presiden Soekarno mencanangkan Indonesia bisa berada di posisi 10 besar dunia. Harapan tersebut akhirnya dapat diraih pada tahun 1958.

“Ketika itu, Indonesia sukses menjuarai Thomas Cup di Singapura. Menjawab tantangan negara-negara lain yang pada saat itu menganggap Indonesia hanyalah tim lemah. Prestasi membanggakan itulah yang harus kita pertahankan hingga saat ini,” terang Bamsoet.

Bendahara Umum DPP Partai Golkar 2014-2016 ini menilai, dengan jumlah penduduk mencapai 260 juta jiwa, seharusnya bukan hal yang sulit bagi Indonesia melahirkan atlet berprestasi di berbagai cabang olahraga, termasuk bulutangkis. Di masa lalu Indonesia berhasil melahirkan para pemain bulutangkis legendaris seperti Rudi Hartono yang mampu memenangi kejuaraan All England hingga delapan kali, sejak tahun 1960-an sampai 1980-an, yang hingga kini belum bisa ditandingi oleh atlet bulutangkis dari negara manapun.

“Jejak Rudi Hartono kemudian diikuti Liem Swe King, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat dan beberapa atlet lainnya yang meraih berbagai predikat juara di tingkat internasional, termasuk olimpiade. Diantaranya atlet muda, Jonathan Christie yang mengharumkan nama Indonesia dalam kancah Asian Games 2018 serta pasangan ganda putra Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan yang baru saja memenangkan gelar Juara Dunia 2019 di Jepang. Maupun pasangan fenomenal Marcus Gideon dengan Kevin Sanjaya yang masih menempati peringkat 1 ganda putra dunia. Kedepannya Indonesia harus mampu terus melahirkan para atlet yang mengharumkan nama bangsa,” pungkas Bamsoet. (dwi )

Continue Reading

OLAHRAGA

Bamsoet Dukung Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia

Published

on

By

JAKARTA – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) memandang Indonesia bisa mengambil peluang atas permasalahan yang tengah dihadapi Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebagaimana diketahui, Prancis tengah menyelidiki mantan Presiden Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) sekaligus Wakil Presiden FIFA, Michael Platini. Penyelidikan yang dilakukan Prancis tersebut menitikberatkan kepada intervensi Prancis yang melibatkan Michael Platini dan mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, atas dugaan skandal suap yang menjadikan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

“Sebagai sahabat, Indonesia tentu prihatin atas berbagai kejadian yang menimpa Qatar. Kita memang belum tahu seperti apa hasil akhir penyelidikan yang dilakukan Prancis. Apakah tidak ada sanksi apapun, atau justru akan berujung kepada tindakan FIFA menganulir keputusan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebagaimana pada tahun 1982, FIFA pernah membatalkan Colombia sebagai host Piala Dunia 1986. Jika seandainya hal itu sampai terjadi lagi pada Qatar, maka Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di benua Asia, bisa mengisi kekosongan host tersebut,” ujar Bamsoet saat menerima Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), di Ruang Kerja Ketua DPR RI, Jakarta, Rabu (26/06/19).

Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, Ketua Umum MSBI Sarman El Hakim, Sekjen MSBI Hary Saputra dan para pengurus lainnya seperti Bambang Roni, Eko S Tjiptadi, Noah Meriem, Zulfikar Utama, Hariqo serta Agres Setiawan.

Bendahara Umum DPP Partai Golkar periode 2014-2016 ini menambahkan, jika pun FIFA tidak menganulir Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, Indonesia masih berpeluang menjadi host Piala Dunia pada 2034. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-34 yang saat ini tengah dilakukan di Bangkok, Thailand, sepuluh negara ASEAN termasuk Indonesia telah mengajukan tawaran bersama untuk menjadi host Piala Dunia 2034.

“Presiden The Asean Football Federation (AFF), Khiev Sameth, juga telah mendukung langkah tersebut. Sebagai sebuah kawasan yang tumbuh dengan pesat, di tahun 2013 saja PDB ASEAN mencapai USD 2,4 triliun dollar, dengan jumlah penduduk lebih dari 639 juta jiwa. Konektifitas masyarakat ASEAN juga sangat tinggi, transportasi dari satu negara ke negara lainnya sangat mudah, baik menggunakan jalur darat, laut, maupun udara. Tidak perlu ditanya mengenai kebudayaan, karena semua sudah tahu bagaimana kayanya kebudayaan dan kesenian masyarakat ASEAN,” tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menilai, dari segi infrastruktur, Indonesia sudah sangat siap menjadi host Piala Dunia. Masyarakat Indonesia yang terkenal keramahan dan kesantunannya akan dengan suka cita menyambut para tamu yang datang dari berbagai negara. Terbukti pada saat menjadi host ASIAN Games 2018 lalu, berbagai dunia mengakui kinerja dan pelayanan yang diberikan Indonesia.

“Selain menjadi kebanggaan nasional, dengan menjadi host sepakbola yang merupakan olahraga sejuta umat, Indonesia bisa semakin merekatkan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Di sisi lain, dari segi potensi ekonomi, multiplier effectnya akan sangat besar sekali,” pungkas Bamsoet. (Dwi)

Continue Reading














Kategori

Topik Terkini

Trending