Connect with us

TEKNOLOGI

Mesin Pengering Ampas Tahu Mudahkan Aktivitas UKM Tahu Desa Tawangsari

Published

on

Sidoarjo – Desa Tawangsari di Kecamatan Taman merupakan komplek UKM (Usaha Kecil Menengah) produksi tahu. Dalam produksinya menghasilkan efek samping ampas tahu. 

“Ampas tahu basah ini jika berlebih dan tidak segera dimanfaatkan akan menimbulkan pencemaran lingkungan dan bau. Ampas Tahu basah yang masih baru dan segar sering dibeli masyarakat sekitar oleh para peternak dan pembuat tempe gembus (menjes),” tegas Bellina Yunitasari selaku ketua tim pelaksana kegiatan. Senin, (03/11).

Lanjut Bellina, karena ampas tahu basah hanya memiliki daya simpan 1 hari (di udara luar) atau 2-3 hari (dalam lemari pendingin) menyebabkan para peternak harus segera memberikan ampas tahu basah langsung ke ternaknya.

“Dan pengrajin tempe menjes juga harus segera melakukan produksi, jika tidak ampas tahu basah akan mengandung amonia (merupakan gas beracun) dan berbau busuk,” pungkas dia.

LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UNESA memiliki tanggung jawab yang besar untuk meningkatkan pemanfaatan ampas tahu. “Untuk meningkatkan ketahanan daya simpan dan warna dari hasil pengeringan yang lebih menyerupai warna asli,” tuturnya.

“Oleh karena itu, melalui program diseminasi produk teknologi ke masyarakat ini diharapkan menjadi salah satu solusi atas kendala yang dihadapi oleh UKM Tahu,” tambah Bellina.

Program ini merupakan kerjasama antara Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan Direktorat Jenderal Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), Kemeristekdikti melakukan hilirisasi produk teknologi ke masyarakat. 

Masih dengan Bellina, dirinya menceritakan bahwa, produk teknologi yang diserahkan ke masyarakat pemilik UKM tahu berupa mesin pengering teknologi rotary untuk membuat bahan tepung makanan dan pakan ternak.

Bellina Yunitasari yang selaku ketua tim melakukan penyerahan didampingi oleh anggota tim Tri Hartutuk Ningsih, dan Nur Aini Susanti. 

“Tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan nilai ekonomi limbah ampas tahu menggunakan mesin pengering teknologi rotary untuk membuat bahan tepung makanan dan pakan ternak,” ikbugnya

Ampas tahu basah dijual dengan harga murah dan hanya dimanfaatkan untuk menjes dan pakan ternak secara langsung. 

Masyarakat desa Tawangsari belum mengerti lebih banyak manfaat dari ampas tahu yang telah dikeringkan yaitu untuk membuat krupuk, bahan roti, selai, perkedel serta ampas tahu kering juga bisa diproses untuk membuat pakan ternak berupa pellet ikan, ungas, kelinci dan sapi.

Mesin pengering teknologi rotary merupakan hasil karya mahasiswa jurusan Teknik Mesin UNESA yang dirancang semaksimal mungkin. “Dengan konsep sederhana, sehingga proses pengerjaannya sangat mudah dan hasil pengeringan ampas sesuai dengan apa yang diharapkan,” tandasnya.

Ampas tahu basah dikeringkan dengan cepat dan warna yang dihasilkan tetap putih (seperti pada awalnya). “Sehingga mesin ini mudah dijangkau, mudah dipindah-pindahkan, mudah dikuasai dan dikembangkan oleh UKM tahu skala rumah tangga maupun skala kecil diwilayah pedesaan,” tutup Bellina.

Pada kegiatan sosialisasi, Adi Sucipto selaku Kepala Desa Tawangsari mengungkapkan, alat ini akan membantu memperdayakan masyarakat mengembangkan peternakan dan usaha kue dengan bahan dasar ampas tahu kering.

Dalam kegiatan ini, tim pelaksana kegiatan juga melakukan sosialisasi penggunaan alat dan penyuluhan peningkatan nilai ekonomi ampas tahu di desa Tawangsari yang didampingi oleh kepala desa, perangkat desa, perwakilan BPD (Badan Permusyawaratan Desa), KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) desa Tawangsari Kecamatan Taman. 

