Connect with us

NASIONAL

PB HMI MPO Gelar Pleno III di Yogyakarta 20-22 September 2019

Published

on

Ketua Umum PB HMI MPO, Zuhad Aji Firmantoro bersama fungsionaris lainnya menjelang rapat persiapan Pleno III

JAKARTA – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) MPO akan menggelar kegiatan Pleno III Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam pada 20-22 September di kota kelahiran HMI, kota Yogyakarta.

Dalam rapat harian PB HMI yang dilaksanakan pada Ahad (8/9/2019) malam, memantapkan beberapa agenda kegiatan sebagai rangkaian pelaksanaan Pleno III

“Rapat kali ini mendengarkan progres persiapan pelaksanaan Pleno III HMI yang akan dilaksanakan di Yogyakarta pada 20-22 September 2019 dari SC dan OC,” ucap Sekretaris Jenderal PB HMI, Najamuddin Arfah saat membuka rapat harian PB HMI, Ahad (8/9/2019) di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Selain mendengarkan laporan perkembangan persiapan pelaksanaan Pleno III, juga diputuskan beberapa rangkaian acara kegiatan yang akan berlangsung di kota pendidikan tersebut.

“Diantaranya lokakarya konstitusi, Milad Kohati, Seminar Nasional serta bedah buku karya mantan Ketua Umum PB HMI 1978-1981, Abdullah Hehamahua,” papar Najamuddin Arfah.

Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, Zuhad Aji Firmantoro menuturkan, dalam agenda pleno III PB HMI yang mengangkat tema HMI Baru untuk Indonesia Berkeadilan, selain melakukan evaluasi kinerja dan program kerja kepengurusan PB HMI, juga akan membahas berbagai isu internal dan eksternal HMI. Salah satunya adalah amanah kongres HMI terkait rekomendasi pembentukan tim kajian dinamika HMI Dipo- HMI MPO.

“Selain membahas tentang Tuan Rumah Kongres HMI ke 32, Pleno III HMI juga nantinya akan mendengarkan aspirasi dan pandangan-pandangan HMI Cabang terkait identitas HMI. Forum ini juga akan kita manfaatkan dengan membahas hal-hal terkait isu eksternal seperti rencana pemindahan ibu kota, kenaikan iuran BPJS, dan isu nasional lainnya yang menyita perhatian publik,” kata Zuhad Aji.[]

NASIONAL

Ini Disampaikan Ketua MPR di Munas KKSS

Published

on

By

SOLO – Di Munas KKSS Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menekankan pada tataran masyarakat, penguatan Pancasila memerlukan institusi yang positif terutama komunitas keluarga sebagai elemen penting, serta kelompok masyarakat yang terdiri dari berbagai keluarga. Keluarga dan komunitas masyarakat yang sehat perlu dijadikan dasar bagi pembentukan mentalitas yang sejalan dengan Pancasila.

“Lingkungan keluarga dan komunitas masyarakat yang sehat juga dapat memperluas pemahaman dan kepedulian anak sambil belajar tentang nilai dan norma sosial lebih jauh. Dalam hubungan ini, Pancasila harus menjadi dasar nilai bagi pembentukan keluarga dan komunitas masyarkat. Sehingga, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara akan menjadi tangguh dan kuat,” ujar Bamsoet saat menghadiri Mubes Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (16/11/19).

Hadir dalam acara Musyawarah Besar Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan yang akan berlangsung hingga tanggal 18 November itu antara lain Ibunda Presiden Joko Widodo, Sudjiatmi Widjiatno Notomihardjo, Wakil Presiden ke 10 dan ke 12 Jusuf Kalla, Menteri Pertanian Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan dan Walikota Makasar.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mengajak semua pihak kembali menumbuhkembangkan budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Untuk itu, juga perlu ditumbuhkembangkan kembali budaya keteladanan yang harus diwujudkan dalam perilaku para pemimpin baik formal maupun informal pada setiap lapisan masyarakat.

“Kita juga perlu menumbuhkan dan mengembangkan kembali kehidupan berbangsa yang berbudaya tinggi dengan menggugah, menghargai, dan mengembangkan budaya nasional yang bersumber dari budaya daerah. Untuk itu, diperlukan penghayatan dan pengamalan agama yang benar, kemampuan adaptasi, ketahanan dan kreativitas budaya dari masyarakat,” tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini juga menyadari, dalam interaksi sosial keseharian masyarakat, pasti tak terlepas dari potensi konflik. Namun demikian, masalah potensial yang dapat menimbulkan permusuhan dan pertentangan tersebut, sejatinya bisa diselesaikan secara musyawarah dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan sesuai dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya.

“Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk atas dasar suku, budaya, ras, dan agama. Anugerah tersebut patut kita syukuri dengan cara menghargai kemajemukan sebagai kekayaan sekaligus kekuatan bangsa Indonesia,” pungkas Bamsoet. (Dwi )

Continue Reading

NASIONAL

HMI Cabang Pekanbaru Akan Gelar Intermediate Training Tingkat Nasional

Published

on

Pekanbaru – Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pekanbaru akan menggelar Intermediate Training/ Latihan Kader II Tingkat Nasional pada tanggal 1 – 8 Desember 2019 di kota yang dikenal dengan sebutan Lancang Kuning. Kegiatan tersebut merupakan proses kaderisasi lanjutan untuk mematangkan pola pikir dan daya intelektual kader untuk HMI dan kemajuan Indonesia. (lebih…)

Continue Reading

NASIONAL

Bamsoet Minta BPJS Kesehatan Turunkan Iuran Kelas 3

Published

on

By

JAKARTA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak menaikan iuran BPJS Kesehatan untuk peserta kategori pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja (PBU-BP) Kelas III. Sesuai dengan hasil Rapat Kerja Gabungan Komisi IX dan Komisi XI DPR RI dengan Kemenko PMK, Kemenkes, Kementerian Sosial, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Dewan Jaminan Sosial Nasional, dan Direktur Utama BPJS Kesehatan pada 2 September 2019.

“Hasil rapat kerja gabungan tersebut harus dihormati oleh seluruh pihak, khususnya Kemneko PMK dan Kemenkes. Untuk itu saya mendukung Menkes agar Menteri Keuangan dan Menko PMK tidak menaikan iuran BPJS Kesehatan kelas 3. Mereka adalah rakyat yang harus dilindungi negara. Jangan sampai juga institusi lembaga perwakilan rakyat terkesan dilecehkan. Persoalan mengenai defisit anggaran dalam BPJS Kesehatan, bisa dicarikan solusinya dengan efisiensi APBN dari pos-pos lainnya serta pembenahan internal BPJS Kesehatan. Jangan karena alasan defisit, lantas rakyat dikorbankan,” ujar Bamsoet menanggapi polemik kenaikan BPJS Kesehatan, di Jakarta, Rabu (13/11/19).

Legislator Partai Golkar Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini menjelaskan, negara punya tiga hal dasar yang wajib dipenuhi kepada rakyatnya, yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Dengan pendapatan negara di tahun 2020 yang ditargetkan mencapai Rp 2.232,2 triliun, negara seharusnya mampu menjamin ketiga kebutuhan rakyat tadi. Utamanya, kesehatan yang menjadi modal utama bagi rakyat untuk beraktivitas.

“Kuncinya adalah pada political will pengelolaan keuangan negara (APBN). Apakah ditujukan sebesarnya untuk kebutuhan rakyat, atau justru ditujukan untuk belanja barang dan pembiayaan operasional perjalanan dinas kementerian/lembaga. Jangan sampai pemborosan/inefisiensi apalagi kebocoran APBN yang selalu terjadi setiap tahunnya, kembali terulang di 2020,” jelas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, data Kementerian Keuangan mencatat terjadinya inefisiensi anggaran di tahun 2016 mencapai Rp 50 triliun. Di tahun 2017 potensinya mencapai Rp 40 triliun. Badan Pemeriksaan Keuangan melaporkan dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I 2019, tercatat Rp 10.35 triliun APBN yang pengelolaannya diduga bermasalah.

“Selain dalam pemanfaatan pengelolaan keuangan negara, Kementerian Keuangan juga perlu memaksimalkan potensi pendapatan negara dari berbagai sektor perpajakan. Jangan ada lagi pengemplang pajak yang tak ditindak. Seharusnya setalah melakukan tax amnestry, sudah tak ada lagi pajak yang tertunggak dan diselewengkan. Seluruhnya harus masuk ke kas negara untuk kemudian dimanfaatkan guna kemakmuran rakyat,” terang Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menegaskan, jika iuran BPJS Kesehatan untuk PBU-BP Kelas III dinaikan, bukan tidak mungkin konsumsi masyarakat akan menurun lantaran tak punya uang untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Jika konsumsi rumah tangga sampai menurun, pada akhirnya akan turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Kuartal IV menurun menjadi 5,01 persen dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 5,17 persen. Ini menjadi laju terlemah sejak Kuartal I-2018. Jika iuran BPJS Kesehatan Kelas III dinaikan, bukan tidak mungkin rakyat akan menjerit dan mencekik pertumbuhan konsumsi rumah tanga. Pada gilirannya, akan berimbas kepada kondisi perekonomian nasional yang bisa jadi akan bergejolak,” pungkas Bamsoet. (dwi)

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending