Connect with us

OPINI

Membangun Kualitas SDM Desa di Sulawesi Tenggara: Catatan Kelabu dan Skema Pemulihan SDM

Published

on

Oleh : MOH. FADRIAN FAJAR SAIKSAN.S (Ketua Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi HMI MPO Cabang Kendari)

Membangun desa menjadi salah satu fokus pemerintah di era Jokowi. Slogan membangun Indonesia dari pinggiran, perbatasan dan desa menjadi komitmen Jokowi untuk membangun Indonesia yang berkeadilan. Wujud dari komitmen tersebut terlihat dari alokasi anggaran Dana Desa yang dikucurkan pemerintah sejak tahun 2015. Ini adalah bentuk komitmen Jokowi untuk memajukan desa di Indonesia. Sejak disalurkan pada tahun 2015, Dana Desa telah memberikan dampak positif untuk kemajuan Desa mulai dari menunjang aktivitas masyarakat Desa, meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta menurunkan jumlah penduduk miskin di desa.

Salah satu diantaranya, ada di wilayah provinsi Sulawesi tenggara. angka yang signifikan meningkat pun dialami bagi desa dalam hal kucuran anggaran dana desa dari pemerintah pusat di Sulawesi tenggara senilai Rp 1,653 Miliyar. Tercatat menurut BPS PROVINSI SULAWESI TENGGARA terdapat 1.969 desa yang ada di daerah tersebut dengan sumber penghasilan ialah pada sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar/ eceran/ rumah makan, sektor angkutan, dan sektor jasa. Namun besarnya potensi tersebut belum mampu dikelola dengan baik. Hal ini bisa jadi akibat lemahnya kualitas sumberdaya manusia pengelola kelembagaan desa di Sulawesi tenggara. Oleh karenanya berdampak pada pengelolaan dana desa yang belum maksimal hingga berujung penyalahgunaan Dana Desa yang berimplikasi pada kerugian negara.

Merujuk pemberitaan TopikSultra.com (31/12/2018) dalam kurun waktu Januari 2018 jajaran Polda Sultra menerima 38 aduan kasus korupsi dana desa. Sedangkan pernyataan yang di beritakan oleh Alinea.Id (22/8/2019) ada 67 kepala desa yang mengikuti pemeriksaan atas dugaan tindak pidana korupsi pada tahun 2019 di kabupaten Buton. Artinya bahwa dalam kurun waktu 1 tahun ada gelondongan kepala desa yang terindikasi melakukan penggelapan kucuran dana desa. Tentunya ini merupakan catatan hitam yang senantiasa menghantui pengelolaan Dana Desa dengan berbagai modus praktik korupsi yang mencuat dipublik.

Modus praktik korupsi yang sering dilakukan oleh aparatur desa yaitu menggunakan alokasi dana desa untuk kepentingan pribadi, memanipulasi laporan penggunaan alokasi dana desa, mengalihkan dana desa untuk program lain, dan kepala desa tidak mengalokasikan dana desa untuk kegiatan kemasyarakatan yang seharusnya memang dibiayai oleh dana desa.

Selain itu, berdasarkan Laporan masyarakat tentang Dana Desa yang diadukan ke Ombudsman sebagian besar berkaitan dengan dugaan tidak transparans, mark-up, fiktif, proyek tidak sesuai kebutuhan, tidak sesuai aturan dalam pengelolaan dana desa oleh oknum kepala desa.

Berdasarkan hal tersebut, penyalahgunaan Dana Desa hemat penulis, dipengaruhi pada 2 hal dasar, pertama Kurangnya SDM aparatur perangkat Desa, kedua Lemahnya tata kelola administrasi di Desa.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, saat launching desa anti korupsi, Kepala Desa Kena Kasus Korupsi gegara Ketidaktahuan (kurangnya SDM) dan lemah administrasi (detikNews, 1/12/2021).

Membangun SDM Aparatur Perangkat Desa

Kualitas SDM aparatur desa menjadi indikator utama dalam upaya membangun Desa. Sukses dan tidaknya Pemerintah Desa dalam melakukan tugas dan wewenangnya memerlukan profesionalisme dalam hal kemampuan, keterampilan dan keahlian dalam memberikan layanan publik yang responsif, transparansi, efektif dan efisien.

Kualitas SDM menjadi cerminan potensi diri yang dimiliki aparatur, baik dari aspek kemampuan maupun aspek tingkah laku yang mencakup loyalitas, inovasi, produktivitas. Ini menjadi hal yang esensial karena pemerintahan desa bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat dan memiliki peranan strategis untuk kemajuan Desa.

Pengembangan kapasitas SDM aparatur dapat dilakukan melalui pengadaan pelatihan Aparatur desa dalam menjalankan administrasi desa yang efektif, memerlukan adanya bimbingan teknis yang ditujukan untuk aparatur desa.

Tujuan pelaksanaan bimbingan teknis ini ialah , penyelenggaraan tugas dan kewajiban dalam hal melayani masyarakat dapat dijalankan dengan baik oleh aparatur desa sebagaimana tertuang pada Undang- Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa
pasal 112. Tujuan dilaksanakannya pembinaan administrasi desa ialah untuk memperbaiki sistem administrasi pemerintahan desa yang menyediakan
informasi untuk pemerintah dalam menjalankan aktivitas pembangunan.

Ini menjadi hal ihwal yang perlu dilakukan dalam memaksimalkan besarnya anggaran dana desa yang dikucurkan oleh pemerintah dalam membangun desa yang responsif, transparansi, efektif dan efisien.

OPINI

Kompi Desak Mendagri dan Gubernur untuk segera Menyetujui Rotasi Mutasi di Kabupaten Bekasi

Published

on

Bekasi – Pemerintah Kabupaten Bekasi pasca berhentinya beberapa kepala daerah baik yang tersangkut persoalan hukum, diberhentikan maupun yang meninggal dunia saat ini meninggalkan beberapa persoalan, dan salah satu yang sangat dirasakan adalah ketika kurang lebih 12 kekosongan kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) disetiap dinas baik kepala dinas maupun kepala Badan. Ketua Umum Komite Masyarakat Peduli Indonesia (KOMPI) Ergat Bustomy menjelaskan kepada awak media Rabu (06/4/2022).

“Kekosongan ini akan menimbulkan kurang berjalanya roda pemerintahan disebabkan dengan pengambilan keputusan, dampak itupun akan dirasakan oleh masyarakat terkait pelayanan, baik langsung maupun tidak langsung,” ucap ergat.

Sementara kepala daerah yang sampai detik ini belum bisa mengambil kebijakan dikarenakan jabatan yang melekat terprotek oleh aturan, ini menambah panjang persoalan, karena beberapa pengambilan kebijakan itu harus ada keputusan atau persetujuan dari pemerintah pusat (Mendagri) karena kebijakan tidak bisa diambil sendiri.

Ergat Bustomy Ketua Umum Komite Masyarakat Peduli Indonesia (KOMPI) meminta kepada pemerintah provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari pemerintah pusat seyogyanya mendorong pemerintah pusat Agar  bisa melihat dua persoalan yang sedang dialami  di Bekasi yaitu Plt Bupati yang sampai saat ini belum definitif.

“Kekosongan 12 Jabatan eselon dua yang seharusnya lebih diutamakan karena demi lancarnya berjalanya pemerintahan, situasi dan kondisi yang terjadi saat ini bukan tidak mungkin akan menambah panjang persoalan yang sedang dialami dikabupaten Bekasi” ujar ergat.

Pihak pemerintah provinsi bukan malah gencar mendorong masa berakhirnya Plt Bupati yang sebentar lagi akan berakhir pada tanggal 22 Mei 2022, walaupun emang secara aturan itu harus dilakukan tapai, menurut saya seharusnya pemprov juga lebih mengutamakan kepentingan seperti yang disebutkan tadi, kami berharap antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat (Kemendagri) melek dalam melihat persoalan yang sedang dialami di kabupaten Bekasi, bukan malah persoalan lain lebih dikedepankan, dan jangan lebih mengedepankan ego ketimbang kepentingan khalayak banyak khusunya buat masyarakat kabupaten Bekasi.

” Sebentar lagi kekosongan kepala daerah, dan tentunya itu akan segera diisi oleh ASN yang menjadi persoalan apakah  ASN tersebut akan diambil dari mana, ini juga akan harus menjadi perhatian buat masyarakat kabupaten Bekasi” ujarnya

Kompi sekali lagi mendesak pemprov dan Mendagri untuk mengisi kekosongan kepala Daerah yang nanti akan diisi oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) seharusnya lebih kepada keinginan masyarakat kabupaten Bekasi, minimal yang mengisi itu adalah ASN yang ada dikabupaten Bekasi, supaya lebih memahami situasi dan kondisi serta kultur wilayah Bekasi.
Ini daftar nama-mana eselon dua A yang ada di pemerintahan kabupaten Bekasi yang mungkin bisa dianggap mampu atau layak untuk mengisi kekosongan pimpinan kepala daerah (Penjabat) tgl 22 Mei 2022 yang akan berakhir :

1. dr.   Sri Enny Mainiarti, M.KM
2. Drs. H. Encep Supriati Jaya, M.Si
3. Drs. H. Hudaya, M Si
4. Dra. Hj. Nani Suwarni, MM
5. Drs. Herman Hanapi, M.Si
6. Drs. H. Herman Sujito, M.Si
7. Dr.   H. Carwinda, M.Si
8. Drs. H. Iyan Priyatna, M.Si
9. Drs. H. Hasan Basri, MM
10.Drs.H. Edi Rochyadi, MM
11.Drs.H. Sutiaresmulyawan, M.Si
12.Drs.H. Juhandi, M.Si
13.R. Yana Suyatna, S.IP., M.Si
14.H. Suhup, SH., MM
15.Drs. Iwan Ridwan, M.Si
16.H. Adeng Hudaya, AP, M.Si
17.H. Abdilah, SH., MM
18.Ir. H. Entah Ismanto, SH., MM
19.Drs. H. Abdur Rofiq, M.Si
20.Henri Lincolyn, ST., MM
21.Drs. H. Endin Samsudin, M.Si
22.H. Muchlis, S.Sos., MAP
23.Dra. Hj. Ani Gustini, MM
24.Dodo Hendra Rosika, S.IP., MM
25.Dra. Hj. Ida Farida, M.Si
26.Drs. H. Jaoharul Alam., ME
27.Rahmat, S.STP., MM
28.Drs. Dedy Supriyadi, MM

” Saya meminta kepada DPRD agar Manahan dulu surat dari provinsi Jawa Barat apa lagi menindaklanjutinya ke proses paripurna DPRD sebelum persoalan kekosongan jabatan eselon dipemerintah Kabupaten Bekasi bisa terisi” tutup ergat.

(CP/red)

Continue Reading

OPINI

Dewan Pers Tuai Pro dan Kontra, Perlukah Mandat Penguatan Dewan Pers Dicabut?

Published

on

JAKARTA – Beragam komentar dan pendapat di berbagai grup aplikasi Whatsapp memenuhi kolom komentar di grup WA wartawan se Indonesia terkait pelaksanaan pelatihan asesor kompetensi yang diselenggarakan LSP Pers Indonesia di Jakarta baru-baru ini.

Judul berita menjadi topik hangat yang dibicarakan. Ini menunjukan bahwa dinamika dalam mejalankan profesi itu sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan wartawan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada kecenderungan terjadi polarisasi dalam kehidupan pers di Indonesia. Ada kubu yang dipotret abal-abal dan kubu yang dipotret sebagai wartawan profesional dan kompeten.

Situasi dan kondisi ini terus bergulir sejak tiga tahun terakhir ini. Dan memuncak pada pelaksanaan pelatihan asesor kompetensi yang diikuti puluhan wartawan dari kelompok yang dianggap abal-abal.

Kelompok ini berusaha membuktikan bahwa potret abal-abal yang disematkan selama ini justeru menjadi peluang dan tantangan untuk membenahi kehidupan pers Indonesia ke arah yang lebih baik.

Beberapa wartawan dari kelompok yang dilabel profesional pun ikut juga diajak menjadi peserta pelatihan ini. Bahkan salah satu pesertanya merupakan penguji kompetensi yang berasal dari Dewan Pers.

Sebagian dari peserta pelatihan asesor ini memegang sertifikat Kompetensi Wartawan Utama versi Dewan Pers.

Hal ini cukup membuktikan bahwa praktek sertifikasi kompetensi bidang wartawan yang dilaksanakan selama ini oleh kelompok yang diangap profesional ternyata melanggar aturan perundang-undangan dan berimplikasi pidana.

Penegasan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menjawab persoalan bahwa domain sertifikasi kompetensi ada pada Pendidikan Tinggi berlisensi dan Badan Nasional Sertifkasi Profesi.

Dua lembaga ini yang diberi kewenangan sesuai Undang-Undang tersebut di atas.

Pada pasal 44 UU Pendidikan Tinggi bahkan secara tegas menyebutkan : “Perseorangan, organisasi, atau penyelenggara Pendidikan Tinggi yang tanpa hak dilarang memberikan sertifikat kompetensi.” Artinya aturan ini belaku di seluruh Indonesia bagi semua orang, semua organisasi, dan semua penyelenggara Pendidikan Tinggi yang tanpa hak dilarang memberikan sertifikat kompetensi.

Hukuman atas pelanggaran pasal ini pun tidaklah main-main sebagaimana diatur pada Pasal 93 Undang-Undang ini yakni dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak satu miliar rupiah.

Terlepas dari semua itu, kita menengok sedikit ke belakang, bahwa Indonesia pernah melewati sejarah kelam kemerdekaan pers.

Dewan Pers dan terutama Departemen Penerangan RI yang dianggap membelenggu kemerdekaan pers di era Orde Baru akhirnya tumbang dan dibubarkan.

Tidak ada lagi Depen RI dan Dewan Pers menyusul Undang-Undang pokok Pers era Orde Baru dinyatakan tidak berlaku.

Draft Undang-Undang Pers tahun 1999 kemudian dipersiapkan oleh para pejuang kemerdekaan pers bersama-sama dengan puluhan pimpinan organisasi-organisasi pers, termasuk Ketua Umum SPRI ketika itu dijabat Lexy Rumengan.

Dalam draft asli UU Pers Tahun 1999 itu tadinya tidak ada yang mengatur tentang Dewan Pers.

Menurut pengakuan dua saksi sejarah yang masih hidup, Lexy Rumengan, yang kini berdomisili di Amerika Serikat, dan Hans Kawengian (Ketua Umum KOWAPPI) bahwa saat pembahasan draft UU Pers tersebut berlangsung, Jacob Utama selaku tokoh pers senior, mengusulkan pasal tentang Dewan Pers disisip di tengah-tengah Undang-Undang dengan tujuan agar ada wadah yang bisa mempersatukan seluruh organisasi pers dalam melindungi kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional.

Usulan itu menurut Kawengian dan Rumengan, sempat mendapat penolakan dari beberapa pimpinan organisasi pers karena trauma dengan masa lalu.

Namun karena lobi-lobi yang dilakukan Jacob Utama akhirnya berhasil membuat seluruh peserta menyetujui pasal tentang Dewan Pers dimasukan dalam UU Pers, namun tidak dicantumkan pada Ketentuan Umum Pasal 1 lalu disisip di tengah-tengah Undang-Undang yakni di pasal 15 agar tidak dominan jika ditempatkan di pasal 1 Ketentuan Umum Undang-Undang Pers.

Setelah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers ini disahkan, Dewan Pers yang kemudian terbentuk, lebih banyak diam dan tidak berfungsi.

Organisasi-organisasi pers begitu merdeka dan dominan menjalankan aktifitas pegembangan kemerdekaan pers dan peningkatan kualitas pers nasional secara mandiri dan bertanggung-jawab.

Situasi itu kemudian berubah, ketika pada tahun 2006 Dewan Pers membujuk dan mengajak puluhan pimpinan organisasi pers untuk berkumpul dan membahas konsep tentang penguatan terhadap kelembagaan Dewan Pers melalui kegiatan Lokakarya pada tanggal 13 Agustus 2003 di Jakarta.

Dan pada akhirnya 29 pimpinan organisasi pers membuat pernyataan dan sepakat memberi “hadiah” mandat penguatan kelembagaan terhadap Dewan Pers karena menganggap perlindungan terhadap profesinya bisa ikut terjamin dengan adanya penguatan peran Dewan Pers.

Sesudah itu terbitlah Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 05/SK-DP/111/2006 tentang Penguatan Peran Dewan Pers.

Namun sayangnya penerapan atau implementasi dari penguatan kelembagaan Dewan Pers ini salah diterjemahkan oleh pengurus Dewan Pers di tahun-tahun berikutnya.

Bahkan ketentuan yang disepakati justeru tidak dilaksanakan secara menyuluruh oleh Dewan Pers hingga saat ini.

Ada beberapa poin penting dalam isi penguatan kelembagaan Dewan Pers ini justeru dilanggar oleh Dewan Pers.

Salah satunya adalah pada poin ke 10, Dewan Pers perlu terus mendorong berlakunya pasal-pasal yang mendukung dekriminalisasi terhadap karya jurnalistik atau tidak menganggap pelanggaran hukum dalam karya jurnalistik sebagai kejahatan.

Pada poin ke 10 huruf d, diatur tentang penerapan sanksi perdata terhadap karya jurnalistik dan hendaknya berupa denda proporsional yang tidak menyulitkan kehidupan pihak pembayar atau membangkrutkan perusahaan yang harus membayar denda, karena putusan hukum yang berakibat demikian serupa dengan putusan politik berupa pembredelan terhadap media pers.

Sayangnya poin yang mengatur tentang perlindungan terhadap karya jurnalistik ini tidak dijalankan sesuai mandat dan amanah yang diberikan kepada Dewan Pers.

Contoh kasus yang menghebohkan jagad pers tanah air, Muhamad Yusuf yang bekerja di media Kemajuan Rakyat dan Sinar Pagi Baru, dikriminalisasi akibat berita yang ditulisnya tentang rakyat yang terzolimi oleh perlakuan perusahaan, justeru direkomendasi Dewan Pers untuk diproses dengan ketentuan hukum lain di luar UU Pers.

Almarhum Yusuf pun dikriminalisasi dan ditahan, dan akhirnya tewas dalam tahanan.

Dia harus menerima nasib sebagai wartawan yang berita kontrol sosialnya direkomendasi Dewan Pers sebagai “kejahatan” dan layak diteruskan dengan hukum di luar Undang-Undang Pers.

Pengingkaran terhadap kesepakatan penguatan peran Dewan Pers juga adalah mengenai pembentukan Perwakilan Dewan Pers di berbagai daerah sebagaiamana diatur dalam poin ke 2.

Sampai sekarang nyaris tidak ada perwakilan Dewan Pers di daerah yang terbentuk. Kondisi ini yang menyebabkan semua pihak yang merasa dirugikan atau keberatan atas pemberitaan di media akan lebih memilih melaporkan wartawan atau media ke pihak Polisi jika ada sengketa pers, bukannya ke Dewan Pers.

Hal itu disebabkan akses untuk melaporkan sengketa pers di daerah tidak ada. Karena keberadaan Dewan Pers hanya ada di Jakarta.

Pos pegaduan di daerah tidak ada sama sekali. Akibatnya, kriminalisasi pers makin marak terjadi selang kurun waktu 3 tahun terakhir ini.

Yang lebih aneh lagi, Dewan Pers membuat peraturan tentang Standar Organisasi Pers dan kemudian menentukan sendiri konstituen organsiasi yang dianggap sesuai standar Organisasi Pers yang dibuatnya.

Organisasi-organisasi pers yang dulunya memberi mandat penguatan peran Dewan Pers tidak diakui sebagai konstituen secara sepihak oleh Dewan Pers.

Padahal, tanggung-jawab Dewan Pers untuk melakukan asistensi dan pembinaan agar organisasi pers sesuai standar yang ditetapkan bersama.

Fakta ini telah menjadi sejarah kelam bahwa organisasi-organisasi pers yang memberi mandat kepada Dewan Pers untuk penguatan peran Dewan Pers justeru dikhianati.

Pola penerapan kebijakan Dewan Pers pun terhadap media-media yang marak bermunculan di seluruh penjuru tanah air hampir sama.

Ketika kebijakan Standar Perusahaan Pers diterbitkan, perusahaan pers disuruh mendaftar dan diverifikasi.

Lalu yang tidak punya modal untuk mendaftarkan perusahaanya ke Dewan Pers di Jakarta kemudian dilabeli atau dipotret sebagai perusahaan media abal-abal dan didirikan untuk tujuan memeras.

Tanggung jawab Dewan Pers untuk melakukan pembinaan terhadap kehidupan pers nasional tidak terjadi pada kondisi ini. Dewan Pers malah sibuk memotret media yang belum diverifikasi sebagai media abal-abal.

Trik ini untuk menekan media agar berbondong-bondong mendaftarkan medianya masing-masing demi selembar pengakuan sebagai media terverifikasi kendati amanat UU Pers bentuknya adalah hanya mendata perusahaan pers.

Tapi terjemahannya adalah memverifikasi perusahaan pers. Itu (verifikasi perusahaan pers) menjadi identik dengan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers atau SIUPP di era Orde Baru.

Sejarah kelam kemerdekaan pers itu seolah lahir kembali menjelma menjadi bentuk surat bukti Verifikasi Perusahaan Pers.

Undang-Undang Pers tahun 1999 lahir dengan nafas kebebasan pers agar perusahaan pers bebas didirikan tanpa ada persyaratan tambahan, selain syarat Berbadan Hukum Indonesia.

Itu sejarahnya dan kehendak pelaku sejarah kemerdekaan pers yang berhasil menyederhanakan pendirian perusahaan pers dari trauma SIUPP masalah lalu.

Bahwa memang diakui, penyalahgunaan profesi wartawan dan penyalahgunaan media dengan tujuan memeras atau meneror seseorang terus terjadi di berbagai daerah.

Penulis sepakat hal itu tidak boleh terjadi dan harus dihentikan.

Kemudahan mendirikan perusahaan pers adalah hadiah yang diwariskan pejuang kemerdekaan pers, namun menjadi tanggung jawab kita sekarang ini dalam pelaksananya.

Peningkatan kualitas media harus menjadi tanggung jawab semua pihak, yakni wartawan, perusahaan pers, dan terutama organisasi pers dan Dewan Pers.

Semua wartawan pasti sepakat bahwa pemerasan dan teror terhadap siapapun menggunakan nama media dan profesi wartawan adalah perbuatan pidana dan tidak terpuji, serta melanggar kode etik jurnalistik.

Nah, persoalan lain yakni verifikasi perusahaan pers!!!

Awal mulanya tujuan verifikasi perusahaan pers adalah untuk pendataan dan peningkatan kualitas media.

Namun faktanya, implementasinya sudah bergeser menjadi dokumen persyaratan sebagai bukti legalitas perusahaan pers.

Penerapan kebutuhan verifikasi perusahaan pers bukan bertujuan untuk peningkatan kualitas media, namun lebih pada azas legalitas yang menyerupai perijinan, atau yang tidak mengantonginya akan diangap tidak layak beroperasi.

Faktanya, banyak sekali media terverifikasi DP masih terseok-seok melanjutkan operasionalnya. Bahkan hampir seluruh media di Indonesia, di luar media mainstream, hidup segan mati tak mau.

Media terverifikasi Dewan Pers sekalipun tidak menjamin kualitas dan kehidupan medianya diperjuangkan oleh Dewan Pers.

Pertanyaannya, apakah Dewan Pers menjalankan tugas “Mengembangkan Kemerdekaan Pers” dan “Meningkatkan Kehidupan Pers Nasional” atau hanya sibuk dengan membuat peraturan dan melaksanakan kegiatan rutin yang tidak bermanfaat secara langsung bagi kehidupan pers nasional ?

Kenyataannya, selama Dewan Pers dibentuk kembali pada tahun 1999, perusahaan media harus berjibaku sendiri melaksanakaan upaya meningkatkan kehidupan pers nasional.

Belanja iklan nasional yang mencapai seratus triliunan rupiah lebih setiap tahun dibiarkan saja oleh Dewan Pers untuk dinikmati hanya oleh segelintir konglomerat media.

Dewan Pers justeru sibuk membuat aturan legalisasi kerja sama media dengan pemerintah daerah dengan Surat Edarannya yang ditujukan kepada pemerintah agar kerja sama media dengan pemerintah harus media yang terverifikasi Dewan Pers.

Tidak sedikitpun menyentuh upaya belanja iklan nasional ikut dinikmati media lokal yang jumlahnya mencapai puluhah ribu.

Dewan Pers bukannya sibuk mencari solusi agar belanja iklan bisa terserap atau terdistribusi ke daerah-daerah, justru disibukan dengan menjalankan propaganda negatif terhadap media-media yang belum terverifikasi sebagai media abal-abal dan tidak layak bekerja sama dengan pemerintah.

Tak heran, Kementrian Kominfo dengan leluasanya membuat petunjuk tekhnis bagi Dinas Kominfo se Indonesia agar pemerintah daerah menetapkan salah satu persyaratan kerja sama dengan media wajib perusahaannya terverifikasi Dewan Pers.

Kondisi ini sesungguhnya memalukan dan merusak fungsi sosial kontrol pers terhadap pemerintah.

Dewan Pers dan Kemenkominfo telah dengan sadar dan terang benderang melegalkan media ‘menjual’ idealismenya dengan menetapkan kebijakan yang dianggap sah melalui keberlakuan Peraturan Dewan Pers Nomor 03/Peraturan-DP/X/2019 tentang Standar Perusahaan Pers dalam persyaratan kerja sama media dengan Pemerintah.

Ironis, Tapi ini fakta bukan hoax.

Media lokal terjebak dalam kondisi ini karena tawaran belanja iklan tidak ada. Tidak ada pilihan lain selain “maaf” menjual idealisme pers dengan mengikat kontrak kerja sama dengan pemerintah demi melanjutkan operasional media.

Dewan Pers seharusnya wajib menjaga independensi media dan wartawan agar tidak terkontaminasi kepentingan pemerintah.

Caranya dengan memperjuangkan sumber pemasukan media dari belanja iklan nasional terdsitribusi ke seluruh daerah.

Pada kenyataannya lebih dari 100 triliun rupiah belanja iklan nasional setiap tahun tidak ikut dinikmari media lokal dan hanya dikuasai oleh segelintir konglomerat media yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh jari tangan manusia.

Pada poin ke 5 penguatan peran Dewan Pers , salah satunya diatur tentang standar gaji wartawan dan karyawan pers.

Sayangnya, sampai sekarang tidak ada penetapannya dari Dewan Pers berapa standar gaji yang benar dan layak bagi wartawan.

Wartawan media mainstream sekalipun terbukti digaji pas-pasan tapi Dewan Pers tidak melakukan apa-apa.

Padahal di dalam Pasal 9 UU Pers mengatur kewajiban perusahaan pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau pembagian laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.

Pada prakteknya, masih ada wartawan yang bekerja di media nasional yang penggajiannya berdasarkan jumlah berita yang naik tayang di medianya. Dan fakta umum yang terjadi adalah hampir sebagian besar media lokal tidak menggaji wartawannya.

Apakah ada upaya Dewan Pers mengatasi persoalan-persoalan di atas sebagai langkah mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional ?

Inilah fakta-fakta sesungguhnya bahwa Dewan Pers telah gagal meralisasikan mandat dan amanat serta fungsi yang diberikan oleh ke 29 Organisasi Pers pada tahun 2006 lalu untuk penguatan peran Dewan Pers.

Bisa saja seluruh organisasi pers yang berbadan hukum di Indonesia, baik yang menjadi pelaku pemberi mandat penguatan kepada Dewan Pers, maupun organisasi pers yang ada sekarang dan berbadan hukum, mencabut mandat Penguatan Terhadap Peran Dewan Pers. Namun solusinya bukan seperti itu.

Sebagai wartawan yang memiliki pengalaman dari tingkat paling bawah yaitu reporter, penulis melihat kehidupan pers nasional tidak menuju pada peningkatan sejak Undang-Undang Pers tahun 1999 diberlakukan.

Kemerdekaan Pers Indonesia makin terpuruk. Indeks kemerdekaan pers menurut lembaga riset internasional Reporter Without Borders, bahkan pernah menempatkan Indonesia berada pada level bawah.

Media nasional nyaris tak terlihat dalam melakukan sosial kontrol sampai pada kehidapan masyarakat di level bawah.

Potret kemiskinan rakyat di berbagai daerah masih terjadi namun media seolah diam membisu.

Pemandangan warga hidup di atas gerobak dan di emperan toko, serta di kolong-kolong jembatan masih terjadi di mana-mana. Padahal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 34 berbunyi : “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Media mainstream hanya sibuk dengan konten berita politik pemerintahan yang itu-itu saja.

Informasi tentang pengentasan kemiskinan nyaris tak tersetuh karena tidak menarik dibaca dan ditonton. Negara kaya raya tapi masih banyak rakyat hidup di bawah garis kemiskinan. Negara abai tapi pers diam saja.

Fakir miskin dan anak-anak terlantar belum seluruhnya dipelihara oleh negara.

Pola pengentasan masalah di negara ini pun bak pemadam kebakaran. Ketika ramai diberitakan media, barulah pemerintah turun tangan menangani masalahnya.

Presiden Joko Widodo seolah bekerja sendirian dalam mengatasi persoalan di masyarakat.

Media tidak memberi informasi yang konkrit di level paling bawah agar penguasa jadi tahu penyelesaiannya di level atas.

Padahal rakyat kecil paling butuh nasibnya diekspos agar dilirik pemerintah dan pemangku kepentingan.

Kembali pada persoalan sertifikasi kompetensi yang informasinya bergulir hangat dua hari terakhir ini. Muncul tangapan dan reaksi Dewan Pers, yang bagi penulis sesungguhnya itu menjadi harapan baru bagi masa depan kompetensi wartawan nasional.

Intinya Dewan Pers sudah sepakat pelaksanaan sertifikasi kompetensi diletakan pada jalur yang benar yakni melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Ada hal yang menarik disimak dari klarifikasi Ketua Dewan Pers Muh. Nuh bahwa pengajuan lisensi LSP ke BNSP harus ada rekomendasi dari Dewan Pers.

Di satu sisi informasi ini merupakan angin segar bagi pers tanah air bahwa Ketua Dewan Pers Moh. Nuh sudah mengakui bahwa pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi wajib melalui LSP berlisensi BNSP dan memperoleh Rekomendasi dari Dewan Pers.

Keterangan itu pun harus diuji beradasarkan peraturan Badan Nasional Sertifikasi Profesi menyangkut syarat pendirian LSP dan konfirmasi langsung ke Ketua BNSP.

Sampai hari ini belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Ketua BNSP kepada publik terkait persyaratan LSP di bidang pers.

Dari sistem sertifikasi kompetensi nasional yang berlaku selama ini mengacu pada PP Nomor 10 Tahun 2018 tentang BNSP. Jadi aturan dan perangkat hukumnya jelas.

Apapun keputusan pemerintah wajib hukumnya bagi semua LSP termasuk LSP Pers Indonesia mentaatinya.

Dewan Pers sebagai lembaga independen sebaiknya legowo menerima masukan dan terbuka menerima kenyataan jika melakukan kekeliruan. Tidak perlu marah atau malu.

Kelompok pers yang dilabeli abal-abal pun selama ini tetap menjalankan aktifitas meski dipotret abal-abal.

Nah jika sekarang label abal-abal itu berusaha dilepas, maka kepentingan Dewan Pers sebagai lembaga independen yang didirkan untuk tujuan mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional harusnya berterima kasih bukannya kebakaran jenggot.

Tujuan utama dari pendirian LSP Pers Indonesia adalah untuk meletakan pelaksanaan sertifikasi kompetensi wartawan pada jalur yang benar agar tidak melanggar undang-undang dan berpotensi dipidana.

Publik akan menilai kenegarawan seorang Muhammad Nuh pada persoalan ini. Situasi ini menjadi ujian bagi Muh Nuh dan para anggota Dewan Pers, apakah kompeten sebagai Anggota Dewan Pers atau tidak.

Jika ada kelompok yang selama ini dituding abal-abal dan kemudian membuktikan bahwa apa yang dituduhkan selama ini tidak benar dan justeru membuka mata semua pihak yang selama ini mempraktekan sesuatu yang bertentangan dengan Undang-Undang dan melangar hukum, perlukah dilawan dengan cara-cara yang melanggar kode etik jurnalistik ?

Pada prinsipnya penulis pernah melewati menjadi reporter yang gajinya pas-pasan, sampai berada pada posisi tertinggi di keredaksian yakni pimpinan redaksi di sebuah harian lokal dan televisi lokal.

Lahir dan besar dari keluarga wartawan, menjadi kebanggaan tersendiri.

Penulis membuat gerakan kemerdekaan pers di Jakarta bersama sejumlah pimpinan organisasi pers, kemudian membentuk Dewan Pers Indonesia sebagai wujud implementasi upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan peningkatan kehidupan pers nasional.

Dewan Pers Indonesia berusaha mengisi kekosongan yang ada dengan membentuk Dewan Pers Indonesia Perwakilan Provinsi dengan tujuan agar semua pengaduan masyarakat terkait sengketa pers bisa dilayani di tingkat daerah namun masih terganjal aturan dan sistem.

Selanjutnya, pendataan media terhadap perusahaan pers yang dilakukan Dewan Pers Indonesia bertujuan untuk mempermudah warga negara Indonesia mendirikan media.

Untuk meningkatkan kehidupan pers nasional atau peningkatan kesejahteraan pers, Dewan Pers Indonesia berusaha menyusun Draft APBD tentang belanja iklan nasional agar terdistribusi hingga ke daerah-daerah.

Dan dengan cara ini media lokal akan sejahtera dan kerja sama media dengan pemerintah daerah tidak perlu lagi dilakukan demi menjaga indpendensi pers.

Jika perusahaan pers bisa mendapatkan porsi belanja iklan maka diyakini wartawan makin sejahtera dan independen.

Sumatera Utara menjadi target pertama pembahsan ranperda belanja iklan ini karena Ketua DPRD dan pemeritah setempat memahami potensi ini.

Pilihan dan upaya ini yang sedang dilakukan DPI karena Dewan Pers tidak mampu menjalankan peran itu.

Bicara kemerdekaan pers jika tidak dibarengi dengan upaya menciptakan pendapatan perusahaan maka semua pasti akan sia-sia.

Income perusahaan media sudah pasti sebagian besar diperoleh dari jasa menyediakan sarana promosi produk melalui iklan di media.

Hal inilah yang harus diperjuangkan.

Bukannya DP sibuk urusin kerja sama pemerintah dengan media yang nilainya sangat kecil sekali dan idealisme pers jadi taruhan

Dampak rendahnya kesejahteraan wartawan dari segi kompetensi, misalnya wartawan dengan modal 3 buah sertifikat kompetensi sekalipun jika tidak sejahtera, maka pada gilirannya akan ikut menerima amplop saat menjalankan profesinya.

Jika kompetensi seseorang turut dipengaruhi tingkat kesejahteraan maka tidak bisa tidak, upaya tersebut harus diperjuangkan.

Apalah arti semua wartawan di UKW jika tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan atau kemampuan finasial media dan wartawan, maka ukuran kompetensi wartawannya menjadi tidak berkompeten.

Fakta ril di lapangan ada ratusan wartawan, dan mungkin ada ribuan, yang bersertifikat UKW tapi tidak menerima gaji dari media tempatnya bekerja.

Dewan Pers harus mampu menjelaskan ke publik tentang jaminan kompetensinya apakah bisa terlaksana di lapangan jika kondisi kesejahteraan wartawan dan media masih seperti ini.

Narasumber :
Heintje Mandagie

(CP/red)

Continue Reading

OPINI

BAMBU Foundation Laksanakan Bersih-Bersih Sungai Dalam Rangka Memperingati Hari Air se Dunia

Published

on

Cikarang Barat – Pada Selasa, 22/3/2022 Siang yang cukup terik memanggang kepala. Temperatur ada di kisaran 30-32 derajat celcius. Di sebuah anak sungai Kali malang tepatnya di Kampung Rawapalangan Desa Telaga Murni sekumpulan anak muda terlihat wara wiri sibuk dengan mobil kijang minibus butut menurunkan bibit pohon, cangkul, linggis, Rubber boat, dayung, life guard seta peralatan water resque lainnya.

Saat di konfirmasi rupanya mereka yang tergabung dalam Bambu foundation Save Kali Cikarang sedang mengadakan giat dalan rangka menyambut hari air se Dunia atau World Water Day yang jatuh pada setiap tanggal 22 maret.

Tak lama kemudian, mulai berdatangan anggota TNI dari Koramil setempat, anggota Polsek, Pejabat Dinas Kehutanan Pemprov Jabar, Uptd wilayah 3 Kab. Bekasi bidang pengelolaan sampah ketua RT/RW setempat, Karang taruna Desa Tenaga Murni.

Apel di siang bolong pun digelar dengan apa adanya. Tak ada michrophone dengan sound system terdengar apalagi tenda. “Air Sungai Bersih Untuk Rakyat” adalah tema yang di usung dalam memperingati hari air sedunia tersebut.

Setelah apel selesai lanjut dengan membersihkan bantaran sungai sambil membersihkan sampah plastik. Di waktu yang sama cangkul pun mulai di ayunkan agar 200 pohon yang kami bawa tanam sempurna agar kelak dapat menahan laju sendimentasi dan sebagai pasokan oksigen, peneduh dan fungsi estetika. Di akhir giat perahu karet diturunkan dan digunakan sebagai penampungan sementara sampah plastik yang menyumpal di atas permukaan guna memastikan pasokan debit airnya lancar.

Dalam giat menyambut hari air se dunia Bambu foundation ingin menyampaikan pesan bahwa keberlangsungan hidup kita terletak pada air bersih yang ada di sungai karena cadangan air tanah mempunyai trend semakin menipis akibat eksploitasi besar besaran dari laju Industrialisasi itu sendiri. sedangkan sungai sebagai cadangan air dalam kebutuhan hidup warga banyak tercemar limbah industri dan Das nya yang semakin kritis.

Penulis adalah Ketua Harian #savekalicikarang dan Direktur Kajian Strategis #bambufoundation

Continue Reading

Kategori

Topik Terkini

Trending