Acara sosialisasi ini dihadiri oleh masyarakat desa yang rata-rata pemilik UKM tahu, peternak dan perwakilan pengurus PKK yang mengembangkan usahan kue.

Dari hasil diskusi dan masukan diketahui bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan teknologi pengering ampas tahu. Beberapa masyarakat juga menyampaikan kebutuhannya untuk mengatasi masalah sampah dan pembuatan pakan ternak. (ari)

TEKNOLOGI

Hasil Survei, Jokowi Jangan Jumawa

Published

on

Jakarta – Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April mendatang, sejumlah lembaga survei telah merilis hasil survei tentang elektabilitas dua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden pada pilpres 2019. Dari hasil survey itu elektabilitas pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin lebih diunggulkan ketimbang pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Meski begitu, hasil survei terakhir dari Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas beberapa waktu lalu memberi kabar yang cukup mengagetkan bagi Tim Kampanye Nasional (TKN). Hasil survei itu menyebut, elektabilitas Pasangan Calon (Paslon) 01 kini berada di angka 49,2 persen. Angka itu turun 3,4 persen dari rilis survei Kompas sebelumnya pada Oktober 2018, yakni, 52,6 persen. Sebaliknya, hasil survei Kompas justru menaikkan elektabilitas pasangan nomor urut 02 dari sebelumnya 32,7 persen menjadi 37,4 persen. Artinya, selisih antara kedua pasangan kini hanya 11,8 persen dari semula 19,9 persen.

Menanggapi hasil survei Kompas tersebut, kepada media Jokowi mengatakan, hasil itu akan menjadi bahan evaluasi dan koreksi agar kinerja TKN lebih baik lagi. Selama ini, hasil survei Kompas memang dikenal cukup kredibel. Maka, wajar jika hasil survei mereka yang terakhir menjadi wake up call (meminjam bahasa Denny Siregar) bagi TKN. Sebaliknya, di kubu 02, Sandi mengatakan hasil survei itu membuat dirinya semakin optimis dan masih memiliki peluang.

Selain Kompas, empat lembaga survei lain juga merilis hasil survei mereka tentang elektabilitas kedua paslon capres-cawapres kurang dari sebulan menjelang waktu pemilihan. Hasilnya, Paslon nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf mengungguli Paslon nomor urut 02, Prabowo-Sandi di total empat lembaga yang melakukan survei selama kurun waktu Februari-Maret.

Lembaga survei Indo Barometer misalnya, pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul di angka 50,2 persen, sementara Prabowo-Sandi 28,9 persen, dengan selisih 21,3 persen. Konsepindo, Jokowi-Ma’ruf unggul dengan selisih 21,8 persen, yakni 55 persen untuk Paslon 01, dan 33,2 persen untuk paslon 02. Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Jokowi juga unggul pada angka 57,6 persen dan Prabowo-Sandi 31,8 persen dengan selisih 25,8 persen.

Sementara itu, persentase paling tinggi dikeluarkan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, dengan keunggulan pasangan Jokowi-Ma’ruf pada angka 58,7 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 30,9 persen. Dengan selisih suara 27,8 persen.

Meski unggul di semua lembaga survei di atas, hasil survei Kompas yang rilis pada 20 Maret lalu cukup mengagetkan banyak pihak, khususnya TKN. Sebab, elektabilitas Jokowi—Ma’ruf kini sudah berada di bawah 50 persen.

Apa artinya?

Jika merujuk pada pemilihan sebelumnya, tepatnya dalam dua kali pilpres yang memenangkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden, angka di atas 50 persen merupakan angka paling aman sebagai modal untuk memenangi kontestasi sebenarnya dalam pilpres. Dengan angka di atas 50 persen, ia bisa dibilang begitu mudah merangsek ke kursi Republik Indonesia (RI) 1 dalam dua pilpres yang ia ikuti.

Kala itu, di survei yang dikeluarkan LSI pada 2009 misalnya, SBY yang berpasangan dengan Boediono mendapat persentase di angka 71 persen. Sebuah angka yang cukup fantastis untuk seorang petahana dan barangkali cukup sulit untuk disamai hingga beberapa tahun ke depan oleh pasangan capres-cawapres.

Angka itu memang sempat mengalami penurunan dalam survei-survei berikutnya, tetapi angkanya masih jauh di atas normal. Dalam dua survei LSI berikutnya, elektabilitas SBY berada di angka 67 persen dan 63 persen.

Hasilnya, SBY menang di angka 60,80 persen dalam rilis resmi yang dikelurkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pilpres 2009. Angka ini tentu saja membawanya untuk menduduki kursi presiden untuk kedua kalinya tanpa harus melalui putara kedua.

Kasus SBY tentu saja menjadi gambaran bahwa unggul dalam hasil survei yang dikeluarkan lembaga survei tak akan menjamin pasangan capres cawapres akan dengan mudah memenangi kontestasi sesungguhnya dalam pilpres. Artinya, bukan hanya unggul, sebab elektabilitas yang ditunjukkan dengan hasil survey harus berada di atas angka 50 persen.

Hal ini diamini oleh pengamat politik Amerika, Michael S. Lewis-Beck, Tom W. Rice. Menurut mereka, perolehan suara di atas 50 persen akan dapat dengan mudah membawa kandidat petahana untuk terpilih kembali.

TKN tentu saja harus mengevaluasi hasil kinerjanya atas survei yang dirilis Kompas. Sebab, lembaga yang dikenal kredibel ini juga sekaligus menjadi satu-satunya lembaga yang memberikan angka di bawah 50 persen kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf. 

Bagi yang mengerti atau pelaku politik elektoral, penurunan angka 3,4 persen adalah selisih yang cukup besar. Sebab, umumnya, elektabilitas petahana akan terus meningkat atau paling tidak stagnan mendekati hari pemilihan. Namun, tren yang terjadi justru sebaliknya.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf juga perlu memperhatikan undecided voters yang angkanya masih relatif tinggi, yakni 14,7 persen. Dengan terjadinya situasi ini, berarti ada yang salah dengan mesin politik yang dimiliki pasangan Jokowi-Ma’ruf, sehingga hal ini berimbas pada naiknya elektabalitas pasangan nomor urut 02.

Selain itu, TKN mestinya juga memperhatikan tingginya kecenderungan pemilih dari generasi Z kepada pasangan nomor urut 02. Dalam rilisnya, Kompas juga mengklasifikasikan kecenderungan pemilih dari setiap generasi. 

Mulai dari silent gen (usia 71+), baby boomers (53-71), millenials, hingga gen Z (<22).

Dari beberapa klasifikasi generasi tersebut, Jokowi-Ma’ruf kalah di pemilih gen Z, yakni  47 persen berbanding 42,2 persen. 

Kita tahu, bahwa pemilih di rata usia 22 (millenials dan gen Z), memiliki otonomi pada aktifitas virtual dunia maya, sehingga perilaku mereka sebagai pemilih aktif di internet akan sangat berpengaruh pada elektabilitas Jokowi-Ma’ruf.

Puthut dalam Mojok.co menyinggung TKN dalam beberapa kali kampanye masih menggunakan cara-cara lama, misalnya dengan menyerang pasangan nomor urut 02 secara pribadi. 

Bagi pemilih rasional seperti gen Z dan millenials cara-cara kampanye seperti itu sudah dianggap kuno dan tidak menunjukkan kualitas sebenarnya dari seorang calon dan wakil presiden.

Cara berkampanye seperti itu sangat tidak disukai oleh pemilih dari gen Z dan millenials yang notabene sebagai pemilih rasional. Walhasil, tentu saja imbasnya ke perolehan suara pasangan Jokowi-Ma’ruf. Belum lagi dengan menguatnya sentimen politik identitas. 

Alih-alih memperbaiki hubungannya dengan pemilih dari kalangan Islam atau kelompok Islam kanan, model kampanye yang diterapkan dengan cara-cara menyerang lawan politik secara pribadi, akan semakin memperkeruh peroleh suara Jokowi-Ma’ruf.

Bagaimanapun, TKN mestinya kembali meracik strategi agar sasaran kampanye mereka bisa membidik dengan tepat sasaran. Bukan pada pertimbangan suka atau tidak sukanya juru kampanye. “Juru racik kampanye boleh saja tidak suka kopi, tapi di masyarakat yang suka kopi, mereka harus bicara kopi dan mengaitkan pentingnya kopi dengan calon yang didukung. Karena itu, juru racik kampanye mensyaratkan kepala dingin”.

Persoalan lain yang patut mendapat perhatian TKN adalah kelompok Golongan Putih (Golput). Siapa yang menduga tulisan Frans Magnis Suseno di harian Kompas beberapa waktu lalu, mendapat respons negatif. Sekalipun itu ditulis oleh seorang Guru Besar, golput bukanlah kelompok yang bisa dengan mudah beralih keputusan.

Mereka, umumnya adalah orang-orang dengan sikap rasional, yang sensitif, kritis, dan skeptis dengan kebijakan-kebijakan pemerintah.  Mereka adalah kelompok yang paling sering bersuara memberikan kritik. Boleh jadi tulisan Frans Magnis adalah blunder. Dan yang terjadi adalah hasil dari rilis yang dikeluarkan Kompas 22 Februari lalu.

Belajarlah pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Daerah Keistimewaan Ibukota (DKI), Jawa Barat (Jabar), dan Jawa Tengah (Jateng). Kita tahu, Pilgub DKI tahun lalu telah memberi hasil yang sangat di luar dugaan dengan meloloskan Anis-Sandi ke putaran kedua, dan meninggalkan kandidat terkuat Agus-Sylvi.

Beberapa lembaga survei menjelang pemilihan putaran pertama, seperti  LSI, Indikator Politik, Poltracking Indonesia, hingga Alvara Research Center menempatkan pasangan Anis-Sandi sebagai pasangan Cagub Cawagub dengan elektabilitas paling rendah di antara ketiganya.

Namun apa yang terjadi, meski berada di peringkat kedua dari hasil rekapitulasi yang dikeluarkan KPU, Anis-Sandi menang dengan selisih yang cukup jauh meninggalkan Agus-Sylvi dan bahkan hanya selisih 3 persen dari Ahok-Djarot. 

Dan dengan kemenangannya di putaran kedua, membuktikan bagaimana model kampanye yang diterapkan oleh tim pemenangan mereka telah tepat sasaran sesuai psikologis pemilih di DKI.

Sementara di Jabar, kasus serupa juga terjadi. Pasangan Sudrajat-Syaikhu yang diusung oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) telah melampaui survei yang dirilis lima lembaga survei.

Hingga menempatkan mereka di bawah pasangan Ridwan-UU yang diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Nasional Demokrat (Nasdem), dan Hati Nurani Rakyat (Hanura). Sedangkan pasangan Deddy-Dedi diusung Demokrat dan Golongan Karya (Golkar) yang masing-masing menjadi kandidat terkuat satu dan dua.

Bahkan Indo Barometer memprediksi Sudrajat-Syaikhu hanya memperoleh 6 persen suara dari hasil survei yang mereka keluarkan. Jauh di atas Ridwan-UU dengan 36,9 persen dan Deddy-Dedi 30,1. Sudrajat-Syaikhu hanya satu persen lebih baik dari pasangan TB Hasanuddin-Anton dengan 5 persen.

Tak jauh berbeda dengan keempat lembaga survei lain yang hampir semuanya memprediksi suara pasangan Sudrajat-Syaikhu tak akan lebih dari 10 persen. SMRC, lewat survei yang mereka keluarkan memprediksi Sudrajat-Syaikhu hanya dapat 7,9 persen. Lagi-lagi hanya satu persen di atas TB Hasanuddin-Anton dengan 6,5 persen.

Lalu apa hasilnya? Hasil rekapitulasi resmi KPU menempatkan Sudrajat-Syaikhu di posisi kedua terbanyak dengan 6.317.465 suara dengan persentase 28,74. Ridwan-UU hanya menang dengan selisih 4,14 persen atau 908.789 suara.

Tentu hasil itu jauh di atas prediksi dari beberapa rilis yang dikeluarkan lembaga survei. Dengan menempatkan Sudrajat-Syaikhu di posisi kedua, kini tentu saja Jawa Barat menjadi salah satu daerah yang perlu mendapat perhatian TKN. 

Perolehan suara pasangan yang diusung Partai Gerindara, PKS, dan PAN itu sekaligus untuk kedua kalinya menang di luar prediksi banyak lembaga survei.

Di Jateng, dalam beberapa kali survei yang dikeluarkan menjelang hari H, pasangan Ganjar-Taj Yasin bahkan disebut tak terbendung. 

Lingkarang Survei Kebijakan Publik (LSKP) LSI dalam dua kali rilis yang mereka keluarkan, elektabilitas Ganjar-Taj Yasin mencapai angka 54 persen. Angka itu jauh di atas Sudirman Said-Ida Fauziyah yang hanya 13 persen.

Bahkan Charta Politika merilis angka popularitas Ganjar-Taj Yasin berada di angka 70,5 persen. Jauh di atas elektabilitas Said-Ida yang hanya 13,6 persen. Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politik menyebut ada kejomplangan pada elektabilitas kedua paslon cagub cawagub di Jateng.

Namun, lagi-lagi rilis kedua lembaga survei itu tak sepenuhnya benar dari hasil rekapitulasi yang dikeluarkan KPU usai pemilihan. Sudirman-Ida memang kalah, tapi perolehan suaranya jauh melebihi dari prediksi dua lembaga survei yang memprediksi pasangan itu yang tak beranjak dari angka 13 persen.

Rekapitulasi resmi KPU, mencatat perolehan Said-Ida hingga mencapai angka 41,22 persen atau 7.267.993 suara. Jauh dari angka survei mereka yang hanya 13 persen. Melihat beberapa kasus di atas, hasil survei tak selalu berbanding lurus dengan hasil rekapitulasi sebagai kontestasi pemilu di beberapa daerah. 

Di Jateng, kita bahkan bisa melihat angka fantastis dari elektabilitas pasangan Ganjar-Taj Yasin, bahkan hanya selisih tak lebih dari 10 persen. Padahal sebelumnya, hasil survei Charta Politik menyebut elektabilitas Ganjar-Taj Yasin berada di angka 70 persen.

Di DKI, Anis-Sandi yang sebelumnya sama sekali tak dijagokan, bahkan hingga melampaui perolehan suara Ahok-Djarot pada putaran kedua. Sebaliknya elektabilitas Agus-Sylvi yang digadang-gadang sebagai calon kejutan turun jauh dari elektabilitas yang mereka peroleh dari hasil survei.

Begitu pula di Jabar, pasangan Sudrajat-Syaikhu yang angka elektabilitasnya tak beranjak dari angka 7 persen, melesat begitu jauh hingga kalah tipis dengan Ridwan-Uu.

Begitu pula dengan Jokowi-Ma’ruf kini. Meski semua lembaga survei, menyatakan bahwa elektabilitas mereka unggul atas pasangan Prabowo-Sandi, bukan tidak mungkin mereka akan terjerembab dan masuk dalam daftar kejutan berikutnya dari politik elektoral kita. 

Bola panas masih bergulir. Tentu hasil survei Kompas terakhir harus menjadi evaluasi jika kasus serupa tak mau terjadi. Kurang dari sebulan ke depan, strategi kampanye yang dibuat TKN akan sangat menentukan hasil 17 April nanti.

Oleh : Aji Andika Mufti (Analis Politik)

Continue Reading

TEKNOLOGI

PSR Konsisten Tanamkan Nilai Pancasila di Masyarakat

Published

on

 

Anggota Komisi X Putu Supadma Rudana kembali menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan guna mengukuhkan nilai-nilai kebangsaan di masyarakat Bali. Kali ini kegiatan berlangsung di Banjar Pagutan Kaja, Batu Bulan, Gianyar, Selasa, (02/04/2019).

 

 

Putu mengungkapkan bahwa masyarakat penting untuk memahami nilai nilai Pancasila guna menyongsong kompetisi global yang semakin kompetitif. Karena di dalam Pancasila tertuang nilai-nilai persatuang didalamnya, sehingga perbedaan yang ada di masyarakat bisa disatukan dalam bingkai NKRI.

 

 

“Kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya berbangga karena memiliki Pancasila yang berfungsi sebagai perekat perbedaan. Karena itu penting untuk dipahami,” ujar Putu Supadma Rudana.

 

 

Selain itu butuh juga memberikan pemahaman tentang pentingnya membangun semangat dalam pembangunan bangsa. karena pembangunan itu tidak saja menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi masyarakat melalui sektor swasta juga memiliki peran.

 

 

“Nilai-nilai Pancasila harus implementasikan dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan antar masyarakat. Jika masyarakat harmonis maka pembangunan oleh masyarakat pun bisa berlangsung dengan baik,” ujar Putu.

 

 

Masyarakat yang turut serta dalam sosialisasi ini pun memberikan apresiasi kepada Putu Supadma Rudana yang senantiasa konsisten memberikan edukasi politik kepada masyarakat. sehingga diharapkan sinergi yang baik antara DPR dengan masyarakat itu mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan sebuah bangsa. (ker)

Continue Reading

TEKNOLOGI

Panwaslu Kecamatan se-Jakarta Utara Menggelar Pelantikan PTPS

Published

on

Jakarta – Panwaslu Kecamatan se-Jakarta Utara menggelar pelantikan PTPS dan pelatihan pengawasan tempat pemungutan suara (PTPS) se-Jakarta Utara pada pemilihan umum 2019, Presiden dan Wakil Presiden, Anggota DPR-RI, DPD-RI dan DPRD provinsi DKI Jakarta.

Kegiatan tersebut dilantik oleh Ketua Panwaslu Kecamatan masing-masing dan bertempat di wilayahnya masing-masing, Senin (25/3/2019)

Pelantikan tersebut berdasarkan surat keputusan Panwaslu Kecamatan Jakarta Utara, Nomor: 01/PWSCAM-JU/2019. tentang pengesahan, pengangkatan dan penempatan tempat tugas Pengawasan TPS pada pemilihan DPR-RI, DPD-RI, DPRD dan pemilihan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden tahun 2019.

Ketua Bawaslu Kota Jakarta Utara, Mochamad Dimyati dalam kesempatan tersebut mengucapkan selamat kepada anggota PTPS yang baru dilantik dan selamat bergabung di keluarga besar Bawaslu Kota Jakarta Utara.

Dirinya juga menyampaikan, pelantikan ini merupakan suatu penghargaan bagi seluruh masyarakat Jakarta Utara, ketika teman-teman direkrut menjadi pengawas TPS, untuk mengawasi proses pemilihan pada 17 April 2019 ini.

“Sukses atau tidak sukses semuanya kembali pada teman-teman. Oleh karena itu, ketika orang yang menyatakan Jakarta Utara sukses dalam pemilu itu merupakan bagian dari kesuksesan teman-teman dalam menjalankan tugasnya” ungkap Dimyati

Dikatakan pula, kami melantik seluru Pengawas TPS ini untuk mengawasi TPS di tiap-tiap Kelurahan yang ada di Kota Jakarta Utara.

“Bapak/ibu ini adalah ujung tombak dari kesuksesan pemilu. Oleh karena itu awasi degan baik dalam setiap tahapan yang terjadi di tiap-tiap TPS.” paparnya.

Pak Dim sapaan akrabnya pun melaporkan bahwa jumlah keseluruhan PTPS yang dilantik sebanyak 4.563 pengawas yang terbagi pada tiap kecamatan.

Pelantikan ini di hadiri oleh 4.563 anggota PTPS yang tersebar di 6 kecamatan dan 31 kelurahan yang ada di jakarta utara. Dengan rincian, Koja 791 anggota, Cilincing 1.029 anggota, tanjung priuk 1.064 anggota, pademangan 426 anggota, penjaringan 851 anggota dan kelapa gading 402 anggota. Jadi total ada 4.563 anggota PTPS” tutupnya.

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending