Connect with us

OPINI

Waspadai Manuver Politik dengan Modus Hoax

Published

on

Oleh: Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI

Kecenderungan menyebarluaskan berita bohong atau hoax sebagai modus melakukan manuver politik kemungkinan akan berlanjut menuju pelaksanaan agenda pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) tahun ini.

Karena itu, masyarakat dan semua institusi penegak hukum perlu mewaspadai kecenderungan itu.

Setelah hoax tentang tujuh kontainer berisi surat suara Pemilu yang telah tercoblos, tidak tertutup kemungkinan akan muncul hoax lain yang masih berkait dengan persiapan Pilpres dan Pileg 2019, utamanya hoax yang diarahkan untuk mereduksi kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan Pemilu itu sendiri.

Dan, sudah barang tentu hoax lain yang bertendensi mendiskreditkan pemerintah atau calon presiden petahana.

Karena itu, menjadi sangat penting bagi penegak penegak hukum untuk segera dan sigap merespons hoax seperti itu. Respons terukur dari penegak hukum menjadi keharusan agar hoax seperti itu tidak meresahkan masyarakat, dan juga tidak mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Setiap institusi yang menjadi target hoax pun hendaknya memberi reaksi yang cepat, dengan memberi penjelasan terbuka kepada semua elemen masyarakat.

Pimpinan DPR mengapresiasi reaksi cepat yang dilakukan oleh KPU dalam merespons hoax tentang container berisi surat suara yang sudah tercoblos.

Apresiasi juga patut diberikan kepada para petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang langsung merespons hoax bermuatan isu tentang tsunami maupun gempa bumi.

Sementara itu, pimpinan DPR mengimbau masyarakat untuk semakin selektif dan bijaksana dalam menyikapi setiap informasi yang beredar di ruang publik. Setiap hari, ada ratusan bahkan ribuan informasi yang beredar di ruang publik. Pada era sekarang ini, lalu lintas informasi sudah diibaratkkan debu yang bertebaran.

Karena itu, sikapi setiap informasi dengan proporsional sambil berupaya melakukan konfirmasi pada institusi-institusi yang berwenang. []

NASIONAL

Merajalela Politisasi Simbol Dalam Pemilu 2019

Published

on

Surabaya – Riuh ramai pileg (pemilihan legislatif) dan pilpres (pemilihan presiden) semakin kencang dirasakan publik hari-hari ini. Terlebih demokrasi simbolik yang berkembang telah membawa kita ke jurang perpecahan antar warga negara. 

Realitas ini ditandai dengan adanya perluasan arena dan penguatan institusi demokrasi tetapi minus kapasitas demokrasi. Diperparah politisasi simbol / labeling yang diidentikkan kepada pasangan calon tertentu dalam pilpres maupun pileg. 

Dalam narasi demokratisasi Indonesia hari ini telah mampu membangun dan mengembangkan kebebasan sipil ditandai perluasan arena dan ghiroh partisipasi politik publik yang terus meningkat. Akan tetapi, di satu sisi partisipasi publik yang tinggi dalam politik tidak diimbangi dengan perilaku demokrasi yang baik dan kapasitas lembaga demokrasi yang menampung, menyalurkan dan merespon aspirasi publik. 

Implikasinya adalah hak-hak politik dan kebebasan sipil diekspresikan dalam bentuk tindak kekerasan seperti persekusi dan pembubaran sepihak terhadap lawan politik.

Kebebasan sipil dalam berekspresi, mengungkapkan pendapat sejatinya dijamin oleh Undang-undang Dasar. Fenomena labelling atas ekspresi publik kian membuat keruh politik negeri ini. 

Sebagai contoh, salam satu atau dua jari kemudian seakan dimiliki oleh pihak pihak tertentu. Padahal tidak semua simbol yang diekspresikan publik mengarah ke sana. 

Dalam konteks yang lebih luas, perkembangan demokrasi kita pasca reformasi lebih terfokus  kepada penguatan institusi negara tetapi lemah dalam pembangunan kapasitas negara. Ini ditunjukkan dengan banyaknya institusi demokrasi seperti KPU, Bawaslu dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). 

Tetapi tidak diimbangi dengan kapasitas lembaga demokrasi yang baik dan pembangunan perilaku demokrasi dikalangan penyelenggara negara dan masyarakat yang cenderung terabaikan. Dalam kondisi seperti ini tidak salah jika yang sedang kita rasakan adalah “demokrasi simbolik” (struktur dan prosedur). 

Sementara ”yang menggerakkan ”jasad demokrasi” yang terbangun masih sangat kental diisi nilai dan perilaku ”kontra-demokrasi” yang ditunjukkan oleh, antara lain, masih dominannya praktik kekerasan dan politik transaksional. Kondisi seperti ini sangatlah menguntungkan bagi mereka yang berpaham otoritarianisme. 

Kebutuhan mendesak dan harus dipenuhi dalam waktu dekat adalah membangun dan menghadirkan ”keberadaban demokrasi”  di kalangan penyelenggara negara, politisi, dan masyarakat. 

Dengan fondasi kepentingan nasional tidak boleh dikalahkan oleh perbedaan pandangan dalam politik. Semakin dewasa dalam bersikap sebagai warga bangsa yang baik dan taat pada perintah konstitusi. Karena dengan penguatan itulah “ruh demokrasi” akan ditemukan oleh bangsa ini.

Oleh : Andik Setiawan – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya

Continue Reading

NASIONAL

Politik Gagasan Sebagai Diskursus Demokrasi Hari Ini

Published

on

Surabaya – Diskursus politik gagasan merupakan ekspresi atas ketidakpuasan para kaum intelektual dengan keadaan politik hari ini yang menuhankan kekuasaan. Para aktor politik seolah melupakan anugerah dari Tuhan berupa nalar yang sehat untuk menuju pada kebenaran transendental. Akibatnya, politik dalam definisi terburuk hanyalah proses untuk merebut, mengelola, dan mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Black campaign dan “politik adu domba” menjadi pilihan paling logis untuk memikat konstituen. Tentu saja hal ini bukan yang diinginkan oleh para pendiri bangsa yang telah meletakkan fondasi berbangsa dan bernegara dengan mempertandingkan secara intelek gagasan dan konsep yang dimiliki.

Politik gagasan sangat diperlukan mengingat hari ini terjadi surplus kebencian dan minus gagasan karena seorang pemimpin bukan hanya dapat menawarkan janji politik, namun pemimpin perlu mengemukakan jalan pikiran yang brilian. Adu gagasan diperlukan untuk menilai seberapa sanggup dan pantas seorang pemimpin menjadi problem solver. Setidaknya, seorang pemimpin yang berintelektual dapat ditinjau dari rekam jejaknya. Rekam jejak yang baik akan menghasilkan trust dari rakyat kepada pemimpin, sehingga pemimpin tidak hanya dapat menggenggam hati rakyat, namun juga menjadi genggaman hati rakyat. Harapan tersebut tidaklah berlebihan mengingat seorang pemimpin menjadi panutan yang bertanggung jawab atas moralitas publik.

Demokrasi sebagai sebuah sistem politik yang menjamin kebebasan berpikir membutuhkan partisipasi gagasan dari rakyat sebagai tuan dari demokrasi setidaknya dalam memilih pemimpin. Sebab, di pundak pemimpinlah dipikul amanat atas hak politik rakyat sebagaimana Jean Jacques Rousseau menteorisasikan dalam teori kontrak social. Demokrasi akan mengalami kelumpuhan apabila rakyat menolak untuk berpasrtisipasi dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih dari itu, partisipasi intelektual niscaya akan mengantarkan rakyat untuk menjadi pelopor dan penikmat kemajuan peradaban.

Oleh : Bero Santoso *Mahasiswa Jurusan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarga-negaraan (PMP-Kn) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

Continue Reading

OPINI

Jokow dan Pilpres 2019

Published

on

By

Kenapa saya milih jokowi, karena Jokowi anak rakyat

Tukang mebel yang pastinya mengalami pahit getirnya sebagai rakyat, dari usaha mebel sampai sukses bisa ekspor.

Pemimpin yang tidak perlu dibisiki apalagi diajari, karena sudah mengalami dan sangat tahu penderitaan dan kebutuhan rakyat.

Rakyat butuh hidup, penghidupan dan kehidupan yang lebih baik.

Dan untuk mewujudkan itu dibutuhkan perekonomian yang lebih menjamin.

Kesiapan jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, hingga jalan tol, pasar, terminal, bahan bakar, ketersediaan sembako, lahan pekerjaan, dan kecukupan Uang rupiah menjadi prasyarat pergerakan perekonomian rakyat di desa desa.

Pasca pemilu 2014, Presiden Joko Widodo mewujudkannya, yang sesungguhnya isyarat bahkan perintah UU 32 tahun 2004 ttg Pemda dan UU no 39 tahun 2008 tentang Kementrian Negara, substansi sudah disusun seperti itu.

Keberadaan Desa, BPD maupun Bumdes, disertai hubungan pusat dan daerah dalam penanganan urusan pemerintahan dan pembangunan sudah diatur dan disinergikan dalam pasal-pasak kedua UU tersebut

Inilah yg menjadi keyakinan saya Pak Jokowi tdk perlu diajari, buktinya ada.

Sejak 2014 hingga thn 2019. Jokowi meningkatkan terus dana transfer ke daerah, utamanya dana desa, proram PKH, BPNT, E warung, KUR dan masih banyak program sektoral kementrian lainnya yang lebih berorientasi untuk rakyat seperti KIP, KIS.

Mengapa Jokowi, karena dia tukang mebel, sdh mahfum apa yang jadi kebutuhan rakyat.

Hari ini bisa kita saksikan perekonomian rakyat di desa begitu menggeliat, karena uang rupiah tersedia di desa yang dikerjakan oleh rakyat, bukan oleh perusahaan.

Beras rakyat dibeli dan diproses jadi beras premium melalui BPNT. UMKM dibantu melalui KUR yg terus meningkat jumlahnya. Infrastruktur terus dibangun dari sabang sampai merauke , darat, laut dan udara. Membuat semakin efisien dan efektif perekonomian kita.

Ternyata milih pemimpin sederhana, pilihlah Pemimpin yg pernah dan tahu sakitnya jadi Rakyat.

Dengan demikian tidak mengherankan mengapa tekanan perekonomian global, nilai tukar Dolar Amerika yang begitu menekan.

Indonesia tetap aman, karena pondasinya kuat, salah satunya pergerakan ekonomi rakyat di desa desa.

Ke depan bagaimana mensinergikan kekuatan uang di pusat, yang dimiliki para pemodal dengan pergerakan ekonomi rakyat di desa menjadi kekuatan ekonomi nasional yang mampu bersaing bahkan mengendalikan Ekonomi Global.

Jokowi sangat handal, saat ini didampingi para pembantunya yang kompeten, berintegritas, berpihak kepada Rakyat.

Kerja, Kerja dan Kerja,
Itulah Jokowi Presiden kita Semua.

Posko dapil Jabar X
18 februari 2019.

Agun Gunandjar Sudarsa, pembentuk UU Kota Banjar 2002, UU Kab Pangandaran Thn 2012, UU Pemda th 2004, UU Kementrian dan Wantimpres 2008.
UU Keistimewaan Yogya,
UU ASN dan UU Adminitrasi Pemerintahan.

Anggota DPR RI sejak 1997 tidak terputus hingga 2019.

Continue Reading
Advertisement

Kategori

Topik Terkini

Trending