Connect with us

POLITIK

Pogba tak Hengkang, jika MU Angkat Zidane Jadi Pelatih Gantikan Mou

Published

on

Pogba dan Zidane sama-sama orang Prancis yang pernah bawa timnas juara dunia

Manchester – Paul Pogba disebut tidak akan hengkang dari Manchester United (MU) andai dalam waktu dekat terjadi pergantian pelatih di Old Trafford. Pogba sudah tidak cocok dengan pelatih MU Jose Mourinho.

Bahkan super agen Mino Raiola sudah aktif menawarkan kliennya ke Barcelona dan Juventus untuk menyelamatkan karier Pogba yang terancam terpuruk kalau masih bertahan di bawah arahan Mou. Analisis dari Rai Sport, dikutip dari Football Italia, Jumat (14/9), menyebutkan, Pogba tidak akan pergi kalau MU sukses mendaratkan Zinedine Zidane ke Old Trafford untuk menggantikan Mourinho.

Zidane berstatus tanpa klub sejak ia meninggalkan Real Madrid Juni lalu. Ia disebut-sebut sebagai pelatih yang tepat untuk membangkitkan nama besar MU. Zidane terbukti sebagai pelatih kelas tinggi setelah kesuksesan membawa Los Blancos meraih tiga kali juara Liga Champions hanya dalam waktu dua setengah tahun.

“Pogba akan bertahan kalau Zidane melatih MU menggantikan Jose Mourinho,” tulis Rai.

Saat masih melatih Madrid, Zidane memang termasuk salah satu pelatih yang mendesak klubnya membeli Pogba dari Juventus 2016 lalu. Saat itu, Pogba belum menerima tawaran dari MU. Tapi Madrid kalah cepat oleh the Red Devils yang menebus nilai transfer Pogba sebesar 105 juta euro ke Bianconeri.

Selain menyukai tipe pemain seperti Pogba, keduanya juga saling respek satu sama lain. Pogba dan Zidane sama-sama orang Prancis yang pernah memenangkan Piala Dunia untuk Les Bleus. Apalagi, keduanya dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat. (republika/kabarakyat)

POLITIK

Ternyata Prabowo Subianto Itu NU Tulen

Published

on

By

Oleh: Tony Rosyid, Masyarakat Peduli Sosial Politik

Isunya kenceng. Terutama di kalangan Nahdliyyin. Bahwa Prabowo itu Wahabi. Prabowo mau mengubah sistem negara jadi khilafah. Wow, serem banget.

Dan setiap pemilu, isunya serem-serem. Makin deket pemilu, makin serem. Malah ada yang ekstrem. Tidak hanya ekstrem kanan seperti Wahabi dan khilafah. Tapi juga ekstrem kiri seperti isu PKI. Bahkan sontoloyo dan gerenduwo juga dapat panggung. Yang terakhir ini paling serem. Tapi, gak mutu. Pakai banget.

Kenapa isu Wahabi dan khilafah yang diangkat? Sebab, Wahabi itu identik dengan “tuduhan bid’ah”. NU selalu jadi sasaran dan korban. Dengan isu Wahabi, warga NU alergi. Mereka tak akan milih calon presiden Wahabi.

Kenapa isu khilafah? Khilafah dianggap oleh NU sebagai ancaman terhadap NKRI. Maka, khilafah adalah musuh NU. Siapapun calon yang teridentifikasi sebagai pengusung khilafah, NU tak akan memilihnya.

Dua isu itu dianggap efektif untuk menjauhkan pemilih NU dari Prabowo. Karenanya, terus menerus disosialisakan ke publik, terutama warga Nahdliyyin. Oleh siapa? Tentu oleh pihak yang tak ingin Prabowo menang. Apakah ini negative campaign atau black campaign? Bergantung. Jika benar, itu negative campaign. Jika fitnah, itu black campaign.

Apakah benar Prabowo Wahabi? Apakah Prabowo juga berencana mengubah sistem negara jadi khilafah? Pertanyaan ini memang agak aneh dan ganjil. Kenapa? Karena ditujukan kepada seorang tentara. Meski ganjil, isunya tetap kencang.

Dua isu inilah yang menginspirasi seorang kiai sepuh NU untuk melakukan klarifikasi. Tabayun.

Tabayun, adalah bagian dari etika berpolitik dan berbangsa. Tanpa tabayun,, hanya fitnah dan kegaduhan yang akan diberi ruang untuk terus diproduksi. Karena itu, apa yang dilakukan kiai sepuh NU ini tidak hanya tepat, tapi juga efektif untuk merasionalisasi cara berpikir publik. Terutama warga Nahdliyyin.

Tradisi tabayun, mestinya tidak hanya berlaku pada Prabowo. Seharusnya berlaku juga pada pasangan Jokowi-Ma’ruf. Agar politik kita elegan dan terhormat. Tidak melahirkan calon pemimpin dari fitnah. Juga tidak dari pencitraan.

Jokowi dihajar isu PKI. Perlu klarifikasi terkait dengan identitas orang tuanya. Terabaikannya janji-janji politik Jokowi, juga mesti ada tabayun. Fitnah, atau fakta? Yang sekarang lagi santer adalah mobil Esemka. Kapan diproduksi? Mesti jelas. Bulan Oktober yang dijanjikan sudah lewat. Juga tentang ekonomi. Apakah betul negara sedang kesulitan ekonomi sehingga BBM naik, tol naik dan TDL naik? Jangan berhenti di isu. Karena rawan fitnah. Mesti diklarifikasi. Tabayun. Biar clear.

Apa yang diinisiasi oleh Kiai sepuh NU untuk melakukan klarifikasi kepada Prabowo adalah langkah yang bijak. Nama Kiai sepuh ini adalah K.H.M.Hasib A Wahab. Trah pendiri NU. Pengasuh pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Soal NU, secara kultural, kiai satu ini punya otoritas untuk mewakili. Beliau bertanya kepada Prabowo. Secara langsung. Gentle.

Mohon maaf Pak Prabowo, kata Kiai Hasib sebelum memberi pertanyaan. Islam yang Pak Prabowo anut itu Islam apa? Islam moderat atau Islam radikal sebagaimana Islam Wahabi? Ini pertanyaan mendasar. Syarat utama seseorang bisa dapat dukungan NU.

Didampingi Sandi, Prabowo menjawab: Islam yang saya anut itu Islam moderat seperti NU, Kiai. Saya juga suka melakukan ziarah kubur, suka dengan shalawatan, suka dengan tahlilan sebagaimana yang diajarkan para Kiai NU. Jawaban Prabowo tegas. Spontan, tanpa ada keraguan. Apa adanya, dan tak dibuat-buat.

Bagi Kiai Hasib, itu belum cukup. Kiyai Hasib pun bertanya kembali. Kalau terpilih menjadi presiden, apakah Pak Prabowo akan mengganti sistem negara/pemerintahan dengan sistem khilafah? Isu ini beredar dan menakut-nakuti kami. Apa jawab Prabowo?

“Saya ini tentara Pak Kiai. Saya sudah didoktrin oleh TNI untuk menjaga dan berpegang pada Pancasila dan NKRI. Saya seorang nasionalis dan agamis. Isu itu gak benar dan hoax, kata Prabowo.

Dua isu ini, yaitu khilafah dan Wahabi, memang agak sulit bisa menyerang Prabowo. Mengingat Prabowo adalah seorang TNI. Menyerang Prabowo anti NKRI akan kehilangan argumentasinya. Susah mencari korelasinya. Isunya gak tepat.

Khilafah itu perjuangan HTI. HTI tidak berpolitik. Sekarang ada kabar HTI “lagi mau” belajar berpolitik. Melalui PBB. Sementara pimpinan PBB, Yusril Ihza Mahendra merapat ke Jokowi-Ma’ruf. Dan cukup rajin mengkritik Prabowo-Sandi. Nah, pertanyaan khilafah malah nantinya bisa menyasar ke Jokowi-Ma’ruf yang didukung Yusril, lawyer HTI.

Pertanyaan Kiai Hasib nampaknya sengaja diajukan agar publik melek. Punya nalar yang benar dalam merespon isu-isu hoax yang masif dan produktif menjelang pilpres ini. Sekaligus menegaskan jangan sampai lahir dan terpilih seorang presiden dengan isu-isu partisan, apalagi pencitraan. Ini strategi cerdas Kiai Hasib.

Pertanyaan Kiai Hasib ke Prabowo sesungguhnya hanya sebagai sarana. Tujuannya? Mencerdaskan publik, terutama warga NU. Agar mereka bernalar terbuka, obyektif dan rasional. Bicara data, bukan atas dasar like and dislike. Itu tak sehat.

Tak berhenti disitu, Kiai Hasib mengajukan satu pertanyaan lagi. Yang ini lebih politis dan strategis. Apakah ada jaminan dari Pak Prabowo untuk kementerian agama diberikan kepada kader NU? Apa jawab Prabowo? Saya sudah tandatangani di pengajian dengan pesantren di Situbondo (K.H. Cholil As’ad Syamsul Arifin), bahwa jabatan menteri agama akan diserahkan kepada kader NU.

Siapa dia? Misteri. Belum bisa sebut nama. Mekanismenya biasanya diserahkan kepada para sesepuh Kiai NU. Lukman Hakimkah? Sepertinya tidak. Atau Romahurmuziy? Ah, ada-ada aja. Cak Imin? Allahu A’lam.

Kiai Said Agil Siraj, ketua PBNU boleh jadi akan ikut terlibat menentukan siapa kader NU yang akan jadi menteri agama. Hanya butuh satu syarat saja. Apa itu? Tarik dukungannya dari Jokowi. Simple, kata para pendukung Prabowo.

Dari tiga pertanyaan di atas, jawaban Prabowo tegas. Bersama NU Prabowo siap menjaga Pancasila dan mempertahankan NKRI. No khilafah, apalagi PKI. No banget. Itulah TNI. Prabowo adalah TNI. Darahnya NKRI. Anda masih ragu? Kebangetan! Kata pendukung Prabowo.

Mencermati ketegasan Prabowo atas tiga pertanyaan Kiai Hasib, nampak jelas, ternyata Prabowo itu punya kesamaan ritual dengan orang NU. Tidak hanya itu, Prabowo juga telah memberi jaminan menteri agama dari kader NU. Dari jawaban Prabowo itu, tak salah jika ada yang menyimpulkan bahwa ternyata Prabowo itu NU.

Jakarta,18/11/2018

Sumber: kanigoro.com

Continue Reading

POLITIK

Demokrat Ungkap Janji Prabowo yang Masih Dingkari

Published

on

By

Jakarta ‐ Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief mengungkapkan bahwa pasangan calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pernah menjanjikan elektabilitas kepada para parpol pengusungnya. Namun, janji itu belum terealisasi dan keuntungan masih ada di kubu Partai Gerindra.

Ia mengatakan Prabowo dan Sandi menjanjikan elektabilitas 55-60 persen bagi para parpol pengusung.

“Dari angka tersebut, Gerindra 25 persen, Demokrat 15 persen, PAN 8-10 persen, dan PKS 7-10 persen,” ujar Andi Andi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (15/11).

Namun, Andi mengatakan sejauh ini Prabowo dan Sandi terlihat belum berupaya untuk merealisasikan janjinya tersebut, misalnya dengan mengampanyekan parpol pengusung. Bahkan, lanjutnya, pasangan ini juga belum merumuskan suatu petunjuk pelaksanaan kampanye bersama untuk meningkatkan elektabilitas parpol pengusung.

“Pengaturan kampanye juga belum dilakukan dalam satu juklak yang jelas. Demokrat belum melihat tanda-tanda itu,” ucap Andi.

Walhasil, target rasio elektabilitas parpol pengusung 55-60 persen belum tercapai hingga saat ini.

“Artinya jangkar elektabilitas partai pendukung masih bermasalah,” kata Andi.

Andi lantas membuktikan pernyataannya merujuk dari hasi survei internal partai Demokrat 15-30 Oktober. Survei dilakukan di 80 daerah pemilihan yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Setiap dapil melibatkan 600 responden.

Hasilnya, prediksi perolehan kursi DPR paling banyak diperoleh Gerindra. Jauh melampaui parpol pengusung Prabowo-Sandi lainnya.

Andi mengatakan Gerindra diprediksi memperoleh 19 persen kursi di DPR. Berturut-turut, Demokrat 9,7 persen, PAN 4 persen, PKS 3 persen. Partai Berkarya hanya diprediksi memperoleh 0,3 persen.

“PAN dan PKS zona merah. Ini yang kita sebut hanya menguntungkan Gerindra,” tutur Andi.

Merujuk dari hasil survei tersebut, Andi berharap Prabowo dan Sandi berupaya untuk merealisasikan janjinya untuk turut berjuang meningkatkan elektabilitas parpol pengusung.

Prabowo bersama para pimpinan parpol koalisi pengusungnya.Prabowo bersama para pimpinan parpol koalisi pengusungnya. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama) Langkah pertama yang perlu ditempuh yakni menghelat rapat bersama untuk merumuskan petunjuk pelaksanaan kampanye bersama. Petunjuk pelaksanaan kampanye itu harus memuat misi peningkatan elektabilitas parpol pengusung.

Andi mengatakan Susilo Bambang Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono bersedia hadir dalam rapat.

Dia juga mengatakan sikap Demokrat selama ini bukan berarti merongrong Prabowo-Sandi dari dalam. Hal itu justru untuk kepentingan parpol pengusung lainnya.

“Justu Demokrat ini menyuarakan kawan koalisi lainnya. Biar masyarakat jelas. Kalau cuma untuk kepentingan Demokrat, kita sudah aman,” ujar Andi. (cnn/kabarakyat)

Continue Reading

POLITIK

Kala Rakyat Beramai-ramai Dukung Jokowi-KH Ma’ruf Amin

Published

on

By

Jakarta ‐ Calon Wakil Presiden nomor urut 1, Ma’ruf Amin mengaku yakin warga Nahdhatul Ulama (NU) se-DKI Jakarta bakal memberikan dukungan untuk dia dan Joko Widodo di Pilpres 2019.

Hal itu ia katakan usai menerima deklarasi dukungan dari keluarga besar Pengurus Cabang Nahdhlatul Ulama (PCNU) Kepulauan Seribu di kediamannya, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta, Rabu (14/11).

Dia menyebut, dengan dukungan PCNU Kepulauan Seribu maka melengkapi dukungan PCNU di lima wilayah Jakarta lainnya.

“Ya, ini kan sudah berjalan semua, dengan demikian maka sudah 6 wilayah kota di Jakarta para ulama dan warga keluarga NU mendukung kita,” kata Ma’ruf.

Diketahui, dua minggu belakangan ini Ma’ruf terus menerima deklarasi dukungan dari kelompok PCNU Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.

Melihat hal itu, Ma’ruf pun berharap dukungan dari warga NU di luar DKI Jakarta akan terus menyatu dan mengalir agar kemenangan bagi Jokowi dan dirinya semakin mudah.

“Kita ingin meneruskan setelah Jakarta ini mendukung. Kita ingin juga wilayah-wilayah di kabupaten/kota di sekitar Jakarta, seperti Depok Bekasi, Tangsel, Tangerang Kota kita harapkan juga bisa berikan dukungan,” kata mantan Rais Aam PBNU.

Lebih lanjut Ma’ruf meyakini elektabilitas Jokowi dan dirinya bakal terus meningkat usai dukungan dari warga NU Jakarta tersebut.

Sebab, ia meyakini bahwa jumlah warga NU di Jakarta sangat besar dan berpengaruh terhadap peningkatan elektabilitas.

“Potensi NU di Jakarta besar sekali, karena itu kita ingin ada kesadaran itu dan mula tumbuh karena itu trennya elektabilitas kami di Jakarta semakin naik karena adanya deklarasi-deklarasi,” kata dia.

Suara Muhammadiyah dan Millenial

Tak hanya warga NU, Ma’ruf sendiri mengklaim turut mendapatkan dukungan dari warga Muhammadiyah maupun ormas Islam lain di Pilpres 2019 mendatang. Salah satunya, ia menyebut kelompok relawan Garda Matahari yang berafiliasi dengan Muhammadiyah.

“Tadi malam dalam peluncuran buku Arus Baru Ekonomi Indonesa di panitiai oleh kelompok Muhamamdiyah, Garda Matahari. Jadi kami juga sudah memperoleh dukungan dari kalangan Muhammadiyah dan mungkin dari ormas-ormas lain,” kata dia.

Tak hanya itu, Ma’ruf mengaku telah mendapatkan dukungan di Pilpres dari elemen masyarakat lain, seperti kelompok millenial dan kelompok disabilitas.

Ia menyebut timses Jokowi-Ma’ruf sudah menerima berbagai kelompok relawan yang berasal dari kalangan. Mulai dari milenial hingga kaum difabel.

“Milenial juga terus berkembang ada namanya Milenial JKW, ada Remaja KMA, ada Milenial KMA, ada Rumah KMA. Besok tanggal 25 ada juga remaja bahkan difabel juga akan memberikan dukungannya kepada kami,” kata dia.

Itu didukung hasil riset Lingkaran Survei Indonesia Denny JA sepanjang 10-19 Oktober bahwa Jokowi unggul jauh dari Prabowo

Survei LSI Denny JA melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi. Dari para responden, LSI menetapkan daftar ulama paling berpengaruh Abdul Somad, Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Aa Gym, dan terakhir Rizieq Shihab.

Para ulama itu dipilih berdasarkan tiga kriteria yaitu pengenalan, kesukaan, dan mengikuti imbauannya.

Dari hasil survei diketahui 48,7 persen kalangan yang mengikuti imbauan Arifin Ilham cenderung memilih Jokowi-Maruf di Pilpres 2019. Kemudian, 49 persen yang mengikuti imbauan Yusuf Mansur juga memilih Jokowi-Ma’ruf.

Begitu pula pengikut Aa Gym. Mereka yang selama ini mau mengikuti imbauan Aa Gym, 49,2 di antaranya akan memilih Jokowi-Ma’ruf.

“Jokowi-Ma’ruf masih menang di kalangan pemilih yang mendengarkan imbauan ulama,” kata peneliti Ikrama Masloman di kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta, Rabu (14/11).

Sementara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya dipilih pengikut Abdul Somad dan Rizieq Shihab. Sebanyak 54,3 persen pengikut Somad akan memilih Prabowo-Sandi. Sama halnya dengan 63 persen pengikut Rizieq Shihab.

“Prabowo-Sandi unggul di pemilih yang mendengarkan imbauan Ustaz Abdul Somad dan Habib Rizieq Shihab,” ucap Ikrama.

LSI Denny JA juga melakukan survei dengan meminta pendapat responden yang tidak mengenal Abdul Somad, Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Aa Gym, dan Rizieq Shihab. Hasilnya, 69,5 persen responden yang mengenal lima ulama itu cenderung memilih Jokowi-Ma’ruf. Mereka yang akan memilih Prabowo-Sandi hanya 15,5 persen. (cnn/kabarakyat)

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending