Connect with us

PENDIDIKAN

Siswa Korea Tertarik Belajar Tali Glipang

Published

on

Surabaya – Tari Glipang adalah tari tradisional yang memiliki daya tariknya sendiri berasal dari kabupaten Probolinggo. Tari tradisi yang gerakanya sangat sederhana yang unik, yaitu bentuk tarianya sedikit mirip dengan tarian topeng dalang dari Madura ini bahkan menarik minat siswa pertukaran pelajar asal Daejeo Middle/High School Busan Metropolitan City, Korea Selatan.

Para siswa setara siswa SMP ini memilih mempelajari tari Glipang dalam rangkaian kegiatan sister school mereka di SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya (Spemma)

Oh Jua (14) siswa kelas delapan asal Korea mengungkapkan, tari Glipang ini mirip dengan tari K-pop, tari asal korea yang sangat energik.

“Kalau K-pop sangat menarik lantaran gerakanya yang sangat energik dan harus kompak karena bermain secara bersama-sama, kalau tari Glipang ini gerakanya lebih energik lagi dan lebih susah gerakanya kalau dimainkan secra bersama-sama,” kesannya. Jumat, (25/1/2019).

Ia mengaku sangat tertarik dengan berbagai macam budaya di Indonesia. Apalagi jika budaya tersebut hampir mirip dengan yang ada di negaranya. Seperti tari Glipang yang mirip dengan tari di Korea.

Hal serupa diungkapkan Taliyah (13), siswa SMPM 5 Pucang Surabaya yang pernah mengunjungi Korea untuk pertukaran pelajar.

“Kegiatan kami mengunjungi negara satu sama lain sangat menarik, karena menambah wawasan dan interaksi dengan latar belakang budaya yang berbeda,” urainya.

Sebab banyak orang asing yang juga ingin belajar budaya Indonesia. “Malu kalau saya nggak tahu budaya Indonesia, makanya kalau ada pertukaran budaya begini. Saya jadi belajar budaya tradisional yang tidak saya ketahui sebelumnya,” ungkapnya.

Miftakul Choir, guru seni SMPM 5 Pucang Surabaya mengungkapkan, kegiatan pertukaran budaya ini dilakukan selama sembilan hari. Mulai dari belajar bela diri, tarian, musik, bahasa hingga mainan dan makanan tradisional.

“Saat kami kenalkan budaya tari Glipang, mereka sangat antusias sekali sebab gerakan tari glipang ini sangat fariatif dan energik.  Hampir mirip dengan dengan tari K-Pop,” tuturnya.

Selain itu, tari Glipang dipilih karena tarianya sangat rancak. Sehingga cocok dengan budaya masyarakat Korea yang mengutamakan kecepatan dalam bergerak.

“Jadi anak-anak ini diajari komposisi gerakan tari Glipang, bentuk tarian hingga sejarah tarian Glipang,”urainya.

Ia berharap dengan belajar tari Glipang, para pelajar Indonesia-Korea telah belajar sejarah Tarian Asia dan Jawa yang di dalamnya terkandung makna kesatuan satu benua (Asia) dari sisi budaya tarian. Semoga dengan saling tukar budaya kita bangsa indonesia tidak sampai kehilangan identitas bangsa. (ari)

PENDIDIKAN

Ayo Mantapkan Paham Pancasila untuk Hadang Infiltrasi Radikalisme dan Narkoba

Published

on

By

PEMALANG – Politisi Partai Golkar Marlinda Irwanti menggelar Sosialisasi Empat Pilar di SMK Islam Rarungpring, Pemalang, Jawa Tengah (9/2/2019) lalu.

Pada kesempatan itu Marlinda menyampaikan pentingnya seluruh pihak mencegah penyebaran paham radikalisme dan narkoba di lingkungan masing-masing.

“Pencegahan Penyebaran Paham Radikal dan Narkoba , masuk dalam kurikulum,” kata Marlinda pada Sosialisasi Empat Pilar di Pemalang, Jawa Tengah di SMK Islam Warungpring,(7/2/2019) lalu.

Seperti disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir penanggulangan terorisme dan narkoba akan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Terutama dimasukan dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PKK) yang mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017.

“Maka, rencana revisi kurikulum pendidikan, menjadi hal yang penting utk memberikan penguatan pada generasi muda Indonesia agar memiliki karakter yang kuat,” terangnya.

Marlinda berharap SMK Islam Warungpring, Pemalang mampu menjadikan sekolahnya sebagai contoh bagi masyarakat sekitarnya dan kekuatan untuk menjaga NKRI.

Para pemuda merupakan generasi milenial juga rentan terhadap narkoba dan pergaulan bebas. Selain nilai agama, penguatan pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan.

“Pendidikan Pancasila harus dibuat menarik dan mengikuti berkembangan sehingga anak didik mecintai mata pelajaran tersebut. Proxy War atau perang memalui media sosial hanya dapat dibentengi salah satunya adalah penguatan karakter,” pungkas Marlinda.  (HMS)

 

Continue Reading

PENDIDIKAN

Hima PBI Unusida Adakan Lomba Vocal Group dan Story Telling Tingkat SLTA

Published

on

Sidoarjo – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nadhatul Ulama Sidoarjo (Hima PBI Unusida) mengadakan lomba “English Fest”, pertama  yang berisi vocal group dan story telling competition tingkat SMA, MA, SMK, sederajat di LP Ma’arif Sidoarjo.

Moh. Ismail sebagai Ketua Hima atau yang disapa akrab Ismail mengungkapkan bahwa, English Fest pertama ini setiap tahun akan kami adakan di Unusida.

Di English Fest pertama, kami kengambil tema ‘Lets Have Fun With English’, kami mengambil tema ini agar semua orang senang dengan bahasa inggris,” tegasnya.

Terakhir, Ismail mengatakan bahwa, yang juara lomba story tellling adalah MAN Ponorogo, SMAN 1 Sidoarjo, SMAN 1 Krembung Sidoarjo, dan yang juara lomba vocal group adalah SMK Plus NU Sidoarjo, SMKN 2 Malang, dan Madrasah Aliyah Bahaudin Taman Sidoarjo. (ari)

Continue Reading

PENDIDIKAN

Siswa-siswi MA Nurul Huda Diajari Olah Sampah oleh HMTL Unusida

Published

on

Sidoarjo – Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Nadhatul Ulama Sidoarjo (HMTL Unusida) pada Sabtu memberikan pelatihan pengolahan sampah kepada peserta didik Madrasah Aliyah (MA) Nurul Huda, Sedati, Sidoarjo. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari HMTL Goes to School untuk mengajak generasi milenial peduli terhadap sampah dan lingkungan sekitar. Sebanyak 105 peserta didik berpartisipasi dalam kegiatan yang dimulai pukul 09.00 hinga 12.00 WIB tersebut.

M. Afif Mahfudz selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa, kegiatan ini merupakan salah satu wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian masyarakat. Peserta didik dipilih karena mereka potensial menjadi kader penggerak kepedulian lingkungan di masyarakat sekitar. “Generasi milenial memiliki semangat yang tinggi serta kreatifitas untuk melakukan perubahan yang lebih baik,” tutur Afif. Sabtu, (26/1/2019).

Sesi pertama materi disampaikan oleh Tomy Satryo Laksono, yang mengenalkan macam-macam sampah beserta teknik pemilahan dan pengolahannya. Sampah merupakan hasil sisa aktivitas manusia yang kurang memiliki nilai guna. Secara umum, sampah dibagi menjadi anorganik dan organik. Sampah organik ini bisa terurai di alam lebih cepat dibandingkan sampah anorganik yang bahkan memerlukan waktu hingga 100 tahun lebih. 

“Plastik contohnya, sampah yang memerlukan waktu ratusan tahun agar bisa terurai di alam.  Permasalahan sampah kian marak dikarenakan minimnya kesadaran buang sampah pada tempatnya dan minimnya keahlian masyarakat dalam melaksanakan program 3R (reduce, reuse, dan recycle),” lugas Tomy.

Imron Romanza, salah satu anggota (HMTL) kemudian melanjutkan materi sesi kedua. Ia memberikan motivasi pada siswa-siswi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan tinggi bukanlah untuk memamerkan gelar akademik, namun untuk membangun generasi agar lebih baik.

Di sela-sela itu, ia juga menyampaikan bahwa pemuda memiliki potensi besar untuk memimpin masyarakat. Pemuda dapat menjadi kunci keberlanjutan perubahan dengan pemikiran-pemikiran zaman now dengan kecepatan akses informasi dan teknologi. “Jangan minder untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan keterbatasan ekonomi, karena banyak sekali beasiswa yang bisa didapatkan bagi siswa-siswi,” tegas Imron.

Di sesi akhir, Diar Wildan Munandar mengajak siswa/i untuk membuat pupuk bokashi dari sampah daun. Panitia telah menyiapkan alat dan bahan untuk praktikum tersebut. Tujuan praktikum ini agar siswa/i mengerti bagaimana pengolahan sampah yang benar,  tidak hanya sekedar teori namun ditunjang dengan praktisi. 

“Pembuatan pupuk Bokashi dari sampah daun ini menggunakan metode komposting. Proses pembuatannya dengan cara daun dicacah kemudian dicampur dengan EM4, air gula, dan tanah yang kemudian didiamkan selama 3-5 minggu. EM4 sebagai bakteri bertujuan mendekomposisi daun sehingga lebih cepat terurai,” terang Dian. (ari)

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